Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Pertarungan di Hutan Misteri


__ADS_3

"Biar aku yang mengurus semut ini senior, kau serang saja ketuanya," kata Shin Shui sembari bersiap menyambut serangan yang akan datang.


"Itu yang aku mau. Baiklah Shui'er, semoga berhasil." kata Guiyi. Pria tua itu langsung berlari ke arah Pendekar Bulan Sabit.


Shin Shui sudah mulai bertarung dengan kelima bawahan Pendekar Bulan Sabit, kelimanya menyerang langsung dan mengeroyok Shin Shui.


Tapi pemuda itu bisa menahan serangannya dengan mudah, bahkan dia masih belum serius dalam pertarungannya.


"Lumayan juga, yang tiga Pendekar Surgawi tahap lima dan yang dua Pendekar Dewa tahap pertama." gumam Shin Shui mengamati kekuatan lawannya.


Puluhan jurus sudah dikeluarkan oleh bawahan Pendekar Bulan Sabit, tapi sampai sejauh ini belum ada yang berhasil memojokan Shin Shui. Bahkan pemuda itu belum terluka walau satu cm pun.


"Cihhh … apa hanya segini kemampuan kalian? Aku bingung kenapa pendekar di kota Kayu Besi tidak berani melawan semut seperti kalian ya? Hmmm … sudahlah tak ada gunanya aku memikirkan hal itu. Jika tidak bisa memberikan hiburan, biarkan aku yang memberikannya pada kalian." ucap Shin Shui.


Pemuda itu langsung berbalik menyerang kelima bawaha Pendekar Bulan Sabit dengan tangan kosong.


Shin Shui terus memberikan pukulan dan tendangan beruntun, hingga pada akhirnya dia berhasil mendaratkan pukulan di dada salah satu lawannya.


"Ahhh …"


Satu orang Pendekar Surgawi terpental hingga menabrak dinding goa, selang berapa menit dia tewas dengan dada gosong dan darah segar keluar dari mulut.


"Cihhh … hanya sekali pukul sudah mati. Bahkan tikus dijalanan lebih kuat daripada kalian … hahahaha." Shin Shui mengejek lawannya diiringi suara tawa yang penuh makna.


Melihat rekannya tewas hanya dengan sekali pukul, keempat bawahan Pendekar Bulan Sabit mulai waspada. Ternyata anak muda yang disangka lemah adalah monster yang sedang tertidur.


"Kita harus lebih waspada. Kita serang pemuda itu dengan jurus terkuat yang kita miliki," kata salah satu Pendekar Dewa.


"Baik …" jawab mereka serempak.


Keempat pendekar yang tersisa mulai mengepung Shin Shui, mereka mulai mengeluarkan jurus-jurus andalannya.


"***HIYAAA …"


"YEAHHH …"

__ADS_1


"MATI KAU …"


"TERIMA INI***…"


Jurus keempat pendekar itu menyerang Shin Shui bersamaan dari segala arah, goa terasa seperti bergetar beberapa waktu. Tapi Shin Shui masih terdiam dengan santainya, bahkan dia masih sempat tersenyum.


Jurus keempat pendekar dengan telak menghantam tempat berdiri Shin Shui. Asap mengepul dengan tebal, tapi saat asap itu mulai menghilang keempat pendekar itu kaget bukan main. Ternyata Shin Shui hilang dari pandangan, jurus mereka hanya menghantam tempat kosong.


"Aa-apa? Kemana perginya pemuda itu?" salah satu dari mereka kebingungan karena Shin Shui menghilang.


Tapi belum sempat keterkejutan mereka sirna, mereka dibuat lebih terkejut lagi saat dua buah kepala menggelinding di depan mereka.


"Kalian mencariku? Hehehe …" Shin Shui mendadak muncul di pinggir sebelah kanan mereka dengan sebilah pedang berwarna emas ditangannya dan dibalut warna merah darah dari kedua rekan mereka.


"Ba-bagaimana bisa kau melakukan itu?" salah satu dari kedua pendekar yang tersisa bertambah kaget. Gerakan Shin Shui begitu cepat sehingga tidak terlihat olehnya.


"Tidak usah basa-basi lagi … Tarian Ekor Naga"


"WUSHH …"


Shin Shui menyerang ditengah kekagetan musuhnya. Hanya beberapa menit saja, gerakan pedang yang tajam dari jurus Tarian Ekor Naga berhasil membunuh kedua musuhnya. Mereka tewas dengan dada pecah dan bersimbah darah.


Di sisi lain, pertarungan antara Pendekar Bulan Sabit dan Guiyu tak kalah hebatnya. Mereka sudah bertarung cukup lama, puluhan jurus sudah berlalu. Tapi belum ada yang terluka diantara keduanya.


Pertarungan mereka lebih dahsyat dari Shin Shui, bahkan goa beberapa kali bergetar lebih hebat daripada tadi. Hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk keluar goa dan bertarung di tengah-tengah Hutan Misteri.


"Tidak kusangka kau bisa bertahan sampai sejauh ini tua bangka," kata Pendekar Bulan Sabit kepada Guiyi.


Ucapannya mengandung nada ejekan dan wajahnya menggambarkan rasa ketidakpercayaan, dia sunguh tidak menyangka bahwa Guiyi bisa melawannya sampai sejauh ini.


"Jangan banyak bicara bodoh, buktikan saja bahwa kau memang mampu membunuhku. Jangan bisanya mengaku seorang dewa kepada warga masyarakat saja, sedangkan aslinya kau hanyalah seekor kucing yang berpura-pura menjadi harimau." balas Guiyi sembari memancing amarah Pendekar Bulan Sabit.


"Kauuu … rasakan amarahku ini tua bangka …"


Rencana Guiyi memancing amarah Pendekar Bulan Sabit berhasil, pendekar itu benar-benar naik pitam atas apa yang diucakan oleh Guiyi. Pendekar Bulan Sabit mengeluarkan sebuah cakram bergerigi dari Cincin Ruang.

__ADS_1


Cakram itu mengandung hawa kematian yang pekat, dia segera berlari dan menyerang Guiyi diringi amarah. Gerakannya cepat, setiap ayunan cakramnya menimbulkan cahaya berwarna jingga.


Pendekar Bulan Sabit terus menyerang Guiyi tanpa brhenti, dia terus memberikan serangan beruntun yang mematikan. Hingga pada akhirnya, Guiyi mengalami luka dibagian pundak akibat cakram itu.


"Ughhh …"


Pria tua itu mengeluh menahan sakit, saking tajamnya cakram Pendekar Bulan Sabit, goresan itu bahkan membuat daging Guiyi terlihat. Dengan segera pria tua tersebut menghentikan pendarahan yang mengalir deras.


"Sekarang giliranku …"


Setelah berhasil menghentikan darahnya yang terus keluar, Guiyi berniat membalas serangan Pendekar Bulan Sabit. Tapi sebelum dia mengeluarkan jurusnya, tiba-tiba pria tua itu terkulai lemas tak berdaya.


Tubuhnya perlahan berubah warna menjadi ungu, bau busuk mulai keluar dari tubuhnya. Melihat kejadian ini, Pendekar Bulan Sabit tertawa lantang saking gembiranya.


"Hahaha … ternyata aku salah menilaimu. Baru saja aku mengeluarkan satu jurus tingkat tinggi kau sudah seperti ini, apakah kau tidak menyadari tua bangka. Cakram yang aku gunakan adalah Cakram Pembelah Bumi, salah satu pusaka tingkat tinggi. Hahaha …"


"Ti-tidak mungkin. Aku terkena racun dari cakram itu…" Guiyi semakin lemas, wajahnya sudah pucag pasi.


Tanpa berifikir panjang, Pendekar Bulan Sabit langsung berniat mengakhiri pertempuran dengan Guiyi. Dia tidak ingin membuang waktu terlalu lama, apalagi pendekar itu terkenal dengan sifat tidak suka berbasa-basi, terlebih karena tenaga dalamnya sudah semakin menipis.


Dia mulai memutar-mutar cakramnya, semakin lama semakin cepat hingga akhirnya cakram itu terlihat ada tiga. Pendekar Bulan Sabit langsung melemparnya ke arah Guiyi, laju cakram itu sangat cepat dan sulit diikuti mata.


Tapi saat cakram itu sudah hampir mengenai tubuh Guiyi, sesuatu yang aneh terjadi. Cakram itu mendadak berhenti dan terbelah menjadi dua bagian.


Pendekar Bulan Sabit sangat terkejut saat senjata pusakanya terbelah rapi, dia lebih kaget lagi saat melihat seorang pemuda yanh sedang menggenggam sebilah pedang.


"Berani sekali kau ikut campur urusanku. Apakah seperti ini menandakan bahwa kau aliran putih? Sungguh sesuatu yang hina," maki Pendekar Bulan Sabit kepada Shin Shui.


"Hei pendekar jelek, apakah aku pernah berkata bahwa aku berasal dari aliran putih? Aku hanya melakukan apa yang menurutku harus dilakukan. Tidak usah banyak bicara lagi, kita akhiri pertarungan ini. Kau atau aku yang akan berakhir." kata Shin Shui.



In Shaa Allah jika tidak ada halangan, beberapa hari lagi author akan melaunching novel fantasi bergenre nusantara, semua serba nusantara. Karena banyaknya permintaan dari pembaca, jadi author mencoba membuatnya dengan sedikit pemahaman.


Novel ini dibuat dari imajinasi author dan pengetahuan tentang ilmu silat dan lain sebagainya. Ilmu yang dipakai pun merupakan ilmu yang konon pernah dimiliki para pendekar zaman dahulu. Novel ini juga dibuat dengan bahasa yang mudah dicerna dan difahami.

__ADS_1


Semoga banyak peminatnya ya, jangan lupa dukung dengan like dan vote😁🙏


Kita bangkitkan budaya nusantara✊✊✊


__ADS_2