Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Tangisan Sang Pendekar


__ADS_3

Shin Shui dan Yun Mei sudah tiba di kediaman sang walikota. Dengan segera walikota itu menyuruh para pembantunya untuk segera menyiapkan hidangan yang banyak dan yang enak-enak untuk menjamu tamu kehormatannya yang tak lain adalah Shin Shui dan Yun Mei.


Setelah beberapa saat, para pembantu maupun pelayan sang walikota sudah selesai menyiapkan hidangan. Bau harum mulai tercium memenuhi ruang makan.


Lalu sang walikota mengajak kedua pendekar muda itu ke ruang makan dan segera menyantap hidangan yang sudah disiapkan. Keluarga walikota dan para pelayan pun turut makan bersama untuk merayakan kebahagiaan ini.


Setelah selesai makan, mereka berbincang-bincang sebentar tentang dunia persilatan ataupun keadaan di kekaisaran Wei. Walikota Siam-Yang memang bukanlah seorang pendekar, tapi karena mempunyai banyak kawan pendekar, jadi sedikit banyak dia tahu dan mengerti tentang dunia persilatan.


Hari semakin larut malam saja, acara makan yang diadakan walikota pun sudah selesai. Satu-persatu dari mereka mulai meninggalkan ruang makan. Begitupun dengan Shin Shui dan Yun Mei.


Keduanya lalu pergi ke kamar masing-masing yang sudah disiapkan oleh sang walikota. Mereka ingin segera melakukan istirahat karena merasa lelah sekali. Terlebih lagi Shin Shui.


Akhirnya mereka pun tertidur dengan lelapnya. Bahkan sang walikota tidur dengan senyumannya, dia merasa betapa bahagianya hari ini. Akhirnya rakyatnya bisa bebas dari belenggu ketakutan dan rakyat bisa hidup dengan damai kembali.


Tapi belum juga lama tidur pulas. Tiba-tiba Shin Shui mimpi bertemu dengan kedua orang tua dan gurunya, Lao Yi. Dalam mimpinya, Shin Shui bertemu orang-orang yang dia kasihi dan selalu dirindukan itu disebuah hamparan padang rumput yang indah.


Kedua orang tua dan gurunya tersenyum lembut kepadanya. Pancaran mata ketiga orang itu mengisyaratkan bahwa mereka bangga kepada Shin Shui.


Tidak ada tanda-tanda kesedihan dari kedua orang tuanya karena dahulu tewas dibunuh secara mengenaskan. Yang ada hanyalah tanda kebanggaan sebagai orang tua kepada anaknya. Begitupun Lao Yi, dia tersenyum dengan lembut kepada muridnya itu.


Shin Shui pun membalas senyuman kasih mereka. Bahkan pemuda biru itu tak terasa meneteskan air matanya. Rasa rindu di hati kepada orang tua dan guru pun tumbuh kembali.

__ADS_1


Betapa rindunya dia kepada belaian kedua orang tuanya. Dan betapa rindunya dia kepada kelembutan gurunya yang sudah menjadikan dia sampai seperti sekarang ini.


"Shui'er, terimakasih kau sudah mau untuk mewujudkan cita-citaku, kau berhasil membuatku bangga muridku. Percayalah, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali. Jaga dirimu baik-baik," kata Lao Yi kepada Shin Shui.


Belum sempat dia menjawab, tiba-tiba gurunya menghilang dan lenyap entah kemana. Kini yang ada dihadapannya hanyalah kedua orang tuanya. Shin Shui perlahan mendekati keduanya sambil menangis bahagia.


"Kau sudah tumbuh dewasa dan menjadi pemuda yang gagah Shui'er. Ayah dan ibu tidak menyangka kau bisa menjadi pemuda setampan ini. Maafkan kedua orangtuamu ini nak, maafkan karena kami tidak bisa mendidik dan menyaksikan pertumbuhanmu anakku."


"Kau juga berhasil membuat kami bangga. Tumbuhlah menjadi seorang pendekar yang selalu membela kebenaran nak. Ayah dan ibu hanya bisa menyaksikanmu dari jauh. Jika kau sudah selesai menjalankan tugas dari gurumu, jangan lupa untuk mengunjungi kami. Ayah dan ibu selalu menunggu kedatanganmu disana," ucap ibu Shin Shui sambil tersenyum halus kepada anaknya tersebut.


"Ayah … ibu …" Shin Shui tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa kering, mulutnya terasa tiba-tiba terkunci. Tidak ada kata yang bisa dia ucapkan selain sebuah tangisan. Tangisan seorang anak yang begitu merindukan kedua orang tuanya. Tangisan itu begitu tulus, bahkan Shin Shui pun menangis sambil tersenyum.


"Jangan menangis anakku. Ayah dan ibu tidak pergi. Ayah dan ibu akan selalu ada dihatimu. Kami selalu bersamamu. Selamat tinggal," kata ibunya sambil mengecup kening Shin Shui.


Tiba-tiba Shin Shui pun bangun dari tidurnya. Mimpi itu benar-benar terasa nyata. Bahkan dia benar-benar menangis. Pipinya lengket oleh air matanya sendiri.


Dia langsung merasakan sakit dihatinya ketika mengingat bayangan orang tuanya dibunuh belasan tahun lalu. Ada rasa kesal yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Tapi Shin Shui tidak bisa berbuat lebih. Dia hanya bisa kembali berbaring di tempat tidurnya sambil membayangkan kenangan bersama orang tuanya dahulu. Betapa indahnya kenangan itu saat dia mengingat ayah ibunya mendidik dan menyayangi sepenuh hati dan segenap jiwa.


Air matanya kembali mengalir. Hatinya semakin perih saja. Tapi ada juga kebahagiaan didalamnya ketika melihat orang-orang yang dia kasihi bangga kepadanya.

__ADS_1


Begitulah, jika kita sudah ditinggalkan oleh orang-orang terkasih lalu kita merasa rindu kepadanya. Kadang-kadang mereka akan datang ke dalam mimpi kita.


Meskipun hanya sebatas mimpi, tapi betapa bahagianya yang mengalami hal itu. Orang-orang yang sudah pergi untuk selamanya sebenarnya tidak benar-benar pergi. Mereka akan selalu ada dan selalu hidup.


Dalam hatimu, orang-orang yang kau kasihi akan selalu ada sampai kau menyusul mereka. Dibalik kuat dan kejamnya Shin Shui terhadap musuh, tapi hatinya selalu merasa perih saat ingat orang-orang terkasih.


Malam ini dibawah cahaya rembulan dan disebuah kamar yang gelap, seorang pendekar muda yang mempunyai nama didalam dunia persilatan sedang menangis.


Menangis karena sebuah alasan yang sulit untuk diceritakan. Tidak ada yang bisa menceritakan perasaan itu kecuali mereka yang mengalami nasib yang sama dengannya.


Beruntunglah kalian yang belum ditinggalkan oleh orang-orang yang terkasih. Beruntunglah kalian yang masih bisa hidup bersama orang-orang yang kalian kasihi.


Sesungguhnya, manusia itu memang ada yang begitu kuat jika dari segi fisiknya. Tapi, tidak ada seorangpun yang kuat jika membahas soal hati.


Jika bicara soal hati, tidak ada hati yang kuat. Kecuali menguatkan. Karena hati tempatnya kejujuran, karena hati adalah sesuatu yang begitu rapuh. Karena hati tempatnya sebuah kebenaran bersemayam.


Renungkanlah seluruh bagian ini. Bayangkanlah bahwa kalian yang mengalami hal ini. Jika berhasil, maka kalian akan dapat membayangkan apa yang Shin Shui rasakan itu.


Akhirnya, setelah beberapa saat menangis dalam kesendirian. Pendekar Halilintar itupun bisa tertidur kembali. Tapi sekarang dia tertidur dengan membawa rasa sedih dihati dan juga rasa bangga.


Sang rembulan pun tetap setia menemani pemuda yang dikenal kejam itu dalam kesedihannya sampai pagi menjemput dan membangunkan dia dari tidurnya.

__ADS_1


Suara burung berkicau dengan riang, mentari pagi sudah bersinar terang ke bumi. Seolah mereka ingin menghibur pemuda yang semalaman bersedih hati karena bertemu dengan orang yang dikasihi dan mungkin takkan kembali. Terutama kedua orang tuanya sendiri.


__ADS_2