
Pelayan restoran tidak banyak cakap lagi, dia langsung berlari ke dapur dan menyuruh koki untuk memasak makanan terenak yang dimilikia, seperti yang. dipesan pangeran itu.
Sedangkan sang pangeran dan rombongannya menunggu didepan sambil bercerita bersama anggotanya yang turut ikut.
"Pangeran, apakah nanti kita langsung menyerang dengan tiba-tiba atau bagaimana?" tanya salahseorang diantara mereka kepada pangeran.
"Tentu saja langsung menyerang, dasar bodoh. Kita ini mau menghancurkan sekte Bukit Halilintar, bukan mau bertamu. Dasar payah …" kata pangeran dengan sedikit marah karena mendengar pertanyaan bodoh dari anggotanya.
"Ma-maafkan aku pangeran," kata orang itu sambil sedikit gugup karena takut.
Mereka lalu kembali membahas tentang rencananya jika sudah sampai di sekte Bukit Halilintar. Dimana kedua belas pendekar tersebut akan langsung menyerang dari tiga sisi.
Jika diserang dari tiga sisi seperti itu, maka dipastikan orang-orang sekte Bukit Halilintar akan terpecah karena para tetua dan pendekar tingkat tinggi lainnya akan membagi kekuatan pula.
Dengan kekuatan kedua belas pendekar yang rata-rata mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap lima, maka melawan dua Pendekar Dewa atau pendekar dibawahnya bukanlah hal yang sulit.
Ketika mereka sedang asik membicarakan rencana penyerangan itu, tiba-tiba saja empat orang pelayan restoran memasuki ruang makan.
Masing-masing dari mereka membawa makanan dalam jumlah porsi yang banyak. Tak lupa juga dengan dua belas guci arak terbaiknya.
Tanpa basa-basi lagi, mereka pun lalu makan dengan sangat lahap karena mungkin memang sudah menahan laparnya daritadi. Setelah selesai menyantap makanan, kini kedua belas pendekar sedang menikmati arak yang mereka pesan.
"Ahhh … enak sekali arak ini. Baunya begitu khas …" kata si pangeran memuji.
Setelah semuanya selesai, mereka pun lalu pergi begitu saja. Bayaranya mereka simpan dimeja bekas makannya, terlihat sang pangeran itu memberikan satu kantong kecil yang berisi keping emas.
Agak aneh memang, seorang seperti mereka mau membayar saat makan. Tapi mungkin kepingan emas itu hanya kecil bagi pendekar muda yang disebut pangeran itu, jadi dia mau membayar biaya makannya.
Kini kedua belas pendekar tersebut sudah kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke sekte Bukit Halilintar dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
__ADS_1
Larinya sangat cepat karena memang kepandaiannya pun sudah tinggi. Sehingga hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja, mereka semua sudah tiba didekat sekte Bukit Halilintar.
"Kita bagi tiga sesuai rencana kita. Aku akan memimpin bagian tengah, sisanya menyerang lewat sisi kanan dan kiri," kata si pangeran memberikan perintah.
Kedua belas pendekar itu lalu berpencar menjadi tiga bagian. Dimana setiap bagian diisi oleh masing-masing empat pendekar. Sang pangeran mendapat bagian tengah sekaligus sebagai pemimpin.
Di depan gerbang sekte Bukti Halilintar, terlihat ada empat orang penjaga yang juga merupakan murid dari sekte itu. Ketika melihat ada empat orang mencurigakan, keempat penjaga pun lalu mengambil sikap waspada.
"Siapa kalian?" tanya salahsatu penjaga gerbang.
Tapi belum sempat mereka mengeluarkan pedang dari sarungnya, tiba-tiba sebuah senjata rahasia berbentuk jarum sudah menusuk leher keempat penjaga gerbang tersebut.
Hanya beberapa saat saja, mereka pun lalu tewas dengan tubuh yang sedikit membiru. Jelaslah sudah bahwa jarum tersebut mengandung racun tingkat tinggi.
Sedangkan didalam sekte Bukit Halilintar, saat ini semua orang sedang makan siang dan juga istirahat. Para tetua pun baru selesai makan siang bersama di sebuah ruangan yang agak besar, Yun Mei turut hadir disana.
Tapi tiba-tiba candaan mereka terhenti seketika itu juga setelah merasakan adanya aura pembunuh yang kuat yang berasal dari luar. Kesepuluh tetua pun lalu keluar secara bersamaan.
Ketika kesepuluh tetua sudah diluar, mereka semua dikejutkan dengan banyaknya para murid yang sudah tewas dengan masing-masing kondisi tubuh sedikit membiru.
Mereka lebih dikagetkan lagi ketika dari tiga arah, ada sekitar dua belas pendekar tingkat tinggi yany tiba-tiba menyerang sektenya.
Yashou yang masih bisa tenang, langsung memberi perintah kepada yang lainnya supaya membagi kelompok menjadi tiga bagian.
Bagian tengah diisi oleh Yashou, Yun Mei, dan juga Wu Chai. Sedangkan Hong Liong, ketiga murid Yashou dan tetua lain mendapat bagian di sisi kanan dan kiri.
Karena merasa musuh yang menyerang memiliki kepandaian tinggi, para tetua sekte Bukit Halilintar pun lalu mengeluarkan semua kekuatan mereka secara penuh.
Aura pembunuh sudah terasa memenuhi sekte itu. Para murid dan anggota lainnya bersembunyi didalam sekte karena faham akan bahaya yang kini melanda sektenya.
__ADS_1
Pertarungan antar pendekar tingkat tinggi pun tak dapat dihindari lagi. Kedua belas pendekar yang kini sudah berada didepan semua tetua, langsung menyerang tanpa banyak bicara lagi.
Sekte Bukit Halilintar yang tadinya tentram dan sunyi, kini menjadi ramai dengan teriakan-teriakan para pendekar tersebut.
Adu pukulan dan tendangan sudah terjadi di tiga titik itu, dari setiap sudut sekarang sedang terjadi pertarungan yang seru sekaligus menegangkan.
Udara disana pun terasa sesak akibat semua pendekar yang masing-masing mengeluarkan aura pembunuh untuk menekan lawannya masing-masing.
Hong Liong dan ketiga murid Yashou pun kini bertarung dengan sengit. Mereka semua mengeluarkan seluruh kemampuan untuk mengalahkan lawan.
Tapi sayang, lawan yang kini menyerang sungguh tidak bisa dianggap enteng. Bahkan kekuatannya pun berada diatas mereka semua. Sehingga berbagai jurus berbahaya pun bisa ditangkis dengan cukup mudah.
Baru berjalan sebentar, tapi pertarungan sudah lebih dari lima belas jurus. Karena kesemua pendekar bertarung dengan kecepatan yang sulit dilihat mata biasa.
Kini Hong Liong dan ketiga murid Yashou sudah mengeluarkan pedang mereka masing-masing. Sehingga terjadilah adu senjata yang seru diantara keempatnya.
Ternyata lawan yang mereka hadapi pun memiliki keahlian bermain pedang yang hebat, sehingga pertarungan sengit antar senjata pun kini terjadi.
Masing-masing dari mereka mengayunkan pedangnya dengan ganas, tapi di sisi lain para musuhpun mampu menahan dan menghindari setiap serangan yang datang.
Di sisi lain, para tetua baru sekte Bukit Halilintar kini sedang berusaha untuk mengalahkan lawan. Serangan mereka terlihat begitu cepat dan berbahaya.
Tapi hasilnya sama saja dengan yang didapat oleh Hong Liong dan yang lainnya. Keempat lawannya benar-benar bisa mengimbangi dan menahan semua serangan mereka.
Pukulan demi pukulan sudah dilayangkan, tendangan yang berbahaya pun sudah diberikan, tapi yang ada malah sebaliknya, para tetua itu secara perlahan terdesak oleh serangan balasan yang lebih hebat dari lawannya.
Keempat lawannya menyerang dengan gerakan yang aneh dan mematikan. Masing-masing para pendekar itu memiliki kecepatan tinggi dalam menyerang. Sehingga para tetua sedikit sulit untuk menebak kemana arah serangan lawan.
Hanya berselang beberapa saat saja, keempat tetua sudah benar-benar dipaksa dalam posisi bertahan. Luka dalam akibat pukulan dan tendangan yang diberikan oleh lawan pun sudah nampak ditubuh mereka.
__ADS_1