Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Memalukan …


__ADS_3

Setelah berhasil mengalahkan Sepasang Ular Pemangsa dan para warga pun sudah kembali ke rumahnya masing-masing, kini yang ada disitu hanyalah Shin Shui.


Dia masih merenung tentang manusia yang tega melakukan kejahatan sedemikian rupa, setelah cukup lama termenung pemuda biru itu pun perlahan beranjak dari situ.


Shin Shui lalu kembali ke kedai makan kakek tua, dia hendak menumpang istirahat karena hari sudah terlanjur larut malam. Dengan senang hati sekali kakek tua itu menerima dirinya.


Bahkan kakek tua itu tidak keberatan sama sekali untuk memberikan kamar yang biasa dia tiduri untuk pemuda yang sudah menyelamatkan desanya dari bahaya.


Shin Shui dan kakek tua itu sempat bercakap-cakap barang sebentar, tapi karena merasa dirinya lelah, dia langsung berniat untuk istrahat.


###


Hari sudah pagi, matahari sudah menampakkan dirinya dan menjalankan tugasnya menyinari bumi. Shin Shui pun sudah bangun dari tidurnya, sekarang dia berniat untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, pemuda biru itu lalu ke kedai makan lagi. Ternyata kakek tua itupun sudah disana dan bahkan kedainya sudah buka. Melihat Shin Shui menghampirinya, kakek tua itu lalu menyambutnya.


"Selamat pagi tuan muda. Silahkan duduk dulu, biarkan orang tua ini menyiapkan sarapan pagi untuk tuan muda," ucapnya.


"Terimakasih paman," jawab Shin Shui.


Lalu kakek rua itu pun pergi ke dapur dan membuatkan sarapan untuk Shin Shui. Tak perlu waktu lama, kakek itu sudah datang lagi sambil membawa dua porsi sarapan untuk Shin Shui dan juga dirinya.


Keduanya pun tanpa basa-basi lagi langsung menyantap sarapan itu. Setelah selesai, Shin Shui meminta izin untuk melanjutkan perjalanan kembali.


Memang, tadinya dia berniat untuk mengunjungi rumah kepala desa Teratai Merah, tapi setelah dipikir lagi dia lebih memilih untuk menuliskan surat saja untuknya.

__ADS_1


"Paman, karena aku tidak bisa berkunjung ke rumah kepala desa, aku harap paman tidak keberatan memberikan surat dariku ini," pinta Shin Shui.


"Baik tuan muda, tapi apakah kepala desa itu akan tahu dari siapa surat ini dan akan mengubah sikapnya selama ini?" tanya kakek pemilik kedai kebingungan.


"Paman tenang saja, aku sudah memberitahukan surat ini dari siapa. Kepala desa itu pasti bakal mengubah sikapnya dalam memimpin desa Teratai Merah ini," kata Shin Shui.


Kakek pemilik kedai itu tidak berani membantah lagi. Dia hanya bisa menurut atas apa yang diucapkan oleh pendekar muda itu. Setelah hari agak siang, Shin Shui pun lalu pamit untuk meneruskan perjalanannya.


"Paman, aku pamit undur diri untuk menjalankan tugas yang lainnya," kata Shin Shui.


"Ahhh … baiklah pendekar muda. Hati-hati dalam perjalananmu, jika lewat sini lagi mampirlah ke kedaiku ya, jangan lupa," ucap kakek tua sambil tersenyum ramah.


Shin Shui hanya mengangguk, tak lama kemudian dia langsung pergi menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Hanya beberapa tarikan nafas, pemuda biru itu sudah berada jauh dari kedai makan tadi.


Barulah setelah merasa sudah jauh, Shin Shui kembali mengeluarkan burung phoenix birunya. Sekarang pemuda itu sedang berjalan santai sambil menikmati suasana pedesaan.


Sekarang sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai, nasib kekaisaran Wei sepenuhnya ada pada dia sendiri. Jika sanggup menghentikan era kekacauan maka kekaisaran Wei akan aman, damai dan tenteram. Tapi jika tidak, maka hancurlah sudah impian tentang menciptakan perdamaian.


Saat ini kembali yang dia temui adalah sebuah hutan. Lagi-lagi hutan dan hutan. Tapi hal ini wajar, karena pada zaman ini memang hutan masih banyak dan keasriannya masih terjaga.


Dia terus berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, tapi ketika tiba ditengah hutan, tiba-tiba Shin Shui menghentikan langkahnya karena lagi-lagi dia mendengar akan adanya pertarungan yang melibatkan cukup banyak orang.


Karena menurut pendengarannya, suara senjata yang beradu terdengar berasal lebih dari lima orang pendekar.


"Phoenix biru, tolong kau lihat ada apakah disana dan beritahu aku apa yang terjadi," kata Shin Shui menyuruh phoenix birunya untuk memastikan keadaan.

__ADS_1


"Baik Shui'er …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba burung phoenix biru itu sudah terbang tinggi lalu melesat dengan sangat cepat. Hingga tak perlu waktu lama, burung itu sudah tiba dilokasi kejadian kejadian yang dimaksud oleh Shin Shui.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Shin Shui, disana memang sedang terjadi pertarungan sengit yang melibatkan beberapa pendekar dengan kepandaian tinggi tentunya.


Tapi yang membuat kaget adalah pertarungan itu ternyata melibatkan seorang pendekar wanita yang sedang melawan tujuh orang pendekar yang diduga berasal dari aliran hitam dan berasal dari sekte yang sama.


Dimana pendekar wanita itu memakai pakaian sederhana berwarna hijau muda dengan ikat pinggang kain hijau muda pula sampai berkibar seperti dua ekor ular.


Pendekar wanita itu terlihat sangat cantik dan manis. Umurnya paling baru dua puluh dua tahun, rambutnya dibiarkan merumbai sampai ke tulang ekor. Bola matanya bulat dan hitam. Meskipun kepandaian pendekar wanita itu tinggi, tapi karena melawan tujuh orang sekaligus tentu saja dia merasa terdesak seperti sekarang.


Sedangkan ketujuh musuhnya memakai pakaian dengan warna sama, yaitu warna hitam dengan ikat pinggang merah. Mereka mengeroyok pendekar wanita itu tanpa ampun.


Melihat hal ini, phoenix biru langsung buru-buru kembali ke tempat Shin Shui untuk membantu pendekar wanita yang kini sedang terdesak itu.


Setelah sampai ditempat Shin Shui menunggu, phoenix biru itu pun langsung menceritakan apa yang sudah dia lihat. Dimana ada seorang pendekar wanita cantik yang sedang dikeroyok oleh tujuh orang pendekar pria dari kalangan aliran hitam.


Mendengar penuturan burung phoenix birunya itu, tanpa basa-basi lagi Shin Shui langsung melesat dengan cepat ke tempat dimana terjadinya pertarungan tersebut.


"WUSHH …"


pemuda biru itu langsung terlihat seperti bayangan saking cepatnya. Hingga beberapa tarikan nafas kemudian, Shin Shui sudah tiba dilokasi dan langsung turun tangan ke arena pertarungan sambil menghentakkan tenaga dalamnya sehingga membuat ketujuh pendekar itu terkejut dan terpental satu tombak ke belakang.

__ADS_1


"Memalukan … apakah kalian tidak malu mengeroyok seorang pendekar wanita? Sungguh, yang seperti ini bukanlah sifat pendekar sejati," kata Shin Shui dengan tegas dan tatapan mata tajam.


Hembusan angin yang menerpa pemuda biru itu sampai mengakibatkan jubahnya berkibar, menjadikan dia begitu gagah perkasa bagaikan dewa penolong. Sehingga pendekar wanita yang terdesak tadi pun merasa lega dan senyuman langsung tersungging di bibirnya yang lembut dan mulus.


__ADS_2