
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya bermaksud untuk membunuhmu karena kau terlibat dalam penyerangan terhadap keluarga bangsawan Chen," kata Shin Shui sambil tersenyum mengejek.
"Hahaha … berani betul kau bocah. Setelah mengetahui siapa aku, apakah kau masih ada nyali untuk membunuhku? Atau menyerah saja? Jika menyerah tentulah akan aku maafkan, dengan syarat tinggalkan gadis itu maka kau boleh pergi meninggalkan tempat ini … hahaha," Bei Chi tertawa mengejek kepada Shin Shui dengan lantangnya dan diikuti para tetua lainnya.
Tentu saja Yun Mei geram bukan main. Terlebih Shin Shui, amarahnya sudah memuncak dan bahkan sifat 'gila'nya sudah mulai nampak. Tiba-tiba dia tersenyum dingin lalu tertawa dengan lantangnya.
"Kau mau mengancamku? Hahaha … baik … baik. Aku bisa saja memberikan gadis ini untukmu. Tapi dengan satu syarat …" kata Shin Shui dengan senyum mengejek pula. Tatapan mata dan senyumannya berubah seperti layaknya pembunuh berdarah dingin.
"Hahaha … syarat apa itu pemuda gagah? Selama itu hal wajar tentu saja aku bisa memenuhi syaratmu itu," ucap Bei Chi dengan senang. Senyumannya bagaikan harimau yang melihat mangsa empuk. Lidahnya sudah menjilat-jilat bibirnya.
"Dengan syarat kau bisa membunuhku. Jika tidak bisa membunuhku, maka biarkanlah aku saja yang membunuhmu," kata Shin Shui dengan tegas. Suaranya mengandung wibawa seorang pemimpin besar, meskipun usianya masih muda.
Tentu saja mendengar syarat pemuda biru atau lebih tepatnya kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu, ekspresi wajah Bei Chi langsung berubah menjadi sangat marah.
"Bocah sombong. Lancang sekali kau …" kata Bei Chi dengan marahnya.
"Hahaha … kau tak berani? Kalau tidak berani, jangan pernah harap aku mau memberikan dewi disampingku ini," ucap Shin Shui dengan senyuman mengandung ejekan yang sangat jelas.
"Lancang!!! Rasakan tombak hitamku ini bocah …"
Tanpa basa-basi lagi tetua sekte Siluman itu langsung maju menyerang Shin Shui dengan ganasnya. Dia langsung mengeluarkan tombak hitamnya yang begitu tajam.
__ADS_1
Gerakannya begitu cepat dan ganas. Bahkan tenaga dalam yang dialirkan pun juga besar. Tapi di sisi lain, dengan sigap Shin Shui langsung mengeluarkan Pedang Halilintar miliknya dan bersiap menyambut serangan.
Yun Mei melompat ke pinggir dan burung phoenix birunya sudah bertengger di bahu Yun Mei. Sedangkan Shin Shui kini sudah mulai bertarung dengan Bei Chi cukup sengit.
Keduanya mulai saling serang dan bertahan satu sama lain. Percikan kembang api berpijar pun mulai terlihat dimalam itu.
"TRANGG …"
Kedua senjata pusaka itu beradu dengan kuat. Dan betapa kagetnya Bei Chi saat seluruh tangannya bergetar hebat ketika beradu senjata dengan Shin Shui.
Bei Chi hendak mundur ketika tangannya terasa sakit tersebut. Tapi sayang, tombak hitam miliknya begitu sulit ditarik kembali. Tombak itu seperti menempel pada magnet, terpaksa dia bertahan sekuat tenaga.
Hingga pada akhirnya Shin Shui menendang dada Bei Chi dengan keras disertai tenaga sejati. Tentu saja dia terjengkang cukup jauh, karena pada dasarnya tenaga sejati lebih murni dan lebih dahsyat daripada tenaga dalam.
Dia mulai meringis kesakitan. Tapi buru-buru dia menguasai diri dan maju menyerang kembali. Tapi kali ini dengan jurus tombak yang kuat.
"Tombak Menusuk Mangsa …"
"WUSHH …"
Bei Chi mendadak melesat dengan sangat cepat ke arah Shin Shui dengan memberikan serangan tusukan tombak yang sangat tajam dan ganas pula tentunya.
__ADS_1
Di sisi lain, kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu pun siap menyambutnya. Tentunya dengan mengeluarkan jurus pedang yang lebih kuat lagi.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"WUSHH …"
Kedua jurus senjata tingkat tinggi beradu dengan dahsyat kembali. Bahkan deru angin dan hawa yang tidak karuan pun mulai terasa ditempat itu. Tusukan tombak yang tajam dan serangan pedang yang begitu berbahaya mulai berkelebat dengan cepatnya. Sehingga pertarungan itu terlihat begitu seru.
Tiba-tiba saja Shin Shui mundur beberapa langkah ke belakang dan bersiap untuk menyerang kembali. Tapi gerakannya jauh berbeda dengan tadi. Sekarang menjadi lebih cepat lagi bagaikan kilat dan pedangnya lalu ditaruh didepan dada dengan posisi siap menebas lawan.
"Langkah Kilat … Tebasan Amarah Pedang Halilintar …"
"WUSHH …"
"Ahh …" mati.
Begitu cepatnya serangan Shin Shui sehingga tidak ada yang terlihat bagaimana pemuda itu menyerang Bei Chi. Tahu-tahu Bei Chi sudah ambruk dengan kepala yang menggelinding bahkan sampai ke sisi arena pertandingan tersebut.
Semua orang-orang disana bahkan termasuk jajaran petinggi sekte Siluman begitu tercengangnya menyaksikan kejadian ini. Bei Chi yang sudah mencapai tahapan Pendekar Dewa tahap lima bisa dibunuh dengan beberapa jurus tingkat tinggi saja? Sampai dimana kehebatan pemuda ini?
Tentu saja mereka berpikir demikian karena tidak tahu bahwa jurus pedang yang dia gunakan Shin Shui adalah gabungan dari jurus pedang tingkat tinggi. Tapi dasar sudah dikuasai amarah, bukannya jerih yang ada para tetua itu malah bertambah geramnya kepada Shin Shui.
__ADS_1
###
Nanti Satu lagi ya. Kalau terasa pendek maaf, mungkin karena tak terasa😂bahkan setiap malming saya selalu up lebih dari 3000 kata. Semoga bisa memuaskan kalian🙏