
Matahari sudah mulai tinggi, sebentar lagi akan berada tepat di atas kepala. Saat ini Shin Shui tiba di gerbang pertama kekaisaran. Disana terlihat ada sekitar sepuluh pendekar surgawi tahap empat dan enam yang menjaganya.
"Mohon maaf pendekar muda, ada keperluan apa anda datang kemari? Bisakah aku mengetahui siapa tuan muda?" tanya salah seorang penjaga kepada Shin Shui.
"Aku Shin Shui, aku ingin bertemu dengan Kaisar Wei An," jawab Shin Shui. Dia memuji cara kepemimpinan Wei An yang menjaga ketat wilayahnya. Jelas, bahwa kejadian pertempuran beberapa waktu yang lalu benar-benar dijadikan pelajaran olehnya.
"Maaf tuan muda, bisakah anda memberikan tanda pengenal, atau setidaknya undangan langsung dari Kasiar?" katanya lagi.
Meskipun ada sebagian prajurit
kerajaan tahu bahwa Shin Shui berkontribusi besar dalam pertempuran beberapa waktu lalu dan banyak dikenal khususnya di wilayah istana kekaisaran, tapi bukan tidak mungkin jika masih ada prajurit yang tidak mengetahui siapa dirinya.
"Aku tidak memiliki undangan khusus dari kaisar, aku juga belum membuat tanda pengenal," jawab Shin Shui santai.
Pemida itu berusaha menenangkan diri dan mencari cara untuk bisa masuk ke gerbang selanjutnya. Meskipun membunuh semua pendekar itu bukan hal sulit, tapi Shin Shui juga berfikir bahwa dia tidak mungkin mencari masalah di istana kekaisaran.
Ditengah kebingungannya itu, Shin Shui melihat para penjaga mendadak memberi hormat. Shin Shui sedikit penasaran, akhirnya pemuda itu ikut menengok ke luar gerbang dan ternyata … jendral Gui Huo terlihat akan memasuki gerbang.
Jaraknya sekitar 100 meter lagi dari tempat Shin Shui, jendral Gui Huo terlihat membawa sekitar 50 prajuritnya. Jendral itu memimpin di bagian paling depan dengan menunggangi kuda berwarna hitam.
__ADS_1
Shin Shui turut memberi hormat kepada Jendral Gui Huo. Dia tidak ingin membuat suasana semakin keruh, sesekali pemuda itu menatap muka jendral Gui Huo dengan senyuman.
Tak disangka, jendral itu melihat tatapan dan senyuman Shin Shui. Jaraknya sekarang hanya sekitar 25 meter lagi, sehingga jendral Gui Huo menyadari bahwa ada sepasang mata yang memperhatikannya.
"Siapa pemuda itu. Sepertinya aku kenal." dia berusaha untuk mengingat-ingat pemuda yang menatapnya itu. Tak lama, dia tersentak kaget saat mengetahui siapa pemuda itu.
Buru-buru jendral itu menggebah kudanya supaya berjalan lebih cepat lagi. Setelah mencapai jarak sekitar 10 meter, jendral Gui Huo langsung turun dari kudanya dan berlari ke arah Shin Shui.
Shin Shui masih dalam keadaan membungkuk memberi hormat kepada jendral. Penjaga yang melihat dia berlari ke arah pemuda berpakaian serba biru dengan dalaman hitam itu pun kebingungan. Tapi rasa bingung itu tidak lama setelah jendral Gui Huo mengatakan sesuatu.
"Salam hormat pahlawan muda. Kenapa anda menunggu disini?" tanya jendral Gui Huo kepada Shin Shui.
Mendengar jawaban Shin Shui, wajah jendral Gui Huo sedikit memperlihatkan amarahnya. Dia langsung berbalik ke arah penjaga.
"Kalian … kenapa kalian membiarkan pahlawan muda menunggu? Apa kalian tahu siapa orang yang kalian persulit ini?" nada bicara jendral Gui Huo sedikit tinggi. Dia berusaha menahan amarahnya kepada para penjaga.
"Ampun jendral, kami tidak mengetahuinya. Kalau boleh tahu, memangnya pemuda itu siapa? Apakah dia penting?" tanya seorang penjaga dengan sedikit senyuman sinis melihat ke arah Shun Shui.
"Tutup mulutmu! Jangan sampai aku robek mulutmu itu. Kau tahu … pahlawan muda ini pahlawan kita, dia yang menyelamatkan saat terjadinya pertempuran melawan aliansi aekte Lembah Beracun. Dia Pendekar Halilintar, murid dari sang legenda, Pendekar Guntur," jendral Gui Huo benar tersulut emosi saat ini. Hampir saja tangannya merobek mulut prajurit yang berbicara dengan gegabah.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari jendral Gui Huo, semua para penjaga merasa bagaikan disambar petir. Keringat mendadak mengucur deras membasahi punggung mereka, kaki mereka mendadak gemetaran dan lemas. Mereka semua mengutuk dalam hati atas kebodohannya.
Bagaimana tidak, bahkan kaisar sendiri sangat hormat kepadanya. Walaupun tidak semua orang istana pernah melihat Pendekar Halilintar, tapi semua orang-orang istana bahkan kaisar sendiri memberikan gelar kepahlawanan kepada Pendekar Halilintar itu, atau lebih tepatnya Shin Shui.
Para penjaga itu langsung memberikan hormat, mereka memohon berkali-kali hingga jendral Gui Huo angkat bicara.
Pahlawan muda, maafkan orang tua ini yang tidak menjamu kedatanganmu. Tolong maafkan juga mereka yang tidak tahu akan kehebatan dirimu," jendral Gui Hui berkata sambil hormat.
"Sudahlah jendral, tidak usah dipermasalahkan. Lagi pula aku tidak tahu kalau aku dianggap pahlawan oleh kaisar. Padahal aku hanya membantu sedikit." jawabnya sambil merendah.
Mendengar ucapan Shin Shui, jendral Gui Huo tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa menelan salivanya sendiri.
"Sudah, senior sekalian tidak perlu seperti itu padaku. Baiklah, aku akan memafkan kalian. Asalkan berikan satu telinga, satu jari tangan, dan satu jari kaki." kata Shin Shui berusaha menakuti mereka.
Para penjaga itu mendadak benar-benar lemas sekarang. Rasanya, untuk berdiri pun sangat sulit karena saking lemasnya. Wajah mereka mendadak pucat, keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya saat Shin Shui berkata demikian.
"Hahaha … aku hanya bercanda saja senior. Sudahlah tidak usah terlalu formal padaku. Aku hanya pendekar biasa." kata Shin Shui sembari tertawa karena niatnya untuk menakuti mereka berhasil.
Mendengar jawaban bahwa Shin Shui bercanda, akhirya mereka bisa bernafas lega. Ada sedikit rasa kesal dihati mereka, tapi mereka tidak mau melakukan hal bodoh lagi.
__ADS_1