Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Apapun Yang Terjadi, Aku Harus Bisa Melakukannya


__ADS_3

"Hanya itu cara satu-satunya kaisar. Kita harus mengumpulkan para kepala tetua sekte aliran putih. Terutama sekte kelas menengah yang jauh dari ibukota. Aku yakin demi kedamaian kekaisaran Wei semuanya pasti mau diajak bergabung," kata Yashou angkat bicara.


"Benar apa yang dikatakan tetua Yashou kaisar. Kita harus bergeral lebih cepat daripada mereka, aku akan berada pada barisan paling depan jika perang besar terjadi nanti. Bahkan sebentar lagi aku juga akan melakukan pengembaraan kembali, aku akan menumpas kejahatan di negeri ini. Entah itu dengan cara menyerang ke sekte-sekte kecil menangah ataupun melawannya satu-persatu," kata Shin Shui dengan mantap.


Ketika berucap demikian matanya memancarkan sinar bahwa jiwa pendekar sejatinya sudah membara. Apapun yang terjadi, dia harus bisa menumpas kejahatan dan menciptakan perdamaian. Cita-cita gurunya akan selalu dia ingat.


Dia akan menumpas kejahatan tanpa rasa dendam. Melainkan rasa kewajiban sebagai seorang pendekar sejati yang harus menciptkan perdamaian. Yang kuat harus melindungi yang lemah. Yang lemah harus mendukung yang kuat.


Jika semuanya sudah kompak saling dukung, maka bukan tidak mungkin perdamaian akan terwujud. Meskipun kedamaian di dunia hanyalah mimpi semu yang takkan pernah terjadi. Tapi setidaknya kejahatan yang besar bisa diminimalisir.


Karena selama ada kebaikan pasti akan ada kejahatan. Selama ada kebahagiaan pasti akan ada kesedihan. Inilah kehidupan. Kehidupan yang semuanya sudah diciptakan saling berpasangan.


Jika tidak saling berpasangan, maka hilanglah keseimbangan. Jika sudah hilang keseimbangan, maka rusaklah kehidupan. Kenyataan ini akan terus berlangsung hingga datangnya kematian. Dimana setiap ada kematian maka akan ada juga kelahiran.


Cukup lama juga para petinggi itu melakukan dapat yang sangat penting tersebut. Setelah hari sudah menujukkan malam, satu-persatu dari mereka pun mulai pergi meninggalkan ruangan itu untuk berisitirahat.


Kaisar dan yang lainnya pun sudah beristirahat. Mereka berencana untuk menginap di sekte Bukit Halilintar beberapa hari lagi. Perjalanan yang jauh sungguh membuat mereka merasa kelelahan.


Kini yang ada disana hanyalah Yashou, Shin Shui, dan juga Yun Mei. Mereka tidak ikut berangjak untuk beristirahat seperti yang lainnya. Seperti biasa, ketiganya selalu bicara ringan untuk mengisi waktu kosong mereka.


"Kepala tetua -," belum sempat Yashou bicara lebih lanjut, tapi Shin Shui segera memotongnya.

__ADS_1


"Jangan panggil aku kepala tetua jika dalam keadaan seperti ini. Panggil aku seperti biasa saja senior. Sungguh, terkadang aku merasa risih dengan panggilan kepala tetua," kata Shin Shui lalu menyeruput teh hijau yang sudah dingin karena sudah sejak tadi sore.


"Baiklah-baiklah. Maafkan aku Shui'er, tadi kau bilang akan melanjutkan pengembaraan lagi? Kapan kau akan memulainya? Lalu siapa yang akan menjadi kepala tetua disini? Apakah kau akan kembali lagi?" tanya Yashou sedikit khawatir karena tadi Shin Shui bicara akan mengembara kembali.


"Benar senior. Aku akan melakukan pengembaraan lagi, bagaimana pun juga tugas utamaku adalah sesuai yang diperintahkan oleh guru beberapa tahun lalu. Aku harus meneruskan perjuangannya untuk menciptakan perdamaian, apapun yang terjadi aku harus bisa melakukannya. Masalah sekte ini aku serahkan semuanya kepadamu senior, kau yang akan menjadi kepala tetua. Aku akan pergi mengembara bersama Memei. Mungkin dua bulan lagi aku akan memulai pengembaraan itu," kata Shin Shui menjelaskan tujuannya.


"Mei'er, apakah benar apa yang dikatakan Shui'er? Kau akan ikut dengannya?" tanya Yashou kepada Yun Mei.


"Benar senior. Aku akan ikut bersama Shushi. Aku akan menemaninya kemanapun dia melangkah pergi. Setidaknya aku yakin tidak akan menjadi beban, terlebih sekarang aku sudah berhasil menguasai semua ajaran Kitab Tarian Dewi Pedang," jawab Yun Mei.


"Haishh … baiklah. Jangan lupa kembali kesini lagi jika tugas kalian sudah selesai. Tempat ini adalah rumah bagi kalian semua, aku sudah menganggap kalian adalah cucuku, penerusku. Karena itu, jika kau berkenan, aku akan mewariskan semua jurus dan ilmu silat Belalang Sembah kepadamu Mei'er. Apakah kau bersedia?" tanya Yashou.


Sebenarnya Yashou berat untuk mengizinkan kedua muda mudi itu melakukan pengembaraan lagi. Tapi mau bagaimana? Setiap orang selalu mempunyai tujuan hidup masing-masing. Tidak ada yang bisa melarangnya karena itu hak diri sendiri.


Karena hal itulah Yashou mau tidak mau mengizinkan keduanya untuk pergi. Alasan karena dia menganggap keduanya sebagai cucu tentu saja karena dia tidak pernah menikah. Karena hal itu pula lah Yashou akan mewariskan semua jurus dan ilmu silat Belalang Sembahnya kepada Yun Mei.


Sedangkan Shin Shui sendiri, dia sudah tahu bagaimana mengerikannya pemuda itu. Bahkan dia yakin jika bertarung dengan Shin Shui yang sekarang dirinya tidak akan menang. Mungkin minimal imbang.


Keduanya terus bicara hingga hari mulai larut malam. Karena merasa ngantuk, ketiganya memutuskan untuk membubarkan diri dan berniat segera kembali ke ruangannya masing-masing untuk segera beristirahat.


"Selamat malam senior," kata Shin Shui dan Yun Mei serempak.

__ADS_1


"Selamat malam kembali anak-anak." jawabnya sembari melangkahkan kaki.


Shin Shui dan Yun Mei pun segera meninggalkan tempat itu. Mereka mulai berjalan kembali bersama seperti hari lalu sembari menikmati syahdunya malam ini.


Shin Shui memilih untuk mengantarkan Yun Mei kembali ke tempatnya terlebih dahulu. Jarak tempat Shin Shui dan Yun Mei tidaklah terlalu jauh, mungkin hanya berjarak sekitar dua puluh meter saja.


"Selamat malam Memei. Sampai jumpa besok," kata Shin Shui setelah tiba didepan tempat Yun Mei.


"Selamat malam kembali Shushi," jawabnya dengan tersenyum manis.


Tapi meskipun Shin Shui sudah mengucapkan kata selamat malam padanya, gadis itu tidak segera beranjak masuk. Dia masih tetap berdiri didepannya.


"Kenapa kau masih belum masuk Memei?" tanya Shin Shui sedikit kebingungan.


Gadis itu tidak berkata. Dia hanya memegangi keningnya sembari tersenyum lembut penuh kemanjaan. Shin Shui awalnya tidak faham dengan apa yang dimaksud Yun Mei. Tapi setelah gadis itu terus memegangi kening sembari memonyongkan bibirnya, pemuda itu pun faham.


Dia segera mencium lembut kening gadis cantik itu sembari membelai lembut rambutnya. Tentu saja gadis itu langsung merasa melayang, pipinya langsung memerah saat itu juga.


"Dasar manja, aku pamit dulu. Selamat malam." kata Shin Shui sembari mencubit pelan hidung Yun Mei.


Setelah keinginannya terpenuhi, tanpa berlama-lama lagi gadis cantik itu segera memasuki tempatnya dengan sangat senang, bahkan ketika sudah didalam pun dia masih senyum-senyum sendiri. Shin Shui pun segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Malam yang syahdu memberikan udara dingin menusuk tulang, ditambah indahnya cahaya bulan purnama malam ini. Menjadi saksi akan romantisnya kedua pasangan yang serasi tersebut.


__ADS_2