Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Jangan Lari Dulu, Aku Belum Serius Tadi


__ADS_3

Dia langsung menyerang Shin Shui dengan jurus-jurus silat tingkat tingginya. Gerakannya begitu cepat dan sukar dilihat mata. Serangannya bahkan selalu mengincar jantung Shin Shui.


Tjie Ai mundur satu tombak, dia lalu mencabut sebuah pedang dengan gagang warna kuning berhiaskan tiga Bintang. Bahkan pedang itu pun sesekali mengeluarkan cahaya yang membawa aura tersendiri.


Tjie Ai kini sudah memegangi pedang pusakanya. Pedang itu dia taruh didepan dada. Kaki kananya ditekuk ke depan, kaki kirinya ditarik ke belakang. Deru angin mulai menerpa tubuhnya yang berotot itu. Matanya berkilat menunjukkan emosi yang begitu menggebu.


"Mari kita bertarung sampai titik darah penghabisan bocah. Akan aku balas kematian saudaraku ini …" kata Tjie Ai dengan suara yang terdengar berat.


Saat mengingat saudaranya, tubuhnya pasti selalu bergetar. Apalagi ketika mengingat kejadian saat kepalanya menggelinding ke arahnya. Ah, sudahlah. Terlalu seram untuk dibayangkan.


Kini Tjie Ai sudah siap untuk menyerang Shin Shui kembali. Tapi sepertinya dengan jurus yang lebih kuat daripada tadi, terlihat dari tubuhnya mulai mengeluarkan aura kegelapan yang cukup kuat.


"Mati kau bocah … Tarian Pedang Bintang-Rasi Bintang Sang Gagak"


"WUSHH …"


Dia melesat dengan sangat cepat ke arah Shin Shui. Gerakannya benar-benar sukar dilihat karena saking cepatnya. Tjie Ai seperti memutari Shin Shui, entah apa yang akan dia lakukan. Shin Shui pun belum bisa mengetahuinya.


Pemuda biru itu selalu mengambil sikap waspada. Matanya mulai memandang berkeliling memperhatikan. Tiba-tiba saja, sebuah serangan menusuk datang dari arah samping kananya.


"Ughhh …"


Shin Shui langsung mengayunkan Pedang Halilintar dan berniat menghalau serangan yang datang secara tiba-tiba tersebut. Untung saja pemuda itu menahannya dengan tepat waktu.


"TRANGG …"


Dua buah pusaka beradu hingga menimbulkan percikan kembang api karena saking keras dan besarnya tenaga dalam yang mereka pakai untuk saling melukai. Shin Shui langsung menyentakkan Pedang Halilintar ke atas lalu menendang dada Tjie Ai hingga terpental sekitar satu tombak ke belakang.


"Hanya segini? Kau tidak ada bedanya dengan saudaramu itu. Lebih baik pergi jauh-jauh dari sini sekarang juga!" ucap Shin Shui memberikan perintah kepada Tjie Ai supaya berlalu pergi.

__ADS_1


"Cuihhh …" Tjie Ai meludah ke tanah. "Apa kau pikir aku sangat lemah? Asal kau tahu saja bodoh, aku lebih hebat daripada saudaraku," kata Tjie Ai dengan bangganya.


"Hahahah … tetap saja aku lebih hebat daripada kalian berdua. Hahaha …" ejek Shin Shui dengan arogan.


"Kauuu …" Tjie Ai mendadak geram kembali. Dengan segera dia menyerang Shin Shui menggunakan Pedang Bintang miliknya.


Tjie Ai mengayunkan Pedang Bintangnya kesana kemari. Setiap ayunannya selalu menimbulkan cahaya berwarna kuning yang menyilaukan mata. Tapi dengan sigap juga Shin Shui bisa menahannya, meskipun kadang sembari memejamkan matanya.


"TRANGG …"


"TRANGG …"


Percikan kembang api terlihat berterbangan tiada hentinya. Angin pun berderu dengan cukup kencang disekitar mereka. Shin Shui terus menyerang dengan cara menusuk Tjie Ai ke bagian dadanya.


Ternyata cukup lincah juga si Tjie Ai itu. Dia masih bisa menghindar meskipun serangan Shin Shui sudah sedemikian cepatnya pun. Tjie Ai mundur dua tombak ke belakang. Bukan untuk kabur, tapi untuk mengeluarkan jurus kegelapan miliknya.


"Sang Bintang Membakar Bumi …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba saja langit kendadak gelap seperti mendung. Deru angin mulai kencang hingga mengakibatkan pohon-pohon kecil tumbang dan tercabut dari akarnya. Entah apa yang sedang terjadi, tapi rasanya ini begitu mengerikan.


Dari langit mendadak terlihat ada sinar cahaya yang begitu terang benderang berwarna kuning seperti ingin menghantam bumi. Lajunya sangat cepat sekali, hanya beberapa saat saja sinar cahaya itu sudah hampir jatuh tepat dimana Shin Shui berdiri. Sinar bercahaya itu ternyata bentuknya mirip dengan bintang. Tapi ini jauh lebih kecil, namun sangat berbahaya.


Di sisi lain, pemuda biru itu masih tetap berdiri dengan tenangnya. Hawa panas mulai terasa disekitar tempat itu. Semakin dekat, semakin dekat, dan …


"DUARR …"


Ledakan yang teramat besar pun tercipta dibarengi dengan cahaya yang amat terang. Pohon-pohon besar doyong, sebagian dahan ada yang patah karena ledakan tersebut. Yun Mei yang melihat kejadian ini tentu saja panik.

__ADS_1


Jelas-jelas dia melihat bahwa Shin Shui dijatuhi benda besar yang mirip seperti bintang. Dia sudah berfikir bahwa Shin Shui tewas terbunuh.


"Hahaha … lihat gadis cantik. Suamimu sudah tewas dengan cara mengenaskan olehku. Dia terpanggang oleh jurus andalanku dan mati bersama kesombongannya … hahaha," Tjie Ai tertawa dengan lantangnya.


Tjie Ai pun begitu gembira saat jurus andalannya dianggap berhasil membunuh musuhnya. Dendam nyawa dibalas nyawa. Lega sudah hatinya ketika kematian saudara tunggalnya sudah terbayarkan. Dia hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. Tapi sebelum dia pergi, tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya.


"Kau mau kemana bodoh? Mana mungkin aku bisa tewas hanya dengan jurus rendahan seperti ini. Rasanya bahkan begitu menggelikan, hahaha …" kata Shin Shui yang tiba-tiba keluar dari sebuah lubang besar akibat ledakan tadi.


Tjie Ai seketika itu juga langsung menghentikan langkahnya. Dia berbalik ke arah datangnya suara itu, dan betapa terkejutnya saat Tjie Ai melihat Shin Shui yang sekarang.


"Ti-tidak mungkin … bagaimana dia bisa selamat dari jurus Sang Bintang Menghantam Bumi? Bahkan selama ini aku belum pernah gagal meskipun memakai jurus itu untuk menyerang musuh yang pelatihannya diatasku sekalipun," ucapnya dengan nada ketidakpercayaan. Kakinya langsung terasa begitu lemas, keringat mulai mengucur membasahi tubuhnya.


Shin Shui mulai berjalan dengan perlahan. Tubuhnya bersih tanpa luka sedikitpun, hanya pakaian luarnya saja yang mengalami robekan. Tentu saja semua ini karena dia langsung mengaktifkan kekuatan Zubah Perang Halilintar miliknya. Sekarang zubah itu tampak mengeluarkan cahaya biru terang.


"Jangan lari dulu. Aku belum serius tadi … hahaha," Shin Shui tertawa lantang. Suaranya bagaikan hantu bagi Tjie Ai. Bahkan saat melihat Shin Shui tidak mengalami luka sedikitpun, dia bahkan tidak percaya jika pemuda itu manusia.


"Ka-kau … bagaimana bisa kau bertahan dari jurus Sang Bintang Menghantam Bumi milikku? Sebelumnya tidak ada yang bisa bertahan dari jurus itu," Tjie Ai dengan bibir sedikit bergetar. Wajahnya langsung pucat pasi bagikan mayat.


"Percuma saja aku memberitahumu. Sekarang, terimalah kematianmu. Pergilah bersama saudaramu itu …" kata Shin Shui.


Pedang Halilintar yang dia pegang langsung mengeluarkan kilatan yang lebih besar lagi.


"Langkah Kilat … Tebasan Halilintar …"


"WUSHH…"


Rasanya, belum juga Tjie Ai selesai menarik nafas. Tiba-tiba saja Shin Shui sudah berada didepannya dan segera menebaskan Pedang Halilintar ke lehernya.


"Ahhh …"

__ADS_1


__ADS_2