Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Pertarungan Sengit


__ADS_3

"Kau … berani sekali kau membunuh tetua sekte Siluman …" kata Tiauw Pang dengan sangat marah.


Di sisi lain, para murid sekte Siluman pun sama kesalnya kepada Shin Shui. Tapi apa daya, sebelum maju untuk menyerang pun kesemua murid sekte Siluman sudah dilanda rasa takut terlebih dahulu setelah tahu bagaimana tetua mereka tewas.


Hanya dengan kematian Bei Chi saja pun sebenarnya ini sudah membuktikan bahwa kekuatan Shin Shui berada diatas tetua sekte Siluman itu sendiri jika melakukan pertarungan satu lawan satu.


Maka tidak ada cara lain lagi kecuali dengan cara mengeroyok. Benar, hanya itu cata satu-satunya meskipun kemenangannya tipis.


"Rasakan ini anak muda …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba saja keempat kepala tetua langsung melesat dengan cepat ke arah Shin Shui dan Yun Mei bersamaan dengan memuncaknya amarah mereka semua.


Tiga ke arah Shin Shui, sedangkan satu lagi ke arah Yun Mei. Dan cukup mengejutkan, ternyata tetua yang menyerang Shin Shui berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap lima akhir, sedangkan kepala tetuanya sendiri Pendekar Dewa tahap enam akhir pula. Tentu saja ini merepotkan juga bagi Shin Shui.


Bahkan pemuda biru itu juga harus berjuang keras untuk bisa menang, meskipun disamping iru kekuatannya memang mengerikan. Tapi kemungkinan kepala tetua itu juga sama seperti dirinya, apalagi aliran hitam. Bukan suatu hal yang aneh jika mereka bisa mengeluarkan ilmu kegelapan.


Sedangkan yang menyerang Yun Mei untungnya hanya berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap lima menengah, tapi ini juga bukan perkara mudah. Bukan tidak mungkin bahwa gadis itu bisa dikalahkan tetua tersebut.


Kini kedua pendekar muda itu sudah memulai pertarungannya dengan sangat sengit. Bahkan para murid sekte Siluman pun begitu kagetnya ketika dua pendekar muda bisa mengimbangi kekuatan tetua mereka.


Bahkan sepertinya para murid itu begitu menikmati pertandingan yang seru untuk ditonton ini. Sorak sorai pun mulai terdengar bersahutan tanpa sadar, begitu semangatnya mereka menyaksikan pertarungan ini.


Shin Shui mulai menahan dan menangkis tiga serangan yang datang sekaligus. Betapa terkejutnya pemuda biru itu ketika Pedang Halilintar miliknya beradu dengan ketiga senjata para petinggi sekte Siluman itu.


Tangannya terasa begitu bergetar dengan hebatnya. Untung saja dia buru-buru menyalurkan tenaga sejatinya sehingga dia bisa menahan semua serangan itu.

__ADS_1


"TRANGG …"


Keempat senjata pusaka yang beradu itu terpental diikuti dengan masing-masing tubuh keempat pendekar. Mungkin karena senjata itu sudah tidak mampu lagi menahan tenaga dalam yang disalurkan lagi.


Tanpa jeda yang lama, kedua tetua dengan satu kepala tetua sekte Siluman itu sudah menyerang Shin Shui lagi dengan ganas bagaikan serigala yang kelaparan. Mereka seperti berlomba-lomba untuk bisa melukai Shin Shui.


"Putaran Pedang Halilintar …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba Shin Shui mengubah gerakannya, kini kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu tidak membalas serangan sedikitpun, dia lebih berada pada posisi bertahan dengan cara memutarkan Pedang Halilintarnya dengan kuat-kuat.


Cukup lama juga Pendekar Halilintar itu bertahan dalam posisi demikian. Lama kelamaan ternyata para petinggi sekte Siluman itu kelelahan juga, sehingga yang tadinya menyerang dengan ganas, kini gerakan mereka sedikit kendur.


Hingga pada suatu ketika Shin Shui menemukan sebuah celah pada salahsatu tetua yang menguntungkan dirinya. Dengan gerakan cepat bagai kilat dia langsung melesat masuk dalam sabetan pedang ketiga petinggi itu sehingga berhasil melukai satu diantara mereka.


"Ughhh …"


Meskipun tidak dalam tetapi rasanya begitu sangat perih. Hingga dengan buru-buru tetua itu menotok jalan darah untuk memberhentikan lukanya.


Tak lama kemudian dua petinggi lainnya pun ikut mundur karena merasa sudah lelah saat serangannya tidak berhasil menembus pertahanan benteng lawan.


"Hanya segini saja? Memalukan … hahaha," kata Shin Shui tertawa mengejek dengan sifat 'gila'nya.


"Arogan …" bentar Tiauw Pang.


Sementara itu, Yun Mei masih bertarung sengit dengan tetua sekte Siluman, keduanya sudah melewati lebih dari dua puluh jurus tapi belum ada yang terlihat terpojok. Bahkan, sejauh ini pula belum ada yang terluka.

__ADS_1


"Tidak kusangka kau sehebat itu gadis cantik," puji tetua itu untuk menutupi rasa kagetnya.


"Aku tidak butuh pujianmu. Tidak sudi," ucap Yun Mei dengan sinisnya.


###


"Raja Siluman Bermain Pedang …"


"Kapak Penghancur Kebenaran …"


"Pedang Pemusnah Kehidupan …"


"WUSHH … WUSHH … WUSHH …"


Tiba-tiba saja ketiga petinggi sekte Siluman itu kembali melesat ke arah Shin Shui dengan sangat cepat. Bahkan kali ini permainan pedangnya begitu sangat berbeda dengan sebelumnya. Lebih cepat, lebih sulit, dan tentunya lebih berbahaya.


Tak mau kalah, kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu pun sudah siap menyambut dengan jurus pedang Tarian Ekor Naga Halilintar.


Tapi kali ini dia mengarahkan tenaga dalam dan tenaga sejatinya karena sudah tahu kapasitas lawan sampai dimana. Sebenarnya bagi mereka yang ingin mempunyai tenaga sejati tidaklah mudah, karena tentunya harus punya wadah dan tenaga dalam dengan jumlah besar terlebih dahulu.


Karena itulah tenaga sejati lebih dahsyat daripada tenaga dalam. Sebab, tenaga sejati adalah sebuah tenaga yang dihimpun dari langit dan bumi secara murni.


Bahkan diantara semua petinggi sekte Siluman pun, yang hanya memiliki tenaga sejati hanyalah kepala tetua mereka, Tiauw Pang saja. Oleh sebab itu Shin Shui tidak mau main-main lagi.


"TRANGG …"


Keempat senjata pusaka tingkat tinggi kembali beradu, semua pendekar itu merasakan tangannya bergetar, termasuk Shin Shui. Buru-buru mereka melepaskan senjatanya masing-masing lalu ketiga petinggi itu mulai menyerang dari tiga sisi.

__ADS_1


###


Semoga terhibur ya😁mohon maaf jika belum bisa menulis dengan baik🙏hutang lunas wkwk😁😁


__ADS_2