
Pendekar itu cukup terkejut dengan pernyataan Shin Shui bahwa dia yang membunuh keluarga Liu sekaligus membantai para pendekar. Tapi karena Shin Shui mengeluarkan aura pembunuh yang cukup membuatnya tertekan, akhirnya pendekar tersebut percaya padanya.
"Hemmm … jadi kau orangnya ya. Hebat … hebat, tidak kusangka ada seorang pendekar muda yang mampu melakukan pembantaian sekeji ini. Aku tidak menyangka ada pendekar aliran putih seperti dirimu," kata pendekar tersebut.
Sepengetahuan dirinya, para pendekar aliran putih tidak pernah melakukan pembantaian seperti yang dilakukan oleh Shin Shui jika keadaannya tidak terdesak. Pendekar tersebut mengira bahwa Shin Shui merupakan pendekar dari aliran hitam.
"Aku tidak pernah berkata bahwa aku pendekar aliran putih ataupun hitam. Aku hanyalah pendekar tanpa sekte yang melakukan sesuatu apa yang menurutku harus dilakukan. Jadi jangan samakan aku dengan pendekar lain," jawab Shin Shui tenang, tapi dia tidak sedikitpun mengurangi tekanan aura pembunuhnya.
"Hemmm … menarik, aku ingin menguji kemampuanmu sampai titik darah penghabisan, bagaimana? Sebelumnya perkenalkan namaku Liu Jang Liang, pemimpin dari keluarga Liu," kata pendekar itu memperkenalkan diri dan mengaku bernama Liu Jang Liang.
"Baiklah, aku terima tantangan itu. Perkenalkan namaku Shin Shui," ucap Shin Shui memperkenalkan dirinya.
"Ayo kita mulai," ucap Liu Jang Liang.
Dia segera mengeluarkan aura pembunuh yang lebih kuat daripada Shin Shui. Orang-orang yang berada dalam radius dua puluh meter darinya pasti akan merasa tertekan, mereka segera menjauh supaya tidak terkena efek aura pembunuh tersebut.
Shin Shui tak mau kalah dari Liu Jang Liang, pemuda biru itu turut mengeluarkan aura pembunuh yang lebih kuat. Karena dua aura pembunuh beradu, udara disana terasa sesak beberapa saat.
Liu Jang Liang segera menyerang Shin Shui dengan ganas, gerakannya disertai dengan jurus ilusi. Tapi meskipun begitu, ilusi tersebut tidak berpengaruh kepada Shin Shui. Pasalnya karena pendekar muda itu memang kebal terhadap ilusi, terlebih ilusi tingkat rendahan.
Pertarungan yang cukup dahsyat pun tidak bisa dihindari, kini keduanya sedang bertarung dengan jurusnya masing-masing. Liu Jang Jiang menyerang Shin Shui dengan brutal, dia selalu mengincar bagian perut, tapi Shin Shui dengan sigap menahan setiap sodokan kaki ataupun pukulan tangan yang mengarah kepada perutnya.
Liu Jang Liang tidak berhenti sampai disitu, dia terus menyerang dan berusaha memojokkan Shin Shui. Kali ini dia mencabut trisula yang tersimpan dibelakang punggungnya, trisula itu ada dua dengan warna yang berbeda.
Liu Jang Liang mulai mengeluarkan jurus-jurus trisula miliknya, tapi di sisi lain Shin Shui masih tetap bertahan dan menghindar. Pemuda itu bahkan belum menyerang sama sekali, kecuali serangan kecil.
"Kenapa kau tidak menyerangku? Apa kau takut?" tanya Liu Jang Liang kepada Shin Shui.
__ADS_1
Bagaimana disebut pertarungan jika yang menyerang hanya satu orang saja? Sedangkan pertarungan adalah saling serang dan saling bertahan bukan? Liu Jang Liang belum tahu alasan pasti kenapa pemuda itu melakukan ini.
"Kenapa aku harus takut? Aku hanya menguji kemampuanmu saja, tapi nyatanya sampai sekarang kau belum bisa melukaiku, hahhh … bagaimana mau bertarung sampai titik darah penghabisan kalau seperti ini?" kata Shin Shui memanas-manasi Liu Jang Liang.
"Kauuu …"
Liu Jang Liang naik darah seketika, pendekar itu kembali menyerang Shin Shui dengan jurus-jurus tingkat tinggi yang dia miliki. Semakin lama gerakannya semakin tidak terlihat oleh mata biasa, Shin Shui cukup kelabakan dibuatnya.
Tanpa basa-basi lagi, pemuda biru itu langsung mengeluarkan Pedang Halilintar miliknya, pertarungan dua orang pendekar dan pusaka tingkat tinggi kini terjadi lebih hebat daripada sebelumnya. Pusaka mereka beradu menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
"DUARR …"
'Dia tidak bisa dianggap remeh. Setidaknya dia telah mencapai tingkatkan Pendekar Dewa tahap enam pertengahan.' batin Shin Shui sembari menganalisa Liu Jang Liang.
Pemuda biru itu kini mulai serius, dia mulai mengeluarkan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya.
"Tarian Pedang Halilintar …"
"WUSHH …"
Shin Shui semakin menyerang dengan ganas, dia tidak mengurangi kecepatannya dalam bermain pedang. Bahkan Pendekar Halilintar itu malah menambah lagi kecepatannya, sehingga yang terlihat hanyalah kilatan halilintar menebas kesana kemari.
Kakinya kini turut mengiringi setiap gerakan pedang, setiap tendangannya menimbulkan hawa kengerian. Hingga pada akhirnya Shin Shui melihat celah lawan dan …
"Ahhh …"
Paha kiri Liu Jang Liang terluka cukup dalam yang diakibatkan oleh Pedang Halilintar. Dia mundur ke belakang untuk mengambil jarak dan menghentikan darah yang terus keluar tanpa henti.
__ADS_1
Dengan segera dia kembali menyerang Shin Shui dengan jurusnya yang tak kalah mematikan. "Ilusi Pedang Bayangan …"
"WUSHH …"
Dua buah pusaka beradu kembali. Setiap pedang Shin Shui beradu dengan trisula Liu Jang Liang, pemuda itu selalu merasa dirinya tertusuk oleh trisula itu. Begitupun Liu Jang Liang, setiap kali trisulanya beradu, maka dia akan mengalami mati rasa beberapa saat.
"Tidak ada cara lain, aku harus menggunakan jurus tingkat tinggi. Beradu senjata dengannya hanya sia-sia saja." gumam Shin Shui.
Dia mundur beberapa langkah ke belakang, Shin Shui menundukkan kepalanya sesaat. Langit berubah menjadi gelap kembali, pemandangan yang sebelumnya pernah ia sajikan saat melawan rombongan pendekar kini terlihat lagi.
"Tubuh Halilintar …"
"DUARR …"
Sebuah halilintar menyambar telak tubuhnya. Tak lama seluruh tubuh Shin Shui kini diselimuti halilintar. Di sisi lain, Liu Jang Liang tak mau kalah, dia juga mengeluarkan jurus tingkat tinggi miliknya.
"Zirah Kegelapan …"
"WUSHH …"
Tiba-tiba tubuh Liu Jang Liang diselimuti asap berwarna hitam dan membentuk sebuah zirah perang. Dibelakangnya terlihat ada bayangan iblis bertanduk satu.
"WUSHH …"
Keduanya sama-sama maju menyerang, halilintar dan kegelapan kini beradu hingga menimbulkan hawa kematian yang sangat pekat. Orang-orang yang disana sebagian ada yang pingsan akibat pertarungan yang semakin dahsyat ini.
Waktu terus berjalan dengan cepat, semakin lama Shin Shui semakin tertekan karena aura kegelapan dari Liu Jang Liang semakin kuat. Hingga akhirnya …
__ADS_1
"Ahhh …"
Shin Shui terpental cukup jauh ke belakang, bahkan dia sampai menabrak benteng Bukit Awan hingga hancur. Pemuda biru itu muntah darah cukup banyak, dibagian dada kanannya kini ada sebuah bekas tapak yang menghitam.