Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Air Mata Shin Shui (Selamat Tinggal)


__ADS_3

Shin Shui melihat wajah serius dari gurunya tersebut sedikit panik. Tapi pemuda itu dengan segera menenangkan dirinya.


"Masalah apa itu guru? Silahkan cerita saja, murid akan menjadi pendengar yang baik," kata Shin Shui.


Sebenarnya dia sedikit curiga kepada Lao Yi, tapi Shin Shui tidak berniat menanyakan hal itu lebih jauh. Jadi dia lebih memilih menjadi pendengar yang baik saat gurunya bicara nanti.


"Shui'er, kau pasti masih ingat bahwa sebelum kau keluar dari Hutan Kematian guru akan berdiam di alam pikirmu dan melakukan meditasi untuk meningkatkan tahapan pendekar guru bukan?" ucap Lao Yi.


Tanpa berbasa-basi lagi, Lao Yi segera berbicara kepada hal pokok yang akan dia bicarakan bersama murid semata wayangnya.


"Tentu murid masih ingat sampai sekarang guru, memangnya ada apa?" tanya Shin Shui.


Pemuda itu masih kebingungan sampai sekarang, dia belum mengerti sama sekali kemana arah pembicaraan gurunya tersebut.


"Guru sebenarnya berat untuk memilih tindakan ini. Tapi bagaimanapun juga, ini demi kebaikan kita semua. Guru akan meninggalkanmu Shui'er," kata Lao Yi


"Ma-maksud guru? Apakah guru sudah tidak ingin menjadi guruku lagi? Apa kesalahan muridmu ini sehingga kau berniat meninggalkanku sendiri?" tanya Shin Shui.


Kepanikan dan kesedihan mulai terlihat di wajah tampannya, sekarang pemuda itu benar-benar berada ditengah tanda tanya yang besar. Sebab, gurunya berkata akan meninggalkan. 'Bukankah aku selalu melakukan apa yang guru ajarkan? Tapi kenapa guru akan meninggalkanku." batin Shin Shui sedih.


"Tidak Shui'er. Kau tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan kau jauh lebih baik dari yang guru harapkan sebelumnya. Guru sangat senang bahwa kau bisa melakukan apa yang sudah guru ajarkan," ucap Lao Yi.


Shin Shui selama ini memang terkenal penurut terhadap gurunya. Bahkan, dari mulai latihan di Hutan Kematian hingga sekarang, muridnya tersebut seperti tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Dia selalu mengerjakan perintahnya dengan sangat baik.

__ADS_1


"Guru pergi meninggalkanmu bukan karena sudah tidak ingin menjadi gurumu Shui'er. Tapi guru pergi demi mencapai tahapan Pendekar Keabadian. Asal kau tahu saja, guru sekarang sudah berada di tahapan Pendekat Dewa tahap tujuh akhir. Satu langkah lagi akan mencapai tahapan Pendekar Keabadian."


"Tapi ketika seorang pendekar ingin melanjutkan ke tahap Pendekar Keabadian, jarak yang harus dia lalui berbeda. Orang yang ingin mencapai tahapan ini haruslah melalui ujian langit. Bahkan, gurumu ini belum tahu pasti apa yang akan dilalui untuk mencapai tahapan tertinggi itu."


"Tapi sejauh yang guru ketahui, jika seseorang ingin mencapai tahapan Pendekar Keabadian, maka dia harus melewati ujian langit berupa pertanyaan yang sangat sulit dan tentunya akan diuji kemampuannya."


"Dan guru akan melakukan itu sekarang, maka dari itu … guru akan meninggalkan dirimu."


Lao Yo menjelaskan panjang lebar dari maksud tujuannya, dia ingin mencapai tahapan Pendekar Keabadian tentu saja demi masa depan dunia yang damai.


"Jika guru sudah mencapai tahapan tersebut, mungkin guru bisa menjadi penyeimbang kehidupan dunia. Dan tentu saja, jika ada kesempatan maka guru akan membantumu suatu saat nanti. Guru harap kau tidak keberatan muridku."


Seperti yang dikatakan Lao Yo sebelumnya, jika seorang pendekar sudah mencapai tahapan Pendekar Keabadian, maka dia akan turut andil untuk menjaga keseimbangan berlangsungnya kehidupan dunia.


Mendengar penjelasan dari gurunya bahwa dia akan pergi meninggalkan untuk mencapai tahapan tertinggi yang bisa dicapai, Shin Shui merasa bangga. Bangga karena gurunya akan menjadi salah satu pendekar terkuat yang pernah ada.


Saat ini yang Shin Shui punya dan dianggap keluarga bahkan orang tua, hanyalah gurunya sendiri, Lao Yi. Lalu jika gurunya pergi, siapa lagi yang bisa mengerti dan memahaminya? Tapi apa mau dikata, Shin Shui sadar bahwa ini semua demi kebaikan dunia.


Meskipun Shin Shui tidak mengerti bagaimana gurunya bisa meningkatkan tahapan pendekar dengan sangat cepat, tapi pemuda itu tetap percaya. Karena bagaimanapun juga, dia adalah salah satu legenda. Tentunya Lao Yi mempunyai cara tersendiri dalam meningkatkan tahapan pendekar dalam waktu singkat.


Akhirnya pemuda biru itu dengan berat hati mengikhlaskan kepergian gurunya. Air matanya mulai menggenang, matanya merah menahan kesedihan yang mendalam.


"Baiklah guru. Murid merelakan kepergian guru, semoga suatu saat kita akan bertemu kembali dan tetap dalam keadaan status seperti ini. Jika guru sudah mencapai tahapan Pendekar Keabadian, aku berharap guru tidak malu mempunyai murid sepertiku."

__ADS_1


Saat berkata demikian, hatinya benar-benar merasa hancur. Kesedihan yang pernah dia rasakan saat kehilangan kedua orangtuanya, kini dirasakan kembali oleh Shin Shui.


Air matanya sudah tidak bisa dibendung, air mata itu turun membasahi pipi lembutnya. Pemuda yang terkenal kejam kepada musuh, kini terlihat seperti pria cengeng dihadapan gurunya.


"Sudahlah Shui'er. Tidak usah seperti itu, murid guru harus kuat menghadapi badai kehidupan, ingat apa yang pernah kau ucapkan saat di Hutan Tak Berpenghuni. Tentu, guru berjanji bahwa kita bisa bertemu dengan status seperti sekarang, bahkan lebih.


"Guru tidak pernah malu mempunyai murid sepertimu Shui'er. Justru guru bangga, sangat bangga. Seratus murid sekalipun, rasanya tidak bisa dibandingkan dengan dirimu. Sudahlah, jangan lemah, ingat gelarmu itu Pendekar Halilintar, bukan Pendekar Cengeng." kata Lao Yi sedikir menghibur.


"Panggil Cun Fei. Guru ingin bicara padanya," ucap Lao Yi.


Cun Fei langsung keluar dan berubah wujud menjadi manusia setelah dipanggil oleh Lao Yi, setelah Cun Fei memberi hormat, Lao Yi segera mengutarakan niatnya.


"Cun Fei, jaga muridku dengan baik. Jangan pernah membuatnya kecewa, jika kau mengecewakan Shui'er, berarti kau telah mengecewakanku juga."


"Tentu senior. Aku bersumpah akan setia kepada Shui'er apapun yang terjadi. Aku akan menjaganya walaupun nyawa jadi taruhan." jawab Cun Fei dengan hormat.


"Baiklah, terimakasih Cun Fei. Aku mempercayai ucapanmu."


"Shui'er, ingat pesan guru! 'Jadilah manusia! Jika kau ingin dianggap manusia maka kau harus bisa memanusiakan manusia'."


"Jangan pernah merasa tinggi, teruslah merendah seperti layaknya padi. Tetaplah pada prinsip hidupmu, 'jadilah seperti batu karang ditengah lautan yang berdiri kokoh dalam derasnya ombak. Jangan pernah menjadi sebilah bambu yang terombang-ambing dalam derasnya arus air sungai."


"Selamat tinggal muridku, selamat tinggal Cun Fei. Sampa bertemu kembali."

__ADS_1


Shin Shui langsung bersujud memberi hormat terakhir kepada Lao Yi, begitupun Cun Fei. Mereka bertiga berpelukan dengan dibalut kesedihan.


Lao Yi tersenyum ke arah Shin Shui dan Cun Fei sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mereka. Shin Shui segera memeluk Cun Fei dengan sangat erat. Bagi Shin Shui, perpisahan ini benar-benar membuat perasaannya hancur lebur.


__ADS_2