Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kembali ke Sekte Bukit Halilintar


__ADS_3

Mendengar kedua siluman kera menyetujui permintaannya, Shin Shui pun senang. Mereka kembali berbincang ringan sebelum Shin Shui memutuskan kembali untuk masu ke dalam goa lagi dan meneruskan latihan tertutupnya.


Tak lupa juga Shin Shui memberikan lagi sumber daya untuk San-ong dan Ong-san supaya mereka bertambah kuat lagi.


Setelah tiba di dalam goa, Shin Shui lalu mengeluarkan Kitab Bayangan dari Cincin Ruangnya. Dia melihat-lihat isi dari kitab tersebut.


Isinya hampir sama dengan Kitab Tapak Penghancur, yaitu terdapat tulisan-tulisan kuno. Tapi tulisan kuno itu lebih sedikit, sehingga Shin Shui pun merasa mampu untuk mempelajarinya tanpa bantuan dari phoenix biru.


Sebelum memulai latihannya kembali, Shin Shui terlebih dahulu mengkonsumsi sumber daya langka untuk meningkatkan pelatihannya. Lalu dia mencoba menyerap kandungan dari sumber daya tersebut. Baru setelah dua jam lamanya, akhirnya dia bisa menyerap semua kandungan dari sumber daya yang dia konsumsi.


Setelah rasa lelahnya hilang, Shin Shui lalu memulai latihannya untuk mempelajari Kitab Bayangan. Lembar per lembar mulai dia buka dan mencoba untuk memahami isinya.


Karena Kitab Bayangan lebih mudah untuk dimengerti, Shin Shui pun tak lama sudah memahami jurus dasar dari ajaran Kitab Bayangan.


Saat ini dia sudah memulai kembali latihannya dengan keras. Tidak ada waktu santai kecuali keadaan tertentu.


Karena dia terus berlatih dengan keras dan tanpa kenal lelah, hanya butuh waktu kurang dari satu bulan saja, Shin Shui berhasil menguasai seluruh ajaran Kitab Bayangan. Yahhh … meskipun belum sempurna, tapi ini lebih dari cukup karena waktunya sudah habis.


Phoenix biru yang selalu menemani Shin Shui selama latihan tertutup pun merasa senang karena pemuda biru itu bisa menguasai Kitab Bayangan.


Karena selama di dalam goa gunung San-ong ini Shin Shui berlatih dengan keras dan banyak mengkonsumsi sumber daya langka, akhirnya dia bisa menembus juga tahapan baru.


Meskipun pemuda biru itu tidak mengalami kenaikan yang besar, setidaknya kini dia sudah jauh lebih kuat daripada sebelum berlatih tentang kedua kitab pusaka tersebut.


Saat ini Shui sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap tujuh awal. Meskipun baru awal, tapi dengan kekuatannya yang sekarang ini, Shin Shui bisa mengimbangi Pendekar Dewa tahap tujuh pertengahan.

__ADS_1


Selama itu satu-satu, maka dia akan berani dan percaya bisa mengalahkannya. Tapi lain cerita jika dia diserang dengan cara dikeroyok.


Setelah merasa bahwa semua tujuannya sudah tercapai, Shin Shui segera keluar dari dalam goa dan berniat untuk langsung kembali ke sekte Bukit Halilintar.


Rasa rindunya akan sekte tersebut dan rindu kepada Yun Mei sudah menumpuk. Tapi semua rasa itu selalu sirna ketika dia menyadari bahwa era kekacauan sebentar lagi akan dimulai.


Shin Shui mulai berjalan ke luar bersama phoenix biru yang diam di pundaknya. Setiap langkahnya sangat berwibawa, bahkan goa sedikit bergetar karenanya.


San-ong dan Ong-san pun agak kaget ketika melihat majikannya ini. Baru sebulan kemarin bertemu, sekarang kondisinya jauh lebih memberikan daripada sebelumnya.


Pancaran aura yang kuat pun terasa. Bahkan sedikit menekan kedua siluman kera tersebut. San-ong dan Ong-san menyambut Shin Shui, kedua siluman itu membungkuk hormat.


"San-ong, Ong-san, mari kita pergi dari sini. Kita akan menuju ke sekte Bukit Halilintar. Kalian berdua masuklah terlebih dahulu ke dalam Kantong Siluman," kata Shin Shui.


Tak terasa dua minggu berlalu, selama perjalanannya, Shin Shui tidak menemukan kendala yang berarti. Dia juga jarang berhenti jika bukan untuk makan dan istirahat.


Saat ini hari masih pagi. Mentari pun masih malu-malu menampakkan sinarnya. Kicau burung yang merdu sudah bersahutan. Sebagian orang masih terlelap dalam mimpinya, tapi Shin Shui sudah melanjutkan perjalanannya lagi.


Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai ke sekte Bukit Halilintar. Entah kenapa, hatinya terasa ingin sampai secepatnya kesana. Mungkin ini suatu pertanda bagi Shin Shui.


Siangnya, Shin Shui pun berhenti disebuah restoran untuk mengisi perutnya. Menurut perhitungan Shin Shui, sekitar tiga atau empat jam lagi dia mungkin akan segera sampai di sekte Bukit Halilintar.


Karena itulah pemuda biru tersebut berhenti disebuah restoran yang agak besar sambil pesan arak. Yahh … untuk sekedar melepas lelah mungkin.


Perasaan hati Shin Shui yang ingun segera sampai di sektenya mungkin memang sebagai firasat buruk. Jadi secara spontan dia merasakannya.

__ADS_1


Memang demikian, jika kau sudah memiliki ikatan batin dengan seseorang, maka ketika akan terjadi apa-apa biasanya kau akan merasakan. Entah disadari atau tidak, tapi itu memang nyata.


Ikatan batin lebih kuat. Seperti halnya orang tua. Terlebih seorang ibu, ikatan batin dengan anaknya sangat kuat. Bahkan seorang ibu bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anaknya. Meskipun anak itu tidak bicara.


Saat ini di desa Perbatasan sekte Bukit Halilintar, terlihat ada dua belas pendekar yang memakai baju ungu dengan wajahnya yang garang. Masing-masing dari mereka bisa mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kuat.


Sepertinya kedua belas pendekar itu memang akan pergi ke sekte Bukit Halilintar. Apalagi jika dilihat lagi, diantara dua belas pendekar tersebut, ada tiga orang yang dulu sempat menyerang sekte Bukit Halilintar.


Dan diantara dua belas pendekar tersebut, didalamnya ada seorang pendekar yang memakai pakaian berbeda sendiri. Usianya masih muda, dan dia memakai pakaian warna merah darah dengan gambar iblis memakai mahkota dibelakangnya.


"Apakah kita akan menuju ke langsung sekte Bukit Halilintar, pangeran?" tanya salahseorang diantara mereka kepada pendekar muda dan disebut sebagai pangeran.


"Tenang saja. Kita mengisi perut terlebih dahulu, masalah sekte itu bukanlah perkara yang sulit. Itu soal mudah, apalagi dengan semua kekuatan kita ini. Meskipun hanya sedikit, tapi menurutku sudah cukup untuk menghancurkan sekte keparat itu," kata pendekar muda atau si pangeran.


"Baiklah, kami menuruti saja apa kata pangeran,"


"Bagus. Mari kita masuk ke restoran itu," kata si pangeran lalu mengajak semua rekannya masuk ke restoran yang ada di desa Perbatasan.


Kedua belas pendekar itu lalu masuk dan mengambil tempat duduk ditengah-tengah restoran. Aura pembunuh yang mereka kuat masih keluar dari masing-masing mereka.


Sehingga tidak ada yang berani bertindak bodoh meskipun mereka terbilang tidak sopan dan mencurigakan. Suasana restoran yang tadinya ramai mendadak sepi setelah mereka masuk.


Hal ini tak lain karena para pelanggan sebelumnya merasa takut kepada kedua belas pendekar.


"Berikan kami makanan terenak yang ada di restoran ini dan arak terbaik yang dimiliki," kata si pangeran kepada pelayan restoran.

__ADS_1


__ADS_2