
Hari sudah berganti pagi. Mentari sudah menampakkan sedikit dirinya diufuk timur sehingga sinar kuning keemasannya menyilaukan mata yang memandang.
Burung-burung yang tinggal di Bukit Awan sudah berkicau merdu sekali. Mereka telah siap mengawali pagi dengan sebuah harapan. Embun-embun masih nampak diujung dedaunan.
Udara dingin meresap ke tulang, rasanya lebih nikmat tidur daripada melakukan aktivitas pada waktu sepagi ini. Hal itu mungkin berlaku bagi orang lain, tapi tidak bagi orang-orang sekte Bukit Halilintar.
Apabila sinar mentari sudah nampak, maka semua penghuni sekte Bukit Halilintar akan langsung menjalankan rutinitasnya. Mereka tidak mau kalah oleh ayam yang konsisten setiap pagi berkokok. Masa kita selaku manusia kalah oleh ayam.
Keadaan di sekte Bukit Halilintar ramai seperti biasanya. Kesemua orang-orangnya saat ini sedang sarapan, termasuk para murid.
Setelah selesai sarapan, maka para murid itu akan beres-beres lalu berlatih dipagi hari. Sedangkan para tetua melakukan hal seperti biasanya, sebelum melakukan aktivitas, maka mereka akan bicara santai ditempat biasa sambil menikmati secangkir teh.
Seperti sekarang, semua tetua sedang membuka obrolan ringan. Termasuk membahas tentang Jamur Pemusnah Racun.
Jamur itu harus ditemukan. Karena kalau tidak, maka Yashou dalam bahaya. Efeknya mungkin tidak sekarang, tapi nanti setelah satu minggu, baru terlihat bagaimana efeknya jika racun itu tidak segera diobati.
"Tetua Yashou, dimana letak pastinya Jamur Pemusnah Racun? Kemarin bilang bahwa kau pernah melihatnya dihutan Bukit Awan," kata Shin Shui memulai pembicaraan serius.
"Benar. Aku dulu pernah melihatnya, letaknya kalau tidak salah berada ditengah hutan dan tumbuh dibawah sebuah pohon yang besar berwarna merah. Dulu aku melihat ada sekitar tiga jamur," ucap Yashou.
__ADS_1
"Hemmm … baiklah. Tidak usah diambil semua, satu pun sudah lebih dari cukup. Siapa yang akan kesana?" tanya Yashou.
"Biarkan aku dan tetua Wu Chai saja kepala tetua," ucap Hong Liong tiba-tiba angkat bicara.
"Tetua Hong, apakah kau yakin?" tanya Shin Shui memastikan.
"Tentu, kepala tetua. Lagipula kita harus mendapatkannya secepat mungkin. Jadi kurang pas jika menyuruh para murid," jawab Hong Liong.
Shin Shui menganggukkan kepalanya, apa yang diucapkan Hong Liong ada memang benarnya. Mereka pun kembali bicara santai sambil menunggu waktu yang tepat bagi Hong Liong untuk menuju ke Bukit Awan yang ada dibelakang sekte Bukit Halilintar.
Setelah waktu cukup siang, Hong Liong pun segera pergi ke hutan Bukit Awan dengan ditemani oleh Wu Chai.
"Baik kepala tetua," ucap mereka serempak.
###
Tak perlu membutuhkan waktu yang lama, hanya sekitar dua puluh menit saja bagi Wu Chai dan Hong Liong untuk sampai dihutan Bukit Awan itu.
Kini keduanya sedang berjalan menyusuri hutan dan mencari sebuah pohon besar berwarna merah yang menjadi tempat Jamur Pemusnah Racun.
__ADS_1
Selang beberapa saat kemudian, Wu Chai dan Hong Liong sudah berada tepat ditengah-tengah hutan. Keadaan disana sangat sepi. Bahkan binatang pun tidak seramai dihutan lainnya.
Hanya beberapa suara binatang saja yang terdengar sedikit memecah keheningan. Dua tetua sekte Bukit Halilintar tersebut lalu mencari-cari ke setiap sudut untuk menemukan pohon merah.
"Tetua Hong, lihat!!! Bukankah itu pohon yang dimaksudkan oleh tetua Yashou? Coba kau lihat ini," kata Wu Chai yang tiba-tiba saja matanya melihat ada sebuah pohon dan memiliki ciri-ciri seperti yang dikatakan Yashou.
"Ahhh … benar. Itu pohon yang kita cari, ayo kita segera kesana untuk mengambil jamur itu," ajak Hong Liong.
Keduanya pun lalu menghampiri pohon merah itu, dibelakang pohon tersebut ada sebuah tumpukkan batu yang sangat besar, tingginya hampir lima tombak. Dan benar saja, disana terdapat tiga buah Jamur Pemusnah Racun yang sudah cukup besar dan berumur tua.
Tapi ketika Wu Chai berniat untuk mengambilnya, tiba-tiba tanah disekitar mereka bergetar seperti diguncang gempa bumi.
Kedua tetua itu panik, lalu mereka pun melompat mundur ke belakang dan tidak jadi memetik Jamur Pemusnah Racun.
Tanah masih saja bergetar. Dan tumpukkan batu tadi pun bergerak seperti ada sesuatu. Melihat ini, Wu Chai dan Hong Liong meningkatkan kewaspadaannya.
Tak lama kemudian, tiba-tiba tumpukkan batu tadi mendadak bergetar lebih hebat sehingga menerbangkan debu dan daun-daun kering. Setelah itu, tiba-tiba saja muncul sebuah sosok yang cukup mengerikan dan membuat kedua tetua itu lebih kaget lagi.
"Monster Batu …" kata Hong Liong dan Wu Chai secara bersamaan.
__ADS_1