Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Rasakan Tendangan Pengusir Tikusku Itu


__ADS_3

"Pukulan Tiga Halilintar …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba 'ketiga' Shin Shui mengeluarkan jurus yang sama secara bersamaan, tepat ketika pukulan milik Ji Yeon beberapa jengkal lagi darinya.


"DUARR …"


"Ahhh …"


Pukulan itu dengan telak memghantam dada Ji Yeon. Dia terhempas ke belakang hingga menabrak dinding sekte. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas. Ji Yeon memuntahkan sedikit darah agak kehitaman.


Perlahan dia mencoba bangkit berdiri sambil menyahut darahnya dengan punggung tangan kanannya.


"Keparat …" gumamnya dengan nada kesal.


"Baiklah, akan aku perlihatkan pertunjukan yang menarik bagimu bocah sombong …" kata Ji Yeon sambil mengangkat kedua tangannya ke depan.


"Sihir Ilusi … Alunan Melodi Kematian …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba angin kencang menerpa seluruh tempat itu. Malam yang tadinya hanya berisik karena beradunya senjata dan pertarungan, kini menjadi lebih berisik karena mendadak terdengar alunan melodi yang menyayat hati.


Suaranya menggema memenuhi seluruh sekte Daun Hijau. Perlahan tapi pasti, alunan melodi yang lambat mendadak lebih cepat hingga tidak nyaman terdengar.


Buru-buru semua orang menutup pendengarannya lalu melindungi dengan tenaga dalam. Tak terkecuali Shin Shui.


Para anggota sekte yang tidak terlalu kuat, mendadak mengeluarkan darah dari telinga, hidung, mulut, bahkan matanya.


Lalu satu-persatu dari mereka tewas dengan mata melotot. Seolah menggambarkan bahwa ini merupakan mimpi buruk sepanjang hidup mereka.


Shin Shui pun terus mengalirkan tenaga dalamnya untuk melindungi telinga dari alunan melodi tersebut. Meskipun berhasil, tapi sayup-sayup masih terdengar iramanya.


"Sihir Ilusi … Hujan Pisau Beracun …"


"WUSHH …"

__ADS_1


Mendadak dari langit terlihat banyak sekali pisau yang turun ke bumi layaknya hujan. Lagi-lagi semua orang dibuat ketakutan karenanya.


Sebenarnya ini hanyalah ilusi semata. Tapi karena menyerang batin dan mental, maka efeknya tak kalah mengerikan dengan jurus lainnya.


Shin Shui masih bertahan dengan semua ini. Karena dia memang kebal terhadap ilusi. Hanya saja karena kekuatannya menurun drastis, maka dia tidak sehebat dahulu kala.


Hujan pisau dan alunan melodi yang mengerikan itu bertahan cukup lama. Hingga akhirnya, dua bayangan Shin Shui menghilang kembali sebelum berbuat apa-apa.


Hal ini dikarenakan waktu yang sudah ditetapkan sudah melewati batas. Seperti yang dijelaskan Lao Yi, dua bayangan itu hanya akan bertahan selama lima menit saja.


Jika lewat dari lima menit, maka jurus itu akan hilang. Seperti saat ini.


Shin Shui mulai terpancing emosinya karena Ji Yeon sudah menggagalkan jurus baru sebelum dia mengetahuinya. Tiba-tiba Shin Shui berteriak keras.


"Arghhh …"


"Tubuh Halilintar … Langkah Bayangan … Tapak Penghancur Gunung …"


"WUSHH …"


Tentu saja hal ini membuatnya kaget, sehingga sihir yang dia keluarkan mendadak lenyap. Sekarang Ji Yeon hendak fokus untuk menahan serangan yang akan diberikan oleh Shin Shui, tapi sayangnya dia terlambat lagi.


Pukulan Shin Shui ternyata lebih cepat dari yang dia bisa bayangkan. Tahu-tahu Ji Yeon sudah kembalo terpental bahkan kali ini sampai membuat dinding sekte jebol.


"Ahhh …"


Dia mundur perlahan tanpa bisa berdiri. Tubuhnya benar-benar terasa remuk. Darah segar sudah dimuntahkan oleh mulutnya. Sedangkan seluruh tubuhnya juga sudah penuh dengan luka-luka.


"Ka-kau … apakah kau Pendekar Halilintar?" tanya Ji Yeon sambil terbata-bata.


"Hemmm … memangnya kenapa?" tanya Shin Shui sambil menatap tajam.


"Ti-tidak, maafkan aku pendekar," ucap Ji Yeon. Dia mencoba untuk mencoba memegangi kaki Shin Shui.


"Maafkan aku … maafkan aku … maafkan aku," katanya berulang kali.


Tapi semakin lama, tangan yang memegang pungung kaki Shin Shui semakin kencang. Bahkan semakin bertenaga dan ada hawa aneh yang dirasakan oleh Shin Shui.

__ADS_1


"Hemmm … kau pikir bisa membunuhku dengan cara bodoh seperti ini? Hahaha … dasar tikus besar … tidak semudah itu," ejek Shin Shui karena dia mengetahui bahwa sebenarnya Ji Yeon sedang berusaha membunuhnya dengan racun. Tapi sayangnya rencana itu lebih diketahui oleh Shin Shui.


"Haaa …" pemuda biru itu menghentakkan kakinya ke tanah lalu menendang wajah Ji Yeon dengan telak hingga dia tewas seketika.


"Rasakan tendangan pengusir tikusku itu … hahaha,"


Setelah dia tewas, Shin Shui pun lalu nendekati Pek Ji dan yang lainnya. Kini semuanya sudah berhenti bertarung. Bahkan para tetua yang tadi bertarung pun melarikan diri entah kemana.


Hal itu dilakukan karena tentunya 'pelaku utama' sudah tewas ditembak orang asing. Pemimpin mereka saja tewas, apalagi dengannya?


"Terimakasih pendekar. Aku tidak menyangka kau akan membantuku," kata Pek Ji dengan hormat.


"Tidak perlu sungkan. Sudah kewajiban manusia untuk saling membantu,"


"Mari, masuk ke dalam dulu,"


"Terimakasih kepala tetua. Tapi aku harus melanjutkan perjalanan lagi. Aku sedang berpacu dengan waktu," kata Shin Shui menolak halus.


"Ahhh … kiranya hendak melanjutkan perjalanan kemanakah?"


"Aku akan menuju ke perbatasan selatan. Kira-kira, berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan?"


"Sekitar 4-5 lima harian lagi jika tidak ada halangan berarti di perjalanan nanti pendekar," kata Pek Ji.


"Baiklah, terimakasih atas informasinya. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali," ucap Shin Shui yang langsung melesat pergi darisana.


"Jasamu akan kami ingat selalu. Dia bukan manusia, lebih pantas disebut sebagai dewa. Kekuatannya benar-benar mengerikan walaupun usianya masih terbilang muda," gumam Pek Ji sambil memandangi arah perginya Shin Shui.


Hanya beberapa saat saja, Shin Shui sudah tiba kembali di kamar penginapannya. Dia langsung merebahkan diri di kasur yang hangat dan empuk.


Tak lama pemuda biru itupun sudah terbuai dalam mimpinya. Ada sedikit senyuman ketika dia sudah tertidur. Mungkin dia merasa bahagia karena sudah menolong sesama.


Memang seharusnya begitu. Dalam hidup ini, kau haruslah membantu mereka yang membutuhkan bantuan. Sekalipun kau tidak mengenalnya.


Jangan berharap imbalannya, jika kau berharap imbalan maka kau akan merasakan sakit jika harapanmu tidak terwujud. Tapi jika tidak mengharap imbalan, maka kau akan merasa bahagia seperti halnya Shin Shui.


Ya, benar. Bahagia. Bahagia karena setidaknya hidupmu masih memberikan manfaat untuk orang lain.

__ADS_1


__ADS_2