Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sekte Rajawali Merah-Makan Siang Bersama


__ADS_3

Berita tentang kematian Pendekar Lima Serangkai dan keterlibatan seorang pemuda biru didalamnya benar-benar menjadi berita yang menggemparkan di beberapa sekte, baik aliran hitam, netral maupun aliran putih.


Terlebih karena dalam peristiwa itu salah satu sosok yang disegani di semua golongan pun ikut berperan, benar … sosok itu tidak lain adalah Yashou si Pendekar Belalang Sembah.


Sekte Rajawali Merah adalah sekte aliran putih yang tergolong dalam jajaran sekte kelas menengah di kekaisaran Wei. Sekte itu masih terbilang berumur muda, sekte itu baru berdiri sekitar 100 tahun.


Tapi karena banyak melahirkan generasi yang berbakat, sekte Rajawali Merah menjadi salahsatu sekte yang disegani. Sekte ini dipimpin oleh kepala tetua yang masih terbilang muda. Kepala tetua sekte Rajawali Merah baru berumur sekitar 78 tahun. Kepala tetua itu bernama Huo Yun si Pangeran Rajawali.


Saat ini di salahsatu ruangan, para tetua termasuk Huo Yun sedang membicarakan berita kematian Pendekar Lima Serangkai.


"Pemuda biru itu benar-benar kuat, untung saja dia ada di pihak kita, jika bukan … sudah pasti pemuda itu akan menjadi ancaman serius bagi aliran putih. Kita harus bisa menjaga sikap saat suatu hari nanti bertemu dengannya," kata Huo Yun ditengah pembicaraannya bersama para tetua lain.


"Baik kepala tetua." jawab para tetua serempak.


"Kepala tetua Huo, apa yang harus kita lakukan saat ini? Situasi ini jelas menguntungkan pihak kita, sudah pasti kondisi sekte-sekte aliran hitam sedang tidak stabil atas kejadian ini. Bagaimanapun juga, Pendekar Lima Serangkai adalah salah satu tokoh besar di dunia pendekar," kata salah satu tetua menanyakan langkah apa yang harus mereka lakukan.

__ADS_1


"Serang beberapa sekte kecil aliran hitam, kesempatan ini jangan kita sia-siakan. Dengan kemampuan sekte kita yang terbilang lumayan, setidaknya mampu menghancurkan beberapa sekte kecil aliran hitam," kata kepala tetua Huo Yun.


"Baik". Jawab tetua lain secara serempak.


###


Saat ini, Shin Shui dan Chang Lee sedang memantau kegiatan renovasi Desa Miskin, keduanya benar-benar dihormati disana. Shin Shui hanya memperhatikan dan terkadang bicara dengan warga setempat. Sedangkan Chang Lee, di terlihat sibuk untuk mengurusi beberapa hal lainnya.


Hari sudah siang, sudah saatnya untuk para warga yang merenovasi beristirahat. Mereka akan melakukan makan siang bersama.


Dia akan pergi ke Restoran Jingga untuk memesan makanan sebagai makan siangnya dengan para warga. Pelayan yang sudah cukup kenal dengan Shin Shui kaget saat pemuda itu akan membeli makanan yang banyak.


Pelayan itu ingin bertanya lebih sebenarnya, tapi dia membatalkan niat. Pelayan tersebut langsung pergi ke dapur dan memerintahkan koki disana untuk memasak makanan yang di pesan oleh Shin Shui.


Makanan Shin Shui sudah selesai dibuat, makanan itu berjumlah sekitar 100 porsi. Pelayan itu sedikit bingung bagaimana cara membawanya, dia kemudian mendekati Shin Shui untuk menyampaikan kebingungannya.

__ADS_1


"Maaf tuan pendekar muda, makanan sudah selesai dibuat. Tapi kami bingung untuk membawa semuanya," kata pelayan itu sedikit takut, takut jika Shin Shui akan marah padanya.


"Tidak usah khawatir, antarkan aku ke tempat dimana makanan itu berada. Aku akan memasukannya ke cincin ruang milikku." jawab Shin Shui.


Shin Shui langsung diantarkan ke belakang dimana tempat makanan itu berada. Tak perlu lama, dia hanya mengibaskan satu kali tangannya, seketika semua makanan itu lenyap.


Shin Shui sudah membayar semua makanannya ke kasir. Lalu pemuda itu pergi dengan sedikit terburu-buru, dia merasa jika terlalu lama pasti para warga sudah kelaparan menunggunya.


Tak butuh waktu lama, Shin Shui sudah tiba di Desa Miskin lagi, para warga yang melihat Shin Shui sedikit kebingungan. Tapi pemuda itu segera menjelaskan dan langsung mengeluarkan semua makanan yang dia beli dari Restoran Jingga.


Karena merasa sudah lapar, mereka pun akhirnya makan bersama-sama. Sungguh, rasanya nikmat jika makan bersama seperti ini, batin Shin Shui. Di tengah menyantap makanan, seorang pria tua angkat bicara. "Tuan muda, apakah anda tidak jijik ikut makan bersama kami yang lusuh dan kotor ini?".


"Tentu saja tidak paman, kenapa harus jijik? Bukankah kita sama-sama manusia? Jika paman adalah siluman, maka aku akan takut sekaligus jijik. Hahaha …" semua orang yang mendengar jawaban Shin Shui ikut tertawa karenanya.


Acara makan siang bersama itu diisii dengan canda tawa. Rasanya momen ini benar-benar tidak akan dilupakan di hati Shin Shui.

__ADS_1


__ADS_2