
Shin Shui sudah empat hari pergi dari istana kekaisaran untuk menuju ke perbatasan selatan guna mencari tanaman Bunga Seribu Khasiat. Selama dua hari ini, pemuda biru itu tidak menemukan persoalan berarti didalam perjalanannya.
Meskipun kekuatan Shin Shui turun dua tingkatan, tapi ternyata kenyataan itu tidak memengaruhi dalam hal kecepatan ilmu meringankan tubuh.
Karena ternyata ilmu meringankan tubuhnya masih sama cepat seperti saat dia berada di tingkatan Pendekar Dewa tahap tujuh awal.
Saat ini hari sudah sore, matahari sudah memancarkan sinar jingganya ke ruang bumi. Suara burung-burung yang akan kembali ke sarang terdengar riuh.
Shin Shui berjalan santai dengan burung phoenix biru yang bertengger pada pundaknya di sebuah jalan setapak yang agak besar tapi tidak ramai orang lewat. Pemuda biru itu berjalan santai sambil menikmati pemandangan yang indah itu.
Di kanan kiri jalan terdapat pohon cemara menjulang tinggi berjejer. Ada juga bunga-bunga cantik yang memberikan harum wangi. Shin Shui begitu menikmati suasana ini.
Pemuda biru itu terus berjalan hingga menemui sebuah gerbang masuk kota. Diatas gerbang itu tertulis "Selamat datang di kota Hui-Han".
Shin Shui berjalan perlahan memasuki kota Hui-Han itu. Ternyata kota tersebut termasuk sebuah kota yang besar. Meskipun kondisi sudah sore, tapi masih banyak juga orang-orang berlalu-lalang disana.
Lampu-lampu jalan sudah menyala karena memang malam akan tiba. Pemuda biru itu sedikit mempercepat langkahnya untuk segera mencari sebuah penginapan.
Tak perlu waktu lama, hanya beberapa saat saja dia sudah menemukan sebuah restoran sekaligus ada penginapan yang berada diatasnya. Shin Shui lalu memasuki restoran tersebut dengan langkah ringan.
"Selamat datang di Restoran Hui-Han tuan muda," kata seorang pelayan wanita menyambut Shin Shui dengan ramah dan hormat.
"Terimakasih. Aku memesan satu buah kamar dan juga pesan makanan terenak disini," katanya sambil melangkah masuk.
Ternyata di dalam restoran pun cukup ramai orang-orang yang sedang makan ataupun minum arak bersama rekan-rekannya. Dilihat dari cara mereka berpakaian, tahulah Shin Shui bahwa semua pengunjung restoran merupakan orang-orang kaya.
Semua pengunjung memakai pakaian yang mewah. Meskipun sebagian ada yang berpenampilan pendekar, tapi mereka pun memakai pakaian mewah juga.
__ADS_1
Sedangkan Shin Shui hanya memakai pakaian serba biru ringkas. Dia tidak memakai zirah ataupun kalung pusaka, karena kedua pusakanya itu sudah hancur ketika bertarung dengam Raja Iblis Merah.
Tapi meskipun pakaiannya sederhana, wajah dan pancaran yang keluar dari tubuhnya lah yang membuat pelayan tadi percaya bahwa Shin Shui bukanlah orang sembarangan.
Sebab seperti yang kita ketahui, kebanyakan manusia itu akan menilai manusia lain dari luarnya saja. Padahal, sampul buku yang terlihat sederhana sekalipun, belum tentu isinya sama sederhananya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan Shin Shui pun tiba. Seorang pelayan mengantarkan pesanannya dengan seguci arak wangi.
"Silahkan tuan muda. Selamat menikmati …" kata pelayan itu kepada Shin Shui.
"Terimakasih." jawabnya.
Pelayan itupun lalu pergi lagi ke dapur. Sedangkan Shin Shui, tanpa menunggu lebih lama lagi karena perutnya sudah sangat lapar, dia langsung menyantap makanan itu dengan lahap.
Sepeluh menit kemudian, Shin Shui pun sudah menghabiskan makanannya. Ketika lapar, kadang siapapun tidak memikirkan sesuatu di sekitarnya.
Meskipun kondisi restoran semakin ramai, tapi Shin Shui tetap memasang telinga secara tajam. Karena biasanya, restoran sering menjadi sebuah tempat keributan ataupun informasi-informasi penting.
Hal ini terjadi karena restoran adalah sebuah tempat yang kadang dijadikan pertemuan oleh para pendekar.
Ternyata benar dugaan Lao Yi, meskipun perang besar di kekaisaran Wei terjadi begitu luar biasa, tapi ternyata berita itu belum sampai ke tempat ini. Mungkin karena memang jaraknya jauh.
Tak terasa hari sudah semakin malam, perlahan orang-orang yang memenuhi restoran mulai pergi. Shin Shui langsung naik ke atas untuk segera beristirahat.
Tapi sesampainya di atas, malah kedua mata pemuda biru itu tidak bisa terpejam. Entah kenapa, dia sendiri tidak tahu.
Karena dipaksa beberapa kali juga tidak bisa tidur, akhirnya Shin Shui memilih untuk duduk di jendela sambil memandangi pemandangan kota Hui-Han yang ternyata lebih indah jika malam hari.
__ADS_1
Angin yang sepoi-sepoi menerpa dirinya dengan lembut. Udara yang sejuk dengan rembulan yang bersinar terang menambah kenyamanan itu. Bau harum bunga-bunga kembali tercium oleh hidungnya yang tajam. Dia sungguh menikmati ketenangan ini.
Tapi ketenangan itu tak lama, karena agak jauh didepan sana, Shin Shui mendengar adanya suara kegaduhan seperti pertarungan yang cukup ramai.
Tanpa basa-basi lagi, pemuda biru itu lalu melesat ke arah sumber suara lewat atap bangunan yang berjejer untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian, Shin Shui sudah tiba di asal sumber kegaduhan tadi. Sumber suara itu datang dari sebuah bangunan mirip sekte kelas menengah yang agak kuno. Ternyata benar dugaannya, disana sedang terjadi sebuah pertarungan yang melibatkan cukup banyak orang.
Kira-kira ada sekitar dua puluh orang yang sedang bertarung dengan sengit. Pertarungan itu berlangsung seru, karena kedua belah pihak terlihat seimbang.
Kedua pihak itu ternyata memiliki warna pakaian yang sama, yaitu berwarna hijau. Jika dilihat dari segi pakaian, sepertinya ini pertarungan sesama sekte. Karena pakaian mereka terlihat sama.
Tapi entah apa yang terjadi sebenarnya, karena Shin Shui belum mengetahui pasti. Dia hanya memperhatikan saja dari sebuah atap yang jaraknya agak jauh sedikit.
"Sudahlah, lebih baik mengaku saja bahwa sekte Daun Hijau sekarang sudah berpindah haluan menjadi sekte aliran hitam. Tidak perlu mengelak, sudah banyak kabar beredar tentang kejahatan sekte ini," kata salah seorang dengan nada agak tinggi sambil menghentikan pertarungan sejenak.
"Jangan sembarangan menuduh. Selama ini, sekte Daun Hijau selalu bertindak layaknya sekte aliran putih," jawab seseorang.
"Maling mana mau ngaku. Panggilkan kepala tetua keparat itu, aku ingin bertemu dengannya," bentak orang tadi.
"Tidak perlu susah payah. Aku bisa datang sendiri," kata seseorang yang tiba-tiba saja ada diantara mereka.
"Kepala tetua …" kata salah seorang yang langsung memberi hormat.
"Ada apa malam-malam begini datang kemari? Belum puas kau memfitnah sekte Daun Hijau?" tanya orang yang disebut kepala tetua.
"Hahaha … bukan fitnah. Memang faktanya sekte Daun Hijau sudah pindah haluan. Memalukan," kata orang yang membentak tadi.
__ADS_1
"Tidak usah basa-basi lagi, terimalah seranganku ini …" tiba-tiba si orang itu menyerang kembali bersama rekan-rekannya.