
Suasana disana saat ini begitu sunyi sepi. Pertarungan berhenti sejenak. Keduanya saling pandang satu sama lain.
Seolah mereka merasa penasaran akan kekuatan asli lawannya. Deru angin perlahan mengecil. Udara perlahan mulai normal. Tapi hawa kematian semakin kental.
Shin Shui menyarungkan kembali Pedang Halilintar. Dia berniat untuk bertarung dengan tangan kosong. Karena jurus yang dia miliki lebih banyak mengandalkan kedua tangannya daripada pedang pusaka tersebut.
"Aku tidak boleh berlama-lama lagi. Tenaga dalamku hanya tersisa tidak lebih dari setengahnya saja. Benar, aku akan mengambil keputusan nekad," gumam Shin Shui.
Pemuda biru itu melangkahkan kakinya selangkah ke depan. Angin menderu kencang kembali. Gemuruh halilintar terdengar lagi.
"Mari kita akhiri ini. Kau yang mati, atau aku yang akan tewas …" kata Shin Shui sambil memandang tajam raja hutan perbatasan itu.
Setelah selesai berkata demikian, Shin Shui lalu merentangkan kedua tangannya ke samping. Matanya dipejamkan. Seketika tanah yang dia injak amblas cukup dalam.
"Tapak Amarah Dewa Halilintar…"
"WUSHH …"
Shin Shui mengirimkan serangan gelombang sebuah tapak yang mengerikan. Tanah bergetar hebat. Gelombang itu disertai kilatan energi halilintar yang menjadikan jurus tersebut semakin mengerikan.
Meskipun jurus perpaduan ini tidak sempurna, tapi setidaknya mampu membunuh pendekar yang setara dengannya saat ini.
Shin Shui tahu jika jurus ini tidak akan mampu membunuh raja yang menjadi lawannya kini. Tapi setidaknya dia mungkin bisa membuatnya terluka.
Akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh Shin Shui sebelumnya.
Raja dari kerajaan hutan perbatasan itu mengeluarkan juga sebuah jurus pukulan berwarna hitam yang melesat ke depan untuk menghalau jurus tapak yang dilancarkan oleh Shin Shui.
Dua jurus mengerikan bertemu ditengah-tengah hingga menimbulkan ledakan hebat. Sebuah lubang berdiameter dua puluh meter tercipta.
Bangunan kerajaan hutan perbatasan berguncang seiring dengan berguncangnya tanah. Baik Shin Shui maupun raja hutan perbatasan kembali terpental.
Darah kembali dimuntahkan oleh Shin Shui. Warnanya agak kehitaman. Seperti pemuda biru itu terluka dalam sangat parah.
__ADS_1
Raja itu pun sama. Dia menabrak kerajaannya sendiri. Darah keluar dari mulutnya cukup banyak. Baju dari kulit binatangnya koyak.
Dia mengusut darah itu lalu perlahan bangkit berdiri lagi. Meskipun terluka dalam, tapi hal yang membuat Shin Shui tercengang adalah karena lawannya itu tidak memperlihatkan rasa sakit.
Wajahnya masih tenang dan dingin. Bahkan aura hitam yang menyelimuti dirinya kembali membesar.
"Di-dia memang bukan manusia. Tidak ada cara lagi selain mengeluarkan jurus yang bisa aku andalkan," gumam Shin Shui sambil berusaha berdiri.
"Arghh …"
Pemuda biru itu berteriak sangat keras hingga membuat tanah yang retak terangkat. Pohon-pohon disekitarnya tercabut dan beterbangan ke segala arah.
Gemuruh halilintar terdengar semakin ramai. Langit benar-benar mendung. Hawa kematian sangat kental. Beberapa kali halilintar menyambar tubuh Shin Shui.
Di sisi lain, raja itu pun sama. Dia mengeluarkan jurus tertinggi yang dia miliki saat ini. Tubuhnya lenyap dari pandangan karena saking pekatnya aura hitam yang menyelimuti dirinya.
Perlahan tapi pasti aura hitam itu membentuk sebuah raksasa bermata merah. Tingginya sekitar tiga tombak. Di tangan kanannya ada sebuah tongkat hitam berbentuk bulan sabit.
Tatapan matanya tajam mengarah kepada Shin Shui. Bumi masih saja bergetar ketika dua pendekar itu mengeluarkan jurus yang sangat mengerikan.
"Dewa Halilintar Mengguncang Semesta …"
"WUSHH …"
Kondisi Shin Shui saat ini tak kalah mengerikan. Jurus terkuat yang bisa menghancurkan bangunan sekte menangah sudah dia keluarkan.
Shin Shui tahu bahwa ini sangat berisiko. Tapi dia tidak mau berpikir panjang. Menurutnya, hanya inilah satu-satunya cara untuk bisa mengalahkan raja itu.
"WUSHH …"
Shin Shui melesat dengan kecepatan diluar nalar. Kilatan halilintar yang menyelimuti tubuhnya semakin mengerikan. Langit terus bergemuruh. Seolah dia merasakan amarah Shin Shui.
Raja itu tak mau kalah. Dia pun melesat untuk menyambut serangan itu. Keduanya benar-benar bertekad untuk mengadu nyawa.
__ADS_1
Di sisi lain, phoenix biru dan dua siluman kera bersaudara sudah menunggu Shin Shui diluar hutan perbatasan selatan.
Mereka menunggu dengan perasaan khawatir. Firasat mereka mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi saat ini.
Ketika ketiganya sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, phoenix biru tiba-tiba disadarkan dengan sambaran halilintar yang berbeda daripada biasanya.
Dia langsung tahu akan hal ini. Tanpa berkata apa-apa lagi, burung legenda itu langsung masuk melesat kembali ke dalam hutan perbatasan.
San ong tadinya berniat untuk mengejar, tapi segera ditahan oleh Ong san.
"Jangan kesana. Kita tunggu saja disini, lebih baik kita menjaga Bunga Seribu Khasiat ini dengan baik. Tuan muda akan baik-baik saja. Percayalah," kata Ong san sambil memegangi pundak kanan saudaranya itu.
"Baiklah. Aku percaya," jawab San ong dengan suara lemas dan khawatir.
Sementara didalam hutan di arena pertarungan, dua jurus mengerikan itu hampir bertemu. Semakin lama tanah semakin berguncang hebat.
Tak lama kemudian dua jurus beradu. Cahaya biru bercampur hitam menjadi satu hingga membentuk sebuah bulatan raksasa.
Dua jurus itu beradu cukup lama, hingga akhirnya bulatan tadi meledak hebat. Kerajaan hutan perbatasan selatan hancur rata dengan tanah.
Pohon-pohon yang berjarak sekitar seratus meter, semuanya tumbang. Rata. Shin Shui dan raja kerajaan hutan perbatasan terpental jauh.
Bahkan masing-masing dari mereka sudah tidak tahu lagi bagaimana kondisi musuhnya. Shin Shui menabrak beberapa pohon hingga tumbang dan tubuhnya berhenti meluncur ketika menabrak pohon yang sangat besar.
Raja hutan perbatasan terpental lebih jauh lagi. Tubuhnya sudah koyak ketika beradu jurus dengan Shin Shui. Sehingga ketika dia terpental, sebenarnya dia sudah tewas.
Shin Shui tidak bisa bangun lagi. Bahkan kesadarannya perlahan memudar. Matanya mulai tertutup. Pakaiannya koyak hebat. Luka dalam dan luka luarnya sama-sama parah.
"Pertarungan yang menarik. Setidaknya aku sudah berhasil menemukan Bunga Seribu Khasiat yang akan menyelamatkan nyawa yang terluka di istana kekaisaran sana. Sehingga aku tidak perlu khawatir jika Pangeran Iblis menyerang untuk membalaskan dengan kematian ayahnya. Yah … benar, musuh terberat yang tersisa hanya dia sendiri. Karena firasatku mengatakan bahwa dia masih hidup. Hahhh … perjuanganku berakhir disini," gumam Shin Shui sambil tersenyum simpul.
Seolah bebannya sudah terangkat ketika Bunga Seribu Khasiat sudah ditemukan. Pemuda biru itu tidak memperlihatkan rasa sakit, hanya rasa bahagia yang terpancar dari raut wajahnya.
Sementara itu, phoenix biru saat ini sedang melesat dengan kecepatan mustahil. Dia mempercepat dirinya ketika mengetahui dua sinar hitam dan biru meledak tadi.
__ADS_1
"Aku harus cepat sebelum terlambat …" ucapnya lirih sambil terus melesat.