
Di istana kekaisaran Wei …
Kaisar Wei An memerintahkan delapan belas ribu pasukan istananya untuk menjaga istana, sedangkan sisanya disuruh untuk menjaga kemanan disekitarnya. Tak lupa juga pasukan itu dipimpin oleh para pendekar tingkat tinggi yang dimiliki istana kekaisaran.
Sedangkan pasukan aliansi, saat ini semuanya sudah siap diseluruh sudut seperti apa yang diperintahkan oleh Shin Shui ketika rapat bersama tetua sekaligus kepala tetua yang hadir.
Semuanya sudah siap dalam barisannya masing-masing. Siap untuk menyambut serangan besar dan siap untuk berkorban demi tanah air.
Dibagian tengah, tokoh-tokoh utama dunia persilatan sudah berkumpul. Kepala tetua dari tujuh sekte yang hadir dalam rapat pembentukan aliansi pertama ada disana. Termasuk sang kaisar dan bahkan Shin Shui sendiri.
Semua tokoh dunia persilatan itu sudah siap bertempur hingga titik darah penghabisan. Shin Shui sendiri sudah memantapkan dirinya dengan semangat yang berkobar bagaikan api yang membara.
Mereka semua berjejer rapi dibarisan paling depan. Dibelakang mereka ada ribuan murid yang siap menanti komando dari para tokoh besar itu.
Sebelum semua ini, kaisar sudah mengamankan keluarga dan juga orang-orang istana yang tidak terlihat dalam perang besar ini. Para rakyat pun diungsikan, sehingga perang ini tidak akan memakan korban yang tidak bersalah.
Tapi pastinya, akan memakan korban para pendekar yang turut andil. Selang satu jam kemudian, didepan sana terdengar gemuruh suara yang sedikit menyeramkan. Bahkan tanah pun terasa sedikit bergetar.
Tak lama kemudian, terlihat sudah puluhan ribu pasukan musuh datang. Jumlahnya kira-kira sepuluh ribu. Mereka semua memakai pakaian dengan lambang aliansi aliran hitam.
Bendera yang begitu besar dan megah terlihat berkibar. Kereta kuda dan ribuan kuda berjejer rapi memandang ke arah pasukan aliansi aliran putih.
"Semuanya lakukan persiapan. Jangan ada yang bergerak sebelum ada komando. Ini bukan saatnya untuk main-main, sekali ada yang bergerak tanpa komando, aku tidak akan segan untuk menebas batang lehernya," kata Shin Shui dengan tegas.
Suaranya terdengar ke seluruh penjuru istana karena suara itu dibarengi dengan tenaga dalam dahsyat.
"Baikkk …" jawab semua orang serempak.
__ADS_1
Dibarisan aliansi tiga sekte besar aliran hitam …
Raja Iblis Merah dan pemimpin utama lainnya merasa terkejut atas hal ini. Mereka yang awalnya berniat menyerang langsung pun tidak jadi.
Kini semua orang itu memandang berkeliling ke arah lautan manusia yang jaraknya sekitar tiga ratus meter darinya. Sungguh, dia tidak pernah membayangkan bahwa penyerangan yang tadinya rahasia ini akan lebih dulu diketahui oleh musuh.
"Tidak kusangka mereka mengetahui pergerakan kita. Tapi apa boleh buat, kita bukan pengecut. Mari kita segera mulai perang besar ini," kata Raja Iblis Merah berseru lantang kepada semua pasukannya.
"Baikkk …" jawab semua pasukan. Persatuan suara itu tak kalah bergemuruhnya dengan suara pasukan aliansi besar aliran putih.
"Kita serang semua sudut. Yang terkuat fokus menyerang ke tengah. Semua pemimpin harus langsung turun tangan dan berada dibarisan paling depan untuk membantai semua pasukan musuh," ucap Raja Iblis Merah.
Semua pasukan itu menjawab kembali sehingga terdengar lagi suara bergemuruh. Raja Iblis Merah dan semua pemimpin langsung mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah besar.
Sehingga hawa disana nampak campur aduk. Udara semakin padat sehingga sulit untuk bernafas. Kini semua pemimpin aliansi tiga sekte besar aliran hitam sudah diselimuti energi yang mereka keluarkan barusan.
Di barisan aliansi besar aliran putih pun sudah bersiap untuk menyambut serbuan musuh yang akan segera datang.
Derap langkah kaki kuda serta langkah kaki pasukan menggema. Pasukan musuh semakin dekat, tapi Shin Shui belum memberikan komando. Ketika pasukan musuh berada pada jarak seratus meter, barulah dia memberi aba-aba.
"Semuanya siap sambut serangan musuh itu. Kalian serang pasukannya, jangan sekali-kali menyerang pemimpinnya," kata Shin Shui dengan suara lantang.
Tak lama setelah itu, dia pun mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki berbarengan bersama seluruh pemimpin. Hal seperti tadi terjadi, udara menjadi berat dan hawa tidak karuan.
Energi bermacam warna sudah menyelimuti semua tokoh besar yang berada di pihak aliansi aliran putih. Shin Shui sendiri seperti biasanya, aura biru menyelimuti seluruh tubuh. Tapi kali ini jauh lebih tiga kali besar.
Zirah Perang Halilintar langsung dia aktifkan. Kekuatan Kalung Kristal Halilintar langsung dia keluarkan. Angin berhembus menerpa mereka ketika pasukan musuh sudah semakin dekat.
__ADS_1
Yun Mei pun tak kalah hebat, wanita itu kini sudah diselimuti energi berwarna merah muda. Beberapa waktu lalu dia baru naik tingkat, kini dia sudah berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap lima pertengahan.
Pedang Naga Emas ditangannya semakin berkilau. Ternyata ketika Shin Shui pergi, dia dengan giat menggabungkan jurus pedang dari Kitab Dewi Pedang dengan jurus Cun Fei. Sehingga kini mereka bisa kompak.
"Serang …" seru Shin Shui.
Bergetarlah seluruh tanah disana. Suara teriakan semua orang seperti mengguncang langit. Lapangan yang sangat luas, kini dipenuhi puluhan ribu manusia. Pertumpahan darah tak bisa dihindari lagi.
Dibawah langit yang mendung tiada angin, tiada hujan, sebuah perang besar terjadi. Sejarah perang besar kekaisaran Wei akan dicatat dan akan menjadi cerita bagi generasi mereka.
Puluhan ribu pasukan dari dua belah pihak pun akhirnya bertemu ditengah jalan. Pertempuran yang sebesar ini baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah kekaisaran Wei.
Jika ini gagal, maka habis sudah riwayat kekaisaran Wei. Tapi jika mereka berhasil memenangkan perang besar ini, maka nama Kaisar Wei An akan terus berkibar sepanjang masa karena sudah berhasil menyelamatkan tanah air.
Bahkan para tokoh penting pun pasti akan dikenang jika kelak mereka tiada.
Puluhan ribu prajurit kini sudah saling serang. Dentingan senjata menggetarkan seluruh kolong langit. Percikan bunga api sudah nampak indah tiada henti.
Juga warna-warni dari energi masing-masing pemimpin terlihat begitu anggun. Sayang, dibalik semua itu ada sebuah tragedi yang tidak ingin dirasakan oleh siapapun.
Kini seluruh wilayah kekaisaran sudah menjadi medan pertumpahan darah. Korban-korban sudah mulai berjatuhan dari kedua belah pihak.
Suara yang menggetarkan hati karena menemui ajal terdengar jelas ditelinga setiap orang. Pasukan kedua belah pihak begitu semangat meskipun tahu bahwa mereka akan menjadi korban.
Suara-suara sebagai penyemangat terus diteriakkan tiada hentinya. Bangkai kuda yang tewas tertembus anak panah ataupun tertancap ujung tombak dan tersayat oleh pedang mulai bergelimpangan.
Bangkai kuda dan mayat manusia bersatu dan terinjak-injak. Sungguh, rasanya mereka seperti terhina. Ketika hidup disanjung, ketika tewas diinjak-injak.
__ADS_1
Pasukan terus berkurang secara perlahan. Mayat-mayat manusia semakin banyak bergelimpangan bagaikan domba yang tewas kelaparan.