
"Tidak tahu malu!!! Pendekar macam apa kalian yang bisanya hanya main keroyokan heh?" bentak pendekar muda yang tiba-tiba datang itu yang tak lain adalah Shin Shui si Pendekar Halilintar.
"Heh bocah, siapa kiranya kau berani mencampuri urusan kami? Apakah kau tidak tahu siapa kami?" bentak salah seorang dari mereka.
"Yang aku tahu kalian hanyalah pendekar rendahan yang beraninya keroyokan," kata Shin Shui dengan dingin.
"Kurang ajar!!! Apakah kau tidak tahu bahwa kami adalah Lima Perampok Bayangan Setan?" kata salah seorang itu yang mengaku Lima Perampok Bayangan Setan.
"Bayangan setan? Bukankah kalian sendiri setannya?" ucap Shin Shui sambil mengeluarkan sifat 'gila'nya.
"Lancang!!! Agaknya kau memang mau ****** bersama biksu tua itu,"
Tanpa banyak berkata lagi, tiba-tiba Lima Perampok Bayangan Setan langsung menyerang Shin Shui. Mereka maju secara bersamaan dan mengepung Shin Shui dari segala arah.
"Kau tidak bisa lari lagi bocah. Terimalah kematianmu," katanya.
"Siapa juga yang mau lari? Sekalipun ada dua puluh bayangan setan, aku tidak akan mundur, apalagi harus lari," ucap Shin Shui memanas-manasi Lima Perampok Bayangan Setan.
Marahlah kelima pendekar itu atas ucapan Shin Shui barusan. Mereka kembali menyerang Shin Shui dengan ganas. Gerakannya lebih cepat dan tajam daripada sebelumnya.
Mungkin karena mereka tersulut amarahnya. Tapi Shin Shui tidak gentar, dia melompat ke tengah-tengah supaya lebih leluasa lagi. Yun Mei langsung menghampiri biksu tua itu sambil berusaha untuk mengobati kalau biksu itu terluka.
Shin Shui mulai bertarung dengan sengit, kilatan-kilatan pedang mulai terlihat dan sudah menggulung mereka semua. Percikan kembang api terlihat indah walaupun di siang hari.
Suara beradunya senjata pusaka pun terdengar menggema diseluruh hutan itu.
"TRANGG …"
"TRANGG …"
Tiba-tiba Lima Perampok Bayangan Setan sangat kaget ketika pedang mereka beradu sangat keras dengan Shin Shui. Lima perampok itu merasakan betapa tangannya bergetar hebat dan mati rasa saat beradu dengan pedang Shin Shui.
Kelimanya langsung mundur beberapa tombak ke belakang. Mereka masih merasa kaget bahwa pendekar muda yang sedang mereka hadapi ternyata kekuatannya lebih besar daripada mereka sendiri.
"Bocah, sebenarnya siapa kau ini? Dan kenapa juga kau ikut campur urusanku?" kata salahsatu dari mereka.
__ADS_1
"Namaku Shin Shui, dikenal dengan julukan Pendekar Halilintar dan bocah 'gila'. Aku ikut campur karena paling tidak suka melihat manusia iblis seperti kalian berkeliaran dan membuat kekacauan," kata Shin Shui menatap tajam Lima Perampok Bayangan Setan itu.
"Degg …"
Jantung Lima Perampok Bayangan Setan langsung berdetak dengan kencang dan tidak karuan. Nafasnya tersengal beberapa saat. Pasalnya karena mereka tahu siapa itu Shin Shui atau si bocah 'gila'.
Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Apalagi menurut kabar yang beredar, bocah bernama Shin Shui tidak akan melepaskan musuhnya. Jadi mau tidak mau, mereka harus tetap melawan Shin Shui.
Meskipun hati mereka gentar dan harapan untuk menang tidak ada lagi, tapi Lima Perampok Bayangan Setan tetap berniat untuk melanjutkan pertarungannya. Tiba-tiba mereka berpencar kembali ke segala arah.
Senjata pusaka mereka sudah dipegang didepan dada. Tapi nampaknya mereka akan mengeluarkan jurus-jurus senjata pusakanya. Mendadak keluar asap berwarna hitam pekat, Lima Perampok Bayangan Setan itu mulai diselimuti asap hitam.
"Tarian Pohon Paku …"
"Tusukan Seribu Penyesalan …"
"Hujan Jarum Racun …"
"Golok Setan Merah …"
Lima Perampok Bayangan Setan mendadak mengeluarkan jurus-jurus senjata mereka, deru angin yang membawa hawa mengerikan mulai terasa menerpa tubuh. Daun-daun kering mulai berterbangan dan membentuk bagaikan angin pu*ing beliung kecil.
Di sisi lain, Shin Shui pun tak mau kalah, pemuda biru itu langsung mengaktifkan kekuatan dari Kalung Kristal Halilintar dan Zirah Perang Halilintar.
Hal ini dia lakukan karena sadar bahwa jurus-jurus senjata yang dikeluarkan lawan itu sangat berbahaya. Tiba-tiba cahaya biru dari zirah itu langsung berubah terang, tak lama muncul pula kilatan halilintar yang membungkus Shin Shui.
Melihat ini, bukan hanya biksu tua saja yang tercengang, bahkan Lima Perampok Bayangan Setan pun sama tercengang. Sebab, selama mereka malang-melintang didunia persilatan, rasanya baru kali ini ada seorang pendekar seperti Shin Shui ini.
Seluruh tubuh Shin Shui kini sudah dipenuhi kilatan halilintar. Pemuda biru itu sudah siap menyambut serangan musuh yang akan datang kepadanya.
"WUSHH …"
"TRANGG …"
"TRANGG …"
__ADS_1
Senjata pusaka mereka kembali beradu dengan begitu dahsyat. Suara dan efek yang ditimbulkan lebih keras daripada tadi. Setiap ayunan senjata mereka selalu saja menimbulkan cahaya yang berkilau terang.
Shin Shui diserang dari segala arah. Tapi pemuda biru itu masih bisa mengimbangi gerakan dan tenaga yang dikeluarkan oleh lawannya. Dia memutar-mutar Pedang Halilintar untuk menahan serangan sambil berusaha menyerang balik.
Tapi siapa sangka, meskipun dirinya sudah berusaha untuk hati-hati dan sewaspada mungkin, tetap saja dia kecolongan juga. Sebuah tusukan dan sabetan pedang datang dari arah belakang dan sebelah kanannya.
Bahkan lawannya sudah begitu senang karena pasti Shin Shui akan tewas seketika oleh jurus-jurus senjata mereka. Tapi yang terjadi selanjutnya sungguh diluar akal pikiran mereka.
Jurus-jurus mereka bahkan tidak mampu menembus pakaian pemuda biru yang kini jadi lawannya.
"TRANGG …"
"WUSHH …"
Jurus-jurus senjata yang dilancarkan bahkan terpental kembali. Seolah senjata mereka menghantam sebuah batu yang kerasnya bukan main.
Melihat ini, Shin Shui geram juga ternyata. Untung saja dia sudah mengaktifkan kekuatan Zirah Perang Halilintar. Kalau tidak, habislah sudah tubuhnya terkoyak.
"Manusia rendahan … Putaran Pedang Halilintar …"
Tiba-tiba Shin Shui berbalik ke belakang ke arah dua perampok itu, dia langsung mengubah gerakannya. Kali ini serangannya bukan menusuk, tetapi dia terus memutar-mutar Pedang Halilintarnya hingga terlihat seperti baling-baling.
Shin Shui terus melakukan gerakan itu sambil maju menyerang tanpa memberikan kelonggaran. Perlahan kedua perampok itu terdesak juga karena serangan Shin Shui lebih kuat dari mereka. Dan …
"Ahhh …" mati.
"Ahhh …" mati lagi.
Kedua pendekar dari Kelompok Perampok Bayangan Setan tewas ditangan Shin Shui dengan luka robekan yang besar dibagian dada dan perutnya.
Tentu saja ketiga Kelompok Perampok Setan Bayangan yang tersisa marahnya bukan main. Ketiganya langsung menyarungkan kembali senjatanya masing-masing.
Tiba-tiba ketiganya berkumpul disatu titik tepat didepan Shin Shui berdiri saat ini. Sorot matanya melambangkan bahwa kemarahan mereka kepada Shin Shui sudah sampai dipuncak.
"Berani kau membunuh saudara kami, berarti kau juga berani menanggung akibatnya," kata salahsatu dari mereka mengancam Shin Shui.
__ADS_1
"Tentu saja aku berani, dan kalian juga aku pastikan akan segera menyusul kedua manusia iblis itu," kata Shin Shui dengan tatapan menusuk. Seluruh tubuhnya masih diselimuti kilatan halilintar yang menambah kesannya menjadi lebih mengerikan.