
"Kebetulan, bagaimana kalau kita pergi bersama setelah ini? Aku juga akan kesana." kata pria tua.
"Dengan senang hati senior." balas Shin Shui.
Setelah berbincang ringan beberapa saat dengan pria paruh baya, akhirnya arak yang tadi dipesan sudah habis. Shin Shui akan segera pergi ke tempat acara penyambutan gerhana bulan, kebetulan jaraknya tidak jauh dari Restoran Kayu Hitam.
Setelah membayar apa yang tadi dipesan oleh dirinya dan pria paruh tua itu, Shin Shui segera pergi bersaman karena acaranya sebentar lagi akan dimulai.
Shin Shui sudah tiba dilokasi, disana terlihat ada ratusan orang yang menghadiri acara penyambutan gerhana bulan. Bagi warga kota Kayu Besi, acara ini sudah menjadi acara penting bahkan wajib untuk diikuti.
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, akhirnya acara dimulai. Kondisi bulan saat ini sudah mulai tertutup, ratusan kembang api mulai dinyalakan.
Suara ledakan dan percikan kembang api yang berwarna-warni menghiasi langit malam. Bagi Shin Shui, ini adalah pemandangan yang indah sekaligus menakjubkan.
Sekarang bulan sudah tertutup sempurna, langit malam yang sempat beberapa saat dihiasi warna-warni percikan kembang api saat ini menjadi gelap kembali.
Acara persembahan akhirnya tiba, suasana hening, yang terdengar hanyalah suara binatang malam. Orang-orang yang hadir sama sekali tidak membuka suara, termasuk Shin Shui.
Didepan altar, terlihat lima orang bertubuh tinggi memakai pakaian serba hitam, masing-masing dari mereka membawa seorang gadis yang baru berumur sekitar delapan belas tahun. Gadis tersebut akan dijadikan tumbal atau persembahan oleh penduduk setempat.
Melihat kejadian itu, Shin Shui hanya bisa mengamati keadaan sekitarnya dengan seksama, 'aku merasa ada sesuatu yang ganjil. Sebaiknya aku tetap menjaga kewaspadaan.' batin Shin Shui.
Tak lama, terlihat ada lima orang yang memakai jubah hitam datang, entah darimana datangnya orang-orang itu, yang jelas Shin Shui sendiri tidak menyadari kedatangannya.
Kelima orang tersebut datang untuk mengambil gadis yang dijadikan persembahan, "terimalah persembahan kami untuk dewa, tolong jaga kota kami dari bencana." ucap orang-orang serempak.
Penduduk kota Kayu Besi mempercayai bahwa kelima orang tersebut adalah bawahan dari dewa. Dewa yang selalu menjaga Kota Kayu Besi dari malapetaka, tentunya dengan syarat jika penduduk memberikan persembahan seperti sekarang.
__ADS_1
Setelah para gadis dipersembahkan, kelima orang tersebut langsung segera pergi.
Shin Shui yang sedaritadi memperhatikan berniat untuk mengejar bersama pria tua kenalannya karena merasakan adanya keganjilan dari acara ini. "Ayo senior kita ikuti kemana mereka pergi, aku yakin ini hanyalah pembodohan." ajak Shin Shui.
Segera saja pemuda bersama pria tua itu pergi mengejar kelima sosok yang memakai jubah hitam meskipun acaranya belum selesai.
Suasana kota Kayu Besi terlihat sepi saat ini, hal itu karena seluruh penduduknya pergi menghadiri acara persembahan. Tidak ada penduduk walau satu orang pun yang terlihat berkeliaran seperti beberapa saat lalu.
Awalnya Shin Shui kehilangan jejak kelima orang tersebut, tapi setelah melakukan pengejaran sekitar sepuluh menit dan menambah kecepatannya akhirnya dia bisa menyusul.
Ternyata kelima orang itu menuju ke sebuah hutan yang ada di Kota Kayu Besi. "Senior, hutan apa ini namanya?" tanya Shun Shui setelah dia memasuki sebuah hutan ditengah gelapnya malam.
"Ini namanya Hutan Misteri, jarang sekali ada orang yang pergi kesini. Aku juga sedikit heran kenapa orang tadi menuju Hutan Misteri ini, tapi mari kita ikuti sampai mana. Ngomong-ngomong aku belum tahu namamu anak muda, siapa namamu," tanya pria tua yang bersama Shin Shui.
"Namaku Shin Shui senior. Senior sendiri?".
Setelah melakukan pengejaran cukup lama, akhirnya Shin Shui sudah memasuki Hutan Misteri sangat dalam, suasana disana benar-benar gelap. Kelima orang tadi berhenti disebuah goa yang memiliki mulut lebar.
Mereka lalu memasuki goa tersebut dengan hati-hati. Shin Shui masih terus memperhatikan dari kejauhan, sejauh ini dia belum melakukan sesuatu apapun.
"Senior, ayo kita kesana supaya lebih dekat lagi," ajak Shin Shui kepada Guiyi.
"Ayo Shui'er."
Keduanya langsung segera melesat untuk mengawasi situasi dari dekat. Shin Shui ingin tahu lebih jauh apa yang akan dilakukan oleh kelima orang tadi.
Dia terus menelusuri goa tersebut hingga ke dalam, Shin Shui sedikit terkejut saat semakin masuk ke dalam goa. Terlebih karena goa itu semakin lebar, dinding goanya berwarna merah, disana juga terlihat ada tulang belulang mirip manusia.
__ADS_1
"Ketua, persembahan penduduk sekarang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Gadis-gadis yang mereka berikan sangat cantik." ucap salah satu dari kelima orang tadi sembari meletakkan gadis yang dibawa.
"Bagus … setelah aku menikmati tubuh para gadis ini, lakukan seperti biasanya. Dengan begitu, hanya tinggal meminum sepuluh darah gadis lagi maka aku bisa menguasai jurus terakhir yang diajarkan oleh Kitab Bulan Sabit Kegelapan … hahahaha," orang yang disebut ketua tersebut tertawa lantang.
Karena jarak Shin Shui dengan ketua itu cukup dekat, pemuda itu bisa mendengarkan apa yang dibicarakan oleh ketua dari lima orang berjubah hitam tadi.
Shin Shui sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia segera melesat dari tempat persembunyiannya dan menuju ke tetua yang saat ini akan menikmati tubuh para gadis, Guiyi mengikutinya dari belakang.
"Siapa kau?" tanya ketua itu sedikit kaget saat menyadari kehadiran Shin Shui dengan seorang pria tua.
"Aku Shin Shui, orang yang akan menghentikan sekaligus akan membunuhmu," jawab Shin Shui. Guiyi hanya diam dan memilih untuk memperhatikan gerak-gerik mereka.
"Oh … benarkah? Apa benar seorang pemuda sepertimu bisa melakukan hal itu kepadaku? Baiklah, perkenalkan aku Pendekar Bulan Sabit," jawab ketua itu.
Nada bicaranya tenang, tapi mengandung aura pembunuh yang diarahkan kepada Shin Shui.
"Apakah aku ada masalah denganmu? Kenapa kau ingin mencoba untuk membunuhku?" tanya Pendekar Bulan Sabit.
"Aku memang tidak ada masalah denganmu sebelumnya. Aku akan membunuhmu karena kau telah menebarkan benih kesesatan kepada penduduk Kota Kayu Besi. Aku paling tidak suka melihat iblis berkedok manusia spertimu, jadi bagiku kau memang pantas untuk mati," Shin Shui sekarang mulai mengeluarkan aura pembunuh untuk menekan lawannya.
"Ckckck … bocah ingusan berniat untuk membunuhku? Bahkan jika kau menyerangku bersama tua bangka itu aku rasa kalian tetap tidak akan bisa membunuhku … hahahaha."
Mendengar dirinya dihina, Guiyi mulai terpancing amarahnya. Tapi dengan segera Shin Shui berusaha untuk menenangkannya.
"Sombong sekali kau. Baiklah, akan aku buktikan bahwa aku bisa membunuhmu." kata Guiyi dengan nada tinggi. Pria tua itu benar-benar hilang kesabaran saat dirinya direndahkan.
Mereka langsung bersiap siaga untuk memulai pertarungan. Kelima orang yang memakai jubah hitam juga sepertinya akan turut andil dalam pertarungan ini. Sebab, bagaimana pun juga Pendekar Bulan Sabit adalah ketua mereka.
__ADS_1
"Serang kedua tikus itu!" ucap Pendekar Bulan Sabit kepada bawahannya. Segera saja kelima bawahannya langsung berlari ke arah Shin Shui dan Guiyi setelah mendapatkan perintah.