Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Dibawah Sang Rembulan


__ADS_3

"Hemmm … baiklah. Apakah ada lagi yang harus di bicarakan?" tanya Shin Shui.


"Aku mohon izin untuk bicara kepala tetua," kata Hong Liong sembari memberi hormat.


"Silahkan tetua Hong," balas Shin Shui.


"Terimakasih kepala tetua. Aku ingin memberikan sebuah usulan, bagaimana kalau untuk beberapa saat ini kita kirimkan murid-murid berbakat ke berbagai desa untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Sekaligus membantu para sekte yang sedang menghadapi masalah, tentunya dengan secara sukarela. Hal ini bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan sekte lain, sekaligus untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang kemunculan sekte Bukit Halilintar. Bagaimana?" tanya Hong Liong.


"Hemmm … memang itu yang harus kita lakukan. Jangan hanya sesaat, selamanya pun tidak masalah. Asalkan itu masalah kecil. Sekte Bukit Halilintar akan menjadi benteng pertahanan bagi kaum-kaum yang tertindas. "Berdiri paling depan untuk menegakkan keadilan dan menciptakan perdamaian". Ingat baik-baik slogan ini. Besok kirimkan segera murid berbakat ke wilayah-wilayah terdekat yang memiliki masalah," kata Shin Shui memberi perintah.


Awalnya memang pemuda itu sedikit malu-malu menyandang gelar sebagai kepala tetua sekte. Tapi sekarang, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Hong Liong, jiwa pendekar sejatinya mendadak muncul. Sekarang pemuda biru itu menunjukkan wibawanya bahwa dia memang pantas menjadi seorang pemimpin besar suatu saat nanti.


"Baik kepala tetua," jawab Hong Liong.


"Satu lagi, ketika kita melihat adanya penindasan dan kejahatan yang terjadi didepan mata, jangan pernah untuk dibiarkan. Baik kita sudah terlibat sebelumnya ataupun tidak tahu apa-apa, tapi ketika melihat hal seperti ini terjadi didepan mata … maka bagiku ini adalah hak dan kewajiban bagi kita yang mampu untuk menghentikannya. Jangan pandang siapa dan statusnya, entah itu aliran putih, netral, hitam, baik warga miskin ataupun kaya maka kita wajib membantu ketika mereka di posisi yang benar," tutur Shin Shui dengan tegas.


Kesemua tetua itu sedikit tersentak kaget. Terlebih Yashou, pendekar tua itu semakin yakin bahwa Shin Shui bisa melebihi gurunya, Lao Yi. Sifat pendekar sejatinya sudah menyatu didalam darah dan jiwanya, persis seperti Lao Yi.


Tidak ada yang menjawab dari mereka. Semua kepala tetua itu hanya menganggukkan kepalanya secara serentak. Karena tidak ada lagi hal penting yang dibahas, akhirnya rapat itu segera dibubarkan. Mereka berniat untuk segera melakukan istirahat setelah seharian menggelar acara peresmian sekte.


###


Shin Shui pun kini sedang berjalan santai bersama Yun Mei. Dia teringat akan janjinya untuk menghabiskan waktu dibawah sunyinya malam bersama gadis itu. Mungkin ada sesuatu yang akan mereka bicarakan, atau hanya sekedar melepas rindu? Entahlah.

__ADS_1


Tapi sampai sekarang belum ada yang bicara dari mereka. Keduanya masih terdiam membisu. Hingga akhirnya Yun Mei memecahkan keheningan.


"Maaf kepala tetua, jadi kita menghabiskan waktu berdua?" tanya Yun Mei sedikit kaku.


"Jadi, kenapa tidak? Ayo kita pergi ke tempat dahulu." ajak Shin Shui.


Pemuda tampan dan gadis cantik itu mulai menuju ke suatu tempat yang menjadi kenangan sampai sekarang. Benar, pohon sakura. Mereka akan menuju kesana lagi. Tak perlu waktu lama, hanya beberapa saat saja kini keduanya sudah tiba ke tempat yang dituju.


Shin Shui dan Yun Mei duduk bersender ke pohon sakura itu. Suasana yang nampak tenang dan langit cerah yang dihiasi bulan bintang rasanya menambah kesempurnaan. Keduanya kini sedang menatap sang rembulan yang bersinar terang dengan sangat indah.


Lembutnya angin malam yang menusuk tulang, menambah kesan syahdu ditempat itu. Belum ada yang bicara, muda mudi itu masih terdiam menatap sang dewi malam, keduanya seperti sedang mengkhayalkan sesuatu. Tapi entah apa itu.


"Kepala tetua, apakah ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Yun Mei membuka suara.


"Hei Memei, tolong jangan pakai sebutan itu saat seperti ini. Aku tidak suka, aku lebih suka kau memanggilku seperti biasanya. Jadilah Yun Mei yang aku kenal, aku tidak suka jika ada orang berlaku demikian padaku hanya karena sebuah jabatan. Bagiku jabatan tidaklah penting, jabatan itu hanyalah sementara dan sebuah amanah. Apa yang harus kita banggakan tentang jabatan?" kata Shin Shui. Matanya masih menatap ke arah Yun Mein.


Yun Mei perlahan mendudukkan kepalanya. Dia tidak menyangka bahwa Shin Shui tipe orang yang tidak suka dipandang tinggi hanya karena jabatan.


"Maafkan aku Shushi. Aku berkata seperti itu karena hanya ingin menghormatimu saja, tidak lebih," kata Yun Mei pelan. Genangan air mata mulai terlihat. Tapi gadis itu tidak kuat menahannya, sehingga air mata itu perlahan turun membasahi pipi lembutnya.


Shin Shui yang melihat Yun Mei menangis tentu saja merasa tidak tega. Dia dengan segera mengusap pipi gadis itu dengan lembut. Lalu perlahan memeluknya.


"Sudah tidak papa. Jangan bersedih lagi, tetaplah seperti ini denganku," kata Shin Shui lembut. Perlahan pelukannya dilepas, hingga pada akhirnya pemuda biru itu mencium kening Yun Mei.

__ADS_1


Ah, rasanya siapa pun yang melihat kejadian ini akan terbawa suasana. Sang rembulan menjadi saksi tentang kemesraan muda mudi itu.


Yun Mei tidak dapat berkata apapun. Pipinya langsung memerah, dia merasa seperti mimpi. Benar, mimpi yang selalu dia bayangkan semenjak kepergian Shin Shui akhirnya menjadi kenyataan saat ini.


Setelah Yun Mei terlihat tenang, dengan segera Shin Shui merangkul kepalanya dan disenderkan pada bahu. Begitu indahnya masa muda, bahkan jika ada orang tua yang melihat kejadian ini pastinya dia akan kembali membayangkan tentang masa mudanya dulu.


"Bicaralah, jangan terus berdiam seperti ini Memei," kata Shin Shui dengan lembut sembari membelai rambutnya.


Setelah beberapa saat terdiam karena saking bahagianya, Yun Mei mulai berbicara. "Shushi, sekarang apa tujuanmu? Apakah kau masih tetap akan mengembara lagi meskipun kau sudah menjadi kepala tetua?" tanya Yun Mei.


"Tentu saja Memei, mungkin tiga bulan lagi aku akan melanjutkan pengembaraanku lagi. Perjalananku untuk menciptakan perdamaian sesuai yang diamanahkan guru masih panjang, memangnya kenapa?" tanya Shin Shui.


"Hemmm … begitu ya. Aku ingin ikut denganmu bolehkan? Jangan tinggalkan aku sendiri lagi Shushi. Boleh ya," kata Yun Mei sedikit merengek.


"Aku janji bisa menjaga diri. Sekarang aku tidak seperti dulu lagi, bahkan aku sudah berhasil menguasai seluruh ajaran Kitab Tarian Dewi Pedang,"


Shin Shui terdiam sesaat. Kepala tetua sekte Bukit Halilintar itu masih menimbang-nimbang. Awalnya dia berniat untuk melarang, tapi karena Yun Mei terus memohon, akhirnya Shin Shui mengizinkan Yun Mei untuk ikut dengannya.


"Baiklah, kau boleh ikut Memei," kata Shin Shui tersenyum lembut.


"Terimakasih Shushi." balasnya dengan girang. Tanpa sadar dia memeluk Shin Shui dengan erat.


Keduanya terus berbincang ringan. Hingga akhirnya Yun Mei tertidur dengan kepala menyender ke bahu Shin Shui. Karena merasa ngantuk, Shin Shui pun tak lama ikut tertidur.

__ADS_1


Sunyinya malam, dinginnya angin serta indahnya cahaya rembulan menjadi saksi akan kemesraan pasangan pendekar muda itu. Akhirnya mereka tertidur dengan sebuah senyuman dibawah pohon sakura itu.


__ADS_2