
"Maksud kepala tetua?" Yashou nampak kebingungan akan pernyataan Shin Shui barusan.
"Ya, begitulah. Semuanya berjalan lancar, tapi kita harus mengeluarkan seluruh kekuatan yang kita miliki. Karena sepertinya ini akan menjadi perang besar," kata Shin Shui.
"Lalu, bagaimana rencana kepala tetua?"
"Begini, kita akan membagi sekte menjadi dua bagian. Setengahnya lebih ikut aku ke istana kekaisaran, karena disana akan menjadi pusat perang besar. Sisanya berjaga disini, karena musuh pasti akan menyerang kesini juga. Meskipun mungkin hanya menjadi pengalih perhatian semata. Tetua Yashou dan ketiga tetua sekaligus muridmu berjaga disini, menjaga sekte kita dan daerah sekitarnya,"
"Sedangkan aku dan sisanya akan menuju istana kekaisaran dua hari lagi. Kita kerahkan semua murid berbakat, aku akan membawa sebagian mereka kesana. Dan rencana ini sudah disetujui oleh semua kepala tetua yang hadir dalam rapat kemarin. Mereka juga akan membagi kekuatan sektenya menjadi dua bagian," kata Shin Shui panjang lebar.
"Kepala tetua, apakah aku akan ikut bersamamu juga ke istana?" tanya Yun Mei setelah menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Shin Shui.
"Benar, kali ini kau ikut bersamaku kesana," jawab Shin Shui.
Betapa senangnya hati tetua itu. Hingga dia tertawa kecil beberapa saat lamanya. Akhirnya hal yang dia tunggu-tunggu pun tiba.
"Jadi, aku dan juga muridku berjaga disini dan tidak ikut untuk berperang ke istana?" tanya Yashou dengan wajah sedikit muram.
"Benar, maaf tetua Yashou. Bukan aku merendahkan atau bagaimana. Mengingat bahwa kau belum pulih total, aku tidak ingin membuatmu kembali terluka. Kecuali jika kondisi disini sudah aman terkendali, maka mungkin kau bisa menyusul kesana," kata Shin Shui menjelaskan.
"Baiklah, aku percaya kepadamu kepala tetua. Kau benar, dan aku juga mengerti keputusanmu ini demi kebaikanku juga," ucap Yashou sedikit kecewa. Tapi dia memang tidak memungkiri, bahwa Shin Shui melakukan hal ini memang demi dirinya.
"Terimakasih kalau tetua Yashou memahami apa yang aku maksudkan," kata Shin Shui.
__ADS_1
Setelah berbicara tentang rencana kesiapan, mereka pun bicara ringan kembali sampai rembulan menampakkan dirinya. Tak lama, semua tetua lalu kembali ke ruangannya masing-masing untuk beristirahat.
###
Dua hari sudah berlalu, waktu yang ditentukan untuk pemberangkatan dirinya dan juga semua murid sekte Bukit Halilintar menuju istana pun tiba.
"Tetua Yashou, jaga dirimu baik-baik. Jika ada apa-apa, pentingkan dahulu keselamatan nyawa semuanya termasuk dirimu. Harta benda dapat dicari, tapi nyawa takkan ada ganti," kata Shin Shui.
"Pasti kepala tetua. Kau juga jaga diri baik-baik, jangan lupa jaga calon istrimu," kata Yashou sedikit menggoda sambil melirik Yun Mei.
"Ah kau ini bisa saja," kata Shin Shui sambil sedikit tertawa.
"Baiklah, aku berangkat dulu. Sampai bertemu kembali," kata Shin Shui kepada semua orang yang tetap di sekte Bukit Halilintar.
Sedangkan yang tinggal di sekte Bukit Halilintar sendiri tak kurang dari lima ratus murid. Hal ini wajar, karena mengingat sektenya memang termasuk sekte besar. Lagi pula memang menjadi sekte favorit.
Shin Shui dan rombongannya berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Hingga baru beberapa saat saja mereka sudah keluar dari desa Perbatasan.
Agaknya kurang lebih dari dua minggu lagi, perang besar memang akan benar-benar terjadi. Semuanya sudah bersiap siaga.
Termasuk di berbagai tempat lainnya, semua sekte aliran putih baik itu kelas bawah, menengah, maupun kelas atas, semuanya sudah menyiapkan pasukan sesuai instruksi yang didapat.
Dan khusus untuk sekte besar, mereka mengirim juga murid-murid dan tetua serta kepala tetuanya sendiri untuk menuju ke istana kekaisaran yang tak lama lagi akan menjadi medan perang.
__ADS_1
###
Disebuah tempat yang sangat tersembunyi, semua tetua yang tergabung dalam aliansi tiga sekte besar aliran hitam juga sedang berkumpul.
Mereka sedang merencanakan penyerangan yang akan segera dilakukan sebentar lagi. Semua tetua itu membahas tentang kesiapan para anggotanya.
Benar perkiraan Shin Shui, bahwa Raja Iblis Merah dan juga dua kepala tetua lainnya sepakat untuk menyuruh sekte yang berada dibawah kendali mereka untuk melakukan serangan kecil ke berbagai tempat untuk memecah belah kekuatan musuh.
"Kita suruh semua sekte yang berada dibawah naungan kita untuk menyerang sekte-sekte aliran putih yang berdekatan dengan istana kekaisaran. Kita pecahkan kekuatan mereka, sedangkan kita sendiri terfokus ke istana kekaisaran."
"Aku yakin, kita akan mendapatkan kemenangan jika strategi ini bisa berjalan dengan mulus," kata Raja Iblis Merah.
"Baik kepala tetua. Aku akan menyuruh orang-orangku untuk menyebarkan informasi ini ke semua sekte dibawah kita," kata Zhan Yi, kepala tetua dari sekte Elang Merah. Kekuatannya pun sudah mencapai Pendekar Dewa tahap enam akhir.
Tapi tentu kekuatan dia diatas rata-rata orang yang setingkat dengannya. Karena setiap kepala tetua pasti memiliki jurus rahasia dan juga jurus yang lebih mengerikan lainnya.
"Sin Wan, bagaimana denganmu sendiri?" tanya Raja Iblis Merah kepada orang bernama Sin Wan.
Sin Wan ini merupakan kepala tetua dari sekte Pedang Hitam, kekuatannya juga tidak berbeda jauh dengan Zhan Yi. Hanya saja level pelatihannya lebih tinggi sedikit. Yaitu Pendekar Dewa tahap tujuh awal. Dia baru naik tingkat belum lama ini.
"Akupun akan melakukan hal yang sama kepala tetua," kata Sin Wan.
"Baiklah. Lakukan semuanya dengan baik, dua minggu lagi kita akan melancarkan penyerangan besar ini," kata Raja Iblis Merah.
__ADS_1