
Tidak terasa, Shin Shui sudah terbang selama tiga jam lebih. Matahari mulai memancarkan cahaya jingganya. Sebentar lagi dia akan menghilang dari pandangan dan akan segera digantikan dengan rembulan.
Shin Shui perlahan mulai turun, pemuda itu turun di sebuah desa kecil. Desa tersebut bahkan terlihat seukuran Desa Miskin. Tapi kehidupan di desa ini sedikit lebih baik.
Jarak antara desa ini ke ibukota cukup jauh, butuh waktu sekitar satu hari perjalanan jika berjalan santai. Tapi karena Shin Shui terbang dengan sangat cepat, hanya butuh waktu beberapa jam dirinya sudah sampai di desa ini.
Dia mulai berjalan perlahan dibawah sinar rembulan yang perlahan mulai terlihat. Shin Shui menyusuri desa itu untuk mencari sebuah penginapan dan tempat makan.
"Hemmm … desa ini tidak seburuk Desa Miskin, tapi kenapa keadaan disini terlihat sepi. Padahal, rembulan bahkan baru menampakkan dirinya. Sepertinya telah terjadi sesuatu disini." gumam Shin Shui sedikit meraskan keanehan.
Dia terus mengamati setiap sudut desa itu. Tak lama kemudian, dia melihat ada sebuah penginapan kecil. Shin Shui lalu berinisiatif untuk singgah disana dan bertanya apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Shin Shui mulai berjalan masuk ke penginapan itu, seorang pria paruh baya langsung menyambut kedatangannya. "Selamat datang di penginapan Tirai Bambu tuan muda." kata pria paruh baya tersebut menyambut kedatangan Shun Shui.
"Terimakasih paman. Aku memesan satu buah kamar dan makanan untuk malam ini, kalau bisa berikan aku satu botol arak" ucap Shin Shui yang tidak mau berbasa-basi.
"Baik tuan muda. Silahkan duduk dulu." kata pria itu.
Shin Shui langsung duduk dibangku kosong dekat jendela, dia memandangi keadaan penginapan itu, kamar yang disediakan lumayan banyak, ada sekitar dua puluh kamar. Tapi rata-rata terlihat kosong dan hanya beberapa kamar saja yang terisi.
"Terimakasih. Emmm … maaf paman, kalau aku boleh tahu apa nama desa ini dan kenapa terlihat sangat sepi? Padahal kehidupan disini aku rasa cukup baik," Shin Shui memutuskan untuk bertanya karena sudah tidak kuat menahan rasa penasarannya.
"Desa ini bernama Desa Bambu Hijau, saat malam tiba desa ini pasti selalu sepi. Itu karena beberapa waktu terkahir muncul seekor siluman Singa Hitam. Siluman itu akan keluar saat malam hari tiba dan suka memakan orang-orang yang dia temui, terutama anak-anak," pria itu menjelaskan alasan kenapa desi ini terlihat sepi saat malam hari tiba.
__ADS_1
"Siluman Singa Hitam, hmmm … lalu, apakah tidak ada pendekar yang membantu desa ini paman?" tanya Shin Shui semakin penasaran dengan keadaan.
"Sudah banyak yang berusaha untuk membunuh siluman itu tuan muda. Tapi siluman itu sangat kuat, bahkan ada yang bilang bahwa siluman itu bisa bicara layaknya seorang manusia," jelas pria itu lagi.
"Hahh? … bi-bisa berbicara seperti manusia…" Shin Shui kaget bukan main. Memang sebagian siluman yang sudah mencapai tahap tertentu ada yang bisa berbicara seperti manusia, tapi bagaimana bisa ada siluman yang bisa bicara ditempat kecil seperti ini, Shin Shui kaget bukan main.
"Benar tuan muda, sebentar lagi siluman itu pasti akan datang kesini. Sebaiknya tuan muda segera habiskan hidangan lalu pergi ke kamar yang sudah disiapkan." saran pria paruh baya itu sembari menutup pintu dan gorden penginapan miliknya.
Suasana disana mendadak sepi sunyi, yang tadinya ada tiga orang pendekar di penginapan itu, saat ini tinggal dirinya seorang. Ketiga pendekar itu faham dan tahu betul tentang siluman Singa Hitam.
Shin Shui tidak perduli akan hal itu, dia lalu menyantap hidangannya dengan lahap. Setelah selesai menyantap makanan, Shin Shui langsung duduk santai sembari meneguk araknya. Tapi saat dia sedang menikmati arak, tiba-tiba …
__ADS_1
"GOARR … "