
Setelah merasa hati mereka lega, akhirnya mereka pun kembali serius. Rasa cemas mulai terasa ketika melihat keadaan Yashou yang sungguh mengkhawatirkan.
"Semuanya, aku mohon keluar terlebih dahulu. Karena ini akan membutuhkan konsentrasi besar. Biarkan aku dan tetua Yashou saja. Hasilnya nanti akan beritahu," kata Shin Shui menyuruh semua tetua.
Mendengar itu, semua tetua pun langsung keluar dengan harapan besar dan rasa cemas yang melanda hati mereka. Tanpa banyak bicara para tetua keluar ruangan.
"Shushi, apakah aku juga harus keluar?" tanya Yun Mei.
"Sebaiknya begitu Memei. Tapi kalau kau suka disini, terserahmu saja. Aku takkan bisa menolakmu," kata Shin Shui sedikit bingung karena merasa tidak enak.
"Hemmm … lebih baik aku keluar saja dulu karena jika aku disini, kau tidak akan konsentrasi karenaku," balas Yun Mei sambil tersenyum genit.
Sebuah senyuman semanis madu dan seindah rembulan yang beberapa waktu belakangan dirindukan oleh Shin Shui, akhirnya terlihat kembali. Sehingga dia dibuat terpaku dan gugup ketika Yun Mei mencium pipinya lalu keluar ruangan.
"Kau selalu membuat jantungku berpacu kencang Memei," gumam Shin Shui ketika wanita itu sudah keluar.
Kini yang ada disitu hanyalah Shin Shui dan Yashou. Dia tidak langsung mengobatinya, melainkan melihat semua keadaan pendekar tua tersebut.
Ternyata luka dalamnya sungguh parah. Beberapa urat syarafnya putus, saluran tenaga dalamnya ada yang hancur. Bahkan ada sebuah racun yang kini bersarang di tubuhnya.
Pemuda biru itu tidak yakin bisa menyembuhkannya secara langsung. Karena luka dalam ini terbilang serius dan membutuhkan waktu untuk pulih totalnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Shin Shui segera mengeluarkan tenaga sejati kembali. Tapi kali ini lebih besar daripada sebelumnya sehingga dia harus mengaktifkan kekuatan Kalung Kristal Halilintar.
__ADS_1
Kedua telapak tangannya lalu ditempelkan di dada Yashou. Sepuluh hingga dua puluh menit pertama tidak ada tanda-tanda apapun. Pendekar tua itu seolah sudah tak bernyawa.
Melihat ini Shin Shui mulai merasa cemas, barulah sekitar dua puluh menit kemudian Yashou mulai bergerak. Shin Shui terus menyalurkan tenaga sejatinya sampai Yashou membuka mata lalu langsung muntah darah.
"Uhukkk …"
Pendekar tua itu sedikit tersadar sehingga mengenali Shin Shui. Tangan kanannya langsung memegangi dada yang memang terasa sakit sekali.
"Tenang dulu senior. Biar aku obati sebentar lagi," kata Shin Shui.
Kemudian pemuda biru itu pun kembali mengobati hingga beberapa saat lagi. Setelah itu, barulah Yashou mulai bisa duduk meskipun tubuhnya masih lemah.
"Senior tenanglah. Selama seminggu ke depan kau jangan menggunakan tenaga dalam, karena jika menggunakan tenaga dalam maka racun yang bersarang ditubuhmu bakal menyerang. Aku butuh waktu untuk mencari obatnya," kata Shin Shui.
"Jamur Pemusnah Racun. Jamur berwarna putih dan agak besar. Biasa tumbuh di pegunungan dan tumbuh dibawah pohon besar," kata Shin Shui.
"Hemmm … sepertinya Bukit Awan memilikinya. Aku dulu seperti sempat melihatnya, apakah aku bisa kembali normal jika sudah mengkonsumsi jamur itu?" tanya Yashou.
"Tentu senior. Tapi selama seminggu ini kau harus istirahat total. Racun yang digunakan Pangeran Iblis cukup berbahaya, untung saja menimpamu. Jika menimpa tetua lain, aku tidak yakin akan bertahan," ucap Shin Shui menjelaskan.
"Baiklah, nanti aku akan menyuruh muridku untuk mencarinya,"
Setelah semuanya selesai, keduanya pun lalu keluar dari ruangan tersebut. Ternyata diluar pun sudah banyak orang-orang yang menunggu mereka dengan khawatir.
__ADS_1
"Tenang, semuanya baik-baik saja," kata Shin Shui karena melihat ketegangan dari orang-orang itu.
Akhirnya para tetua dan yang lainnya pun merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Shin Shui.
Hidangan sudah siap, makanan yang beraroma harum dan khas memenuhi seluruh ruangan. Berguci-guci arak sudah tersedia. Jamuan pun akan segera dimulai. Semua tetua sudah duduk pada kursi masing-masing, tapi sebelum menyantap makanan itu, Shin Shui menanyakan sesuatu.
"Maaf, apakah tiga peliharaanku pun mendapatkan bagian makanan? Dan kemana senior Cun Fei?" tanya Shin Shui.
Tidak ada yang menjawab diantara semua tetua itu karena tidak mengetahui. Akhirnya, Shin Shui sendiri yang keluar untuk menemui peliharaannya.
Ternyata disana sudah ada Cun Fei yang sedang berbincang-bincang dengan phoenix biru dan juga dua siluman kera bersaudara.
"Hei kalian, mari masuk. Kita makan bersama …" ajak Shin Shui.
Mendengar ini, tentu mereka merasa sungkan. Siapa mereka? Manusia? Bukan. Orang penting? Bukan. Mereka hanyalah para siluman, bukan manusia. Tapi kenapa Shin Shui peduli? Entah, mungkin memang sudah sifat.
Awlanya keempatnya menolak. Tapi karena Shin Shui terus memaksa, akhirnya mereka pun mau walau sedikit sungkan.
Shin Shui mengajak keempat siluman itu tak lain karena rasa peduli. Yah peduli, rasa kepedulian. Semua orang ingin dipedulikan oleh orang-orang disekitarnya.
Mereka pun butuh kasih sayang. Bahkan hewan peliharaanmu pun butuh kepedulian dan kasih sayang. Mereka punya hati, mereka bisa bicara. Tapi kau tak mengerti bahasanya.
Baik manusia ataupun binatang yang kau pedulikan dengan kesungguhan hati, percayalah, mereka bakal membalasnya bahkan rela bertaruh nyawa demi dirimu. Apakah nyata? Tentu. Kau bisa lihat kejadian disekitarmu. Hanya karena kepedulian dan kasih sayang, nyawa seolah tiada artinya.
__ADS_1
Jika kau ingin dipedulikan, maka belajarlah untuk peduli. Kau ingin dihargai? Maka belajarlah untuk menghargai.