
"Shui'er, jangan bersedih lagi. Ini belum seberapa, suatu saat nanti kau bahkan akan merasakan kesedihan yang jauh lebih sedih dari saat ini," ucap phoenix biru memecah keheningan.
Memang, kesedihan dan kebahagiaan selalu datang silih berganti. Setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan, begitupun sebaliknya. Rasa sedih dan bahagia tidak dapat dipisahkan dari manusia.
"Baik maha guru," kata Shin Shui menguatkan hati.
"Sekarang, segera ambil dan pakailah Zubah Perang Halilintar. Hanya kau yang pantas memilikinya," tutur phoenix biru tersebut menyuruh Shin Shui mengambil Zubah Perang Halilintar yang masih tersimpan rapi di tempatnya.
"Baik maha guru." jawab Shin Shui.
Pemuda itu langsung melesat lalu mengambil zubah perang itu. Setelah berhasil, dia segera memakainya. Awalnya Shin Shui sedikit tidak nyaman ketika baru memakai zubah itu. Tapi setelah beradaptasi beberapa saat, dia mulai terbiasa.
Sekarang yang dia rasakan bukanlah ketidaknyamanan, justru sekarang Shin Shui merasakan ada sebuah kekuatan yang mengalir kapada dirinya. Bahkan dia merasakan bahwa tubuhnua merasa lebih kuat daripada sebelumnya.
Shin Shui terlihat sangat cocok sekali memakai zubah tersebut. Dia benar-benar mirip seorang kaisar, tubuhnya yang berotot dan wajahnya yang tempat sangat mendukung. Bahkan siapapun pasti tidak akan mengira bahwa itu Shin Shui.
"Kau persis seperti aku muda Shui'er. Kau sangat tampan dan gagah. Aku yakin tidak banyak yang bisa menandingimu di kekaisaran Wei," kata phoenix biru memuji Shin Shui.
"Terimakasih maha guru. Kau terlalu berlebihan memujiku," ucap Shin Shui.
"Tentu saja tidak. Sudahlah, jangan bilang aku maha guru, ini hanyalah bagian kekuatanku saja, bukan diriku. Panggil saja aku phoenix biru," ucap phoenix biru yang tidak mau dipanggil maha guru.
__ADS_1
"Emmm … baiklah kalau begitu. Mulai saat ini aku akan memanggil phoenix biru," kata Shin Shui.
"Bagus, sekarang aku akan menjadi peliharaanmu. Aku akan mendampingi kemanapun kau pergi," ucap phoenix biru.
"Aishhh … benarkah?" tanya Shin Shui. Jika benar begitu, maka dia tentu saja merasa sangat senang. Setidaknya rasa rindu kepada Cun Fei bisa terobati dengan hadirnya phoenix biru.
"Tentu saja, aku tidak berbohong," ujar phoenix biru.
"Terimakasih phoenix biru, sekarang … ayo kita pergi. Aku ingin segera cepat kembali ke Bukit Awan." ajak Shin Shui.
Phoenix biru itu langsung terbang ke arah Shin Shui dan hinggap di bahu kanannya. Karena ukurannya wajar, jadi Shin Shui bisa membawanya kemanapun dia pergi tanpa merasa kesulitan.
Dengan segera Shin Shui pergi meninggalkan goa dan berniat untuk segera kembali ke Bukit Awan. Dia memilih terbang supaya cepat sampai ke tujuannya. Tapi sebelum pergi, Shin Shui terlebih dahulu memakai topeng. Bahkan topeng itu selaras dengan warna pakaiannya, yaitu biru.
Diatas langit yang kini masih siang, terlihat ada seekor phoenix berwarna biru dan seorang pemuda yang sedang terbang melayang secara bersamaan.
###
Di Perguruan Bukit Awan …
Keadaan di Perguruan Bukit Awan sekarang ini sedang ramai. Disana banyak para pendekar dan tetua perwakilan dari sekte masing-masing. Hal ini dikarenakan Yashou baru saja selesai melakukan peresmian dan pemberian nama sekte yang baru dia buat.
__ADS_1
Orang tua itu memberikan nama sekte Bukit Halilintar. Dia sengaja mengganti namanya karena Yashou sadar bahwa yang berkontribusi paling besar adalah Shin Shui, jadi dia mengganti nama Awan menjadi Halilintar pertanda sebagai penghormatan untuk Shin Shui. Tanpa pemuda itu mana mungkin dia bisa membuat sekte semegah ini.
Bahkan Yashou menolak untuk menjadi kepala tetua, dia lebih memilih untuk menjadi wakil kepala tetua. Yang jadi kepala tetua sekte Bukit Halilintar adalah Shin Shui sendiri.
Para tetua sekte Bukit Halilintar terdiri dari murid Yashou, Wu Chi, Hong Liong, dan Yun Mei. Memamg jika dilihat dari segi umur, mereka semua sangatlah muda. Tapi dari segi kekuatan, mereka bisa menandingi sebagian tetua dari sekte lainnya. Yashou sangat yakin dengan hal itu.
Sekarang sudah tiba waktu untuk menguji sekte baru tersebut, hal ini bisa dibilang wajib. Tujuanya tak lain untuk melihat sampai dimana kekuatannya.
Ujian yang akan diterima oleh sekte baru adalah sebuah pertarungan persahabatan. Biasanya yang akan bertarung adalah para tetua ataupun kepala tetua dari perwakilan sekte besar.
"Baiklah, silahkan apabila para tetua sekalian ada yang ingin menguji kelayakan sekte Bukit Halilintar. Aku tidak keberatan," kata Yashou memberikan kesempatan bagi tetua yang ingin memberikan ujian.
"Aku. Aku ingin melawan gadis itu," kata seorang kepala tetua menunjuk Yun Mei untuk menjadi lawannya.
"Ahhh … kepala tetua sekte Teratai Putih, Ye Rou. Baiklah, mohon maaf jika kekuatanku tidak seberapa," ucap Yun Mei merendah.
Yun Mei segera melompat ke arena pertandingan diikuti Ye Rou di belakangnya. Ye Rou kini sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam. Hal ini karena dia selalu mengonsumsi pil dan lain sebagainya yang disediakan oleh sekte Sumber Daya.
Yun Mei dai Ye Rou kini sudah saling berhadapan. Mereka sudah bersiap untuk melakukan pertarungan persahabatan.
"Mari kita mulai gadis cantik," ucap Ye Rou berniat untuk segera memulai pertarungan itu.
__ADS_1
"Baik kepala tetua Ye." jawab Yun Mei. Gadis itu lalu bersiap untuk menerima serangan yang akan diberikan oleh Ye Rou.