Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kakak Beradik Yang Haus Darah


__ADS_3

Kedua pendekar itu terus menyiksa pendekar tua, padahal pendekar tua itu sudah minta ampun dengan sungguh-sungguh. Tapi tetap saja keduanya melanjutkan untuk menyiksanya tanpa ada belas kasihan.


Di restoran itu padahal banyak juga pendekar lain yang sedang berkunjung, tapi tidak ada yang berani ikut campur. Mereka semua tahu bahwa kedua pendekar yang sedang menyiksa pendekar tua itu bukanlah pendekar biasa.


"Ampun, sungguh … aku bukan bagian dari sekte Bukit Halilintar. Aku hanyalah mengagumi sekte itu saja," kata pendekar tua ditengah pukulan yang terus datang ke arahnya.


"Bohong, cepat tunjukkan jalan ke sekte itu!!!" bentak salahseorang pendekar.


"Aku tidak tahu, sungguh. Aku hanya numpang lewat saja kesini," jawab pendekar tua itu.


Kedua pendekar itu mulai geram, mana mungkin pendekar tua itu tidak tahu jalan ke sekte Bukit Halilintar? Bukankah sekte itu sudah amat terkenal sekarang?


Karena merasa dipermainkan, salahsatu dari mereka mencabut pedangnya yang daritadi tersaring rapi. Dia berniat untuk membunuh pendekar tua itu, tapi sebelum melakukannya, tiba-tiba saja ada suara dari belakang mereka.


"Tunggu!!! Lepaskan orang tua itu, aku tahu dimana tempat sekte Bukit Halilintar yang kau cari," seorang pemuda yang tiba-tiba muncul dibelakang mereka mendadak buka suara. Disampingnya ada seorang gadis yang sangat cantik. Keduanya sama-sama memakai pakaian berwarna biru.


Para pengunjung mulai bergunjing tentang kedua pendekar muda yang angkat bicara barusan. Siapa dua pendekar ini? Apakah mereka tidak takut mati? Atau mereka belum tahu siapa dua pendekar yang sedang menyiksa pendekar tua itu?


Ternyata kedua pendekar itu memang berasal dari kalangan aliran hitam. Mereka dijuluki Kakak Beradik Yang Haus darah. Yang satu bernama Tjie Lin, dan satu lagi bernama Tjie Ai.


Keduanya tidak berasal dari sekte manapun. Pendekar kakak beradik itu umurnya kira-kira sekitar 50 tahunan, tapi wajahnya terlihat beberapa tahun lebih muda.

__ADS_1


Pendekar kakak beradik itu dikenal sebagai salahsatu pendekar yang selalu bertarung dengan para pendekar lain yang namanya terkenal dikalangan dunia pendekar. Mereka sangat senang bertarung dan beradu kekuatan. Tak jarang juga mereka merampok, ataupun memperkosa para gadis yang mereka temui.


Dan saat ini, keduanya sedang mencari dimana tempat sekte Bukit Halilintar berada. Bukan tanpa alasan, mereka mencari sekte itu karena beberapa waktu terakhir sekte Bukit Halilintar selalu mengguncang dunia persilatan. Terlebih kepala tetuanya yang masih muda.


Karena hal itulah mereka menanyakan tempat sekte Bukit Halilintar kepada pendekar tua yang kini mereka siksa. Keduanya menyangka bahwa pendekar tua itu adalah bagian dari sekte Bukit Halilintar, atau setidaknya tahu dimana tempatnya.


Tapi pada kenyataannya pendekar tua tersebut tidak tahu dimana tempat sekte Bukit Halilintar. Sayang, keduanya tak percaya. Terlebih karena mereka sudah dikuasai emosi yang meluap.


"Siapa kau? Apakah benar kau mengetahui dimana tempat sekte Bukit Halilintar? Kalau benar, antarkan aku kesana," kata Tjie Ai kepada dua pendekar muda.


"Baik. Tapi sebelum aku mengantarkan kalian ke sekte Bukit Halilintar, aku ingin tahu apa alasan kalian mencari sekte itu?" tanya pendekar muda bertopeng.


"Aku ingin menantang bertarung sampai titik darah penghabisan dengan kepala tetuanya. Aku dengar dia masih muda tapi sudah mempunyai kekuatan yang mengerikan. Cepat katakan dimana tempat sekte Bukit Halilintar dan antarkan kami kesana!," ucap Tjie Ai agak sedikit membentak.


Shin Shui sengaja menyembunyikan kekuatan dan memakai topeng untuk sementara karena tak lain pemuda biru itu sudah tahu bahwa sekarang para pendekar banyak yang mencari dirinya. Dan sekarang, terbukti sudah.


"Banyak bicara kau bocah. Apa kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa? Kami dijuluki sebagai Kakak Beradik Yang Haus Darah. Cepat antarkan kami kesana sebelum kesabaran kami habis," kali ini Tjie Lin yang angkat bicara. Nadanya sangat tinggi menandakan bahwa dia sudah sangat marah.


"Shushi, bagaimana ini? Apa kita akan menghajar kakak beradik itu?" kata Yun Mei berbisik.


"Kau tenang saja Memei, biar aku yang mengurus kakak beradik yang sudah bosan hidup itu," jawab Shin Shui dengan tenang.

__ADS_1


"Baiklah-baiklah. Tenang, jangan pakai emosi dulu tuan pendekar Kakak Beradik Yang Haus Darah. Mari ikuti kami," ucap Shin Shui lalu langsung pergi meninggalkan restoran tersebut.


Tak mau ketinggalan, Kakak Beradik Yang Haus Darah itu langsung mengikuti kemana Shin Shui pergi. Keduanya belum menyadari bahwa orang yang bicara dengannya tadi adalah orang yang sekarang mereka cari.


Setelah berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh beberapa saat, kini Shin Shui dan Yun Mei sudah tiba disebuah hutan yang sepi. Hutan itu sangat rimbun karena disana banyak juga pohon-pohon yang sudah sangat tua. Sehingga keadaan disana agak sedikit gelap karena tertutup oleh daun-daun pohon.


Selang berapa menit saja, kedua pendekar kakak beradik itu juga sudah tiba ditempat yang sama. Sampai sekarang keduanya belum tahu bahwa mereka sudah masuk perangkap Shin Shui.


"Kenapa kita berhenti disini? Bukankah kau bilang akan mengantarkan kami ke sekte Bukit Halilintar? Heh bocah, jangan berbohong kau!!! Apa kalian sudah bosan hidup?" Tjie Ai sangat marah sekali karena dirinya merasa sedang dipermainkan oleh seorang bocah kemarin sore.


"Aku tidak berbohong kepada kalian tuan pendekar kakak beradik, aku akan mengantarkan kalian kepada kepala tetua sekte Bukit Halilintar," ucap Shin Shui dengan tenang.


Tentu saja yang dimaksud Shin Shui tak lain adalah dirinya sendiri. Shin Shui sengaja melakukan itu supaya kedua pendekar kakak beradik itu semakin geram kepada dirinya. Dengan begitu, maka dia bisa dengan mudahnya memancing emosi musuh keluar. Karena orang yang dikuasai emosinya maka dia tidak bisa mengendalikan diri sendiri.


"Cepat katakan dimana tempatnya bocah. Atau kalau tidak aku akan membunuhmu sekarang juga, apa kau pikir aku tidak sanggup untuk membunuh kalian berdua? Cihhh … jangankan membunuh kalian berdua, sepuluh pun aku sanggup," bentak Tjie Lin sudah tidak bisa lagi menahan amarah yang sudah merembes keluar.


"Baiklah aku akan mengatakannya. Sebenarnya … aku adalah orang yang sedang kalian cari selama ini. Akulah tetua dari sekte Bukit Halilintar, Shin Shui sang Pendekar Halilintar," ucap Shin Shui dengan tegas. Aura kewibawaan sebagai pemimpin langsung terpancar keluar dari tubuhnya.


"Kau jangan bercanda bocah. Aku sedang tidak ingin bercanda dengan dirimu. Sekali lagi aku peringatkan, cepat beritahu dan tunjukkan dimana letak sekte Bukit Halilintar sebelum Pedang Meteor ini memisahkan kepalamu dari badan," ucap Tjie Lin sembari bersiap mencabut pedang pusakanya.


###

__ADS_1


Satu dulu ya, satu lagi nanti. Masoh agak repot hehe😁🙏jangan lupa likenya, kalau vote terserah para pembaca aja😊☕


__ADS_2