Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kemarahan Walikota Huan Xi


__ADS_3

Huan Zi telah tiba di gerbang kediamannya, para penjaga yang melihat Huan Zi terluka langsung menyambutnya. Mereka menanyakan kejadian apa yang menimpa tuan mudanya itu, tapi Huan Zi tidak mau menjawabnya.


"Jangan banyak bertanya, antarkan aku ke ruangan ayah. Aku sudah tidak kuat lagi.


"Uhukk" …. Huan Zi batuk mengeluarkan darah kembali. Para penjaga mulai panik, mereka buru-buru membawanya ke ruangan Walikota Huan Xi.


Para penjaga yang membawa Huan Zi berjumlah dua orang. Mereka tiba di depan ruangan Huan Xi sang Walikota. Mereka lali memanggil Walikota itu dengan buru-buru.


"Tuan … tuan …, tuan muda Huan Zi, tuan muda Huan Zi," mereka bertambah cemas saat melihat Huan Zi semakin lemas dan wajahnya pucat pasi.


Mendengar teriakan didepan pintu ruangannya, Huan Xi awalnya geram. Dia sedang merencanakan sesuatu, dia sedang mengurus pajak yang didapat dari rakyat. Walikota itu sedang pusing, karena sedang menjumlahkan pendapatan pajak bulan ini.


Dia berniat untuk mengambil sepertiga dari jumlah aslinya dan berpikir bagaimana caranya supaya pihak Istana tidak mengetahui bahwa sepertiga pajak itu telah di korupsi oleh dirinya sendiri.


Teriakan itu semakin lama semakin keras, dia langsung keluar dengan amarah di dadanya, 'Mengganggu saja' batinnya.


Dia langsung membuka pintu dengan kasarnya. "Ada apa? Kalian mengganggu saja, aku sedang sibuk. Kenapa dengan anakku? Biarkan saja dia bertingkah sesukanya. Aku yang berkuasa disini, jadi tidak mungkin ada yang berani membuat masalah dengan anakku," ucap Walikota Huan Xi. Dia belum menyadari bahwa seseorang yang digendong salah satu penjaga itu adalah anak kesayangannya.

__ADS_1


"Aa-ayah …"


"Uhukk …" Huan Zi terbatuk lalu kehilangan kesadarannya.


"Zi'er, kau kenapa Zi'er?" Walikota Huan Xi melirik kepada para penjaganya.


"Siapa yang berani melukai anakku sampai seperti ini hah?" Walikota Huan Xi berkata dengan nada tinggi, mukanya merah padam menahan amarah, matanya melotot tajam kepada para penjaga yang membawanya. Jelas, dia tidak terima melihat anak kesayangannya terluka parah seperti ini.


"Aa-ampun tu-tuan … kami tidak tahu. Kami mendapati tuan muda sudah dalam keadaan terluka. Lalu tuan muda menyuruh agar kami membawa ke ruangan tuan," salah satu penjaga menjelaskan dengan tubuh bergetar. Dia takut bahwa tuannya akan marah besar.


Mereka langsung menjalankan tugas masing-masing dengan segara. Mereka tidak mau menjadi pelampiasan amarah tuannya.


Huan Zi sudah berada di kamar ayahnya, Huan Xi. Dia sedang terbaring lemah dengan wajah pucat pasi bagai mayat dan wajahnya sedikit memar. Ada bekas bercak darah yang sudah kering di pakaiannya.


Seorang tabib memasuki kamar itu untuk memeriksa keadaan putra sang Walikota itu. Mereka disuruh keluar, tak terkecuali dengan ayahnha sendiri. Awalnya dia menolak, namun berkat bujukan istri dan yang lainnya, akhirnya dia mau keluar dari kamar itu.


Di tempat lain …

__ADS_1


Setelah menghajar semua orang-orang walikota Huan Xi, termasuk anaknya, Huan Zi, Shin Shui langsung kembali ke restoran untuk melanjutkan makanya yang tertunda tadi. 'Mungkin sekarang makanannya sudah siap. Ah tidak, mungkin sudah dingin gara-gara para serangga itu,' gumamnya sembari berjalan memasuki restoran itu.


Setelah melihat kejadian yang mengakibatkan anak Walikota terluka cukup parah, reaksi warga sekitar bermacam-macam. Ada yang bersyukur, ada juga yang kesal dengan apa yang dilakukan Shin Shui. Karena bukan tidak mungkin jika Walikota akan membalas dendam anaknya, bahkan mungkin yang tidak tahu apa-apa pun akan menjadi sasarannya.


"Pelayan, apakah pesananku sudah jadi?" tanya Shin Shui kepada pelayan restoran tersebut, restoran itu bernama Restoran Jingga. Karena setiap sore, sinar matahari yang jingga pasti akan masuk untuk memberikan cahayanya kepada restoran itu.


"Su-sudah tuan, ini pesanan tuan muda," pelayan itu menjawab dan berjalan untuk memberikan pesanan Shin Shui dengan gugup.


Kakinya lemas sekaligus gemetar melihat apa yang sudah dilakukan oleh Shin Shui.


'Kalau dia berani melawan walikota, berarti pemuda ini memiliki latar belakang istimewa,' batin pelayan itu. Tapi tentu saja dia tidak ada nyali untuk menanyakan hal itu langsung kepada Shin Shui. Dia takut akan membangunkan monster kecil itu lagi.


"Silahkan tuan dinikmati makanannya, semoga sesuai dengan selera tuan muda."


"Terimakasih," jawab Shin Shui, setelah mengantarkan pesanan Shin Shui, pelayan itu segera kembali ke ruangan kerjanya.


Shin Shui menyantap makanan itu dengan lahap, rasanya gurih dan lezat. Dia memesan menu Ayam Hitam Bakar, ayam itu merupakan ayam hutan biasa, belum menjelma menjadi siluman. Memang ayam ini memiliki warna hitam seluruhnya, ayam bakar itu dibalut dengan bumbu dari rempah-rempah yang kaya akan khasiat. Sehingga ketika dimakan pun akan menimbulkan rasa hangat di tenggorokan.

__ADS_1


__ADS_2