
Sepuluh jurus sudah berlalu, tapi Dewi Pedang Kembar belum juga bisa membalas semua serangan yang diberikan oleh pemuda biru itu. Sejak tadi dirinya terus dipaksa untuk berada dalam posisi bertahan saja.
Entah sudah berapa kali dia mencoba membalas serangan, tapi hasilnya sia-sia saja karena gerakan Shin Shui sangat cepat dan sulit untuk ditebak kemana arahnya.
Shin Shui memang sengaja daritadi tidak mengurangi kecepatan ataupun daya serangnya, amarahnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
Sehingga meskipun hanya mengeluarkan seperempat kekuatannya saja pun, Dewi Pedang Kembar dibuat tidak berdaya untuk melawan.
Shin Shui terus mengayunkan pedangnya mulai dari atas sampai bawah mengincar bagian-bagian yang rawan. Setiap ayunan pedang itu mengandung kekuatan dahsyat.
Deru angin menyambar-nyambar mengikuti kemana Shin Shui mengayunkan pedangnya. Melihat lawannya tak mau memberikan waktu untuk bernafas, Dewi Pedang Kembar pun semakin marah dibuatnya.
Wanita paruh baya itu mencoba melompat mundur empat langkah ke belakang disaat badai serangan menerpanya.
"Harus kuakui bahwa kau memang tangguh bocah. Tapi jangan harap bahwa kau bisa mengalahkanku," kata Dewi Pedang Kembar dengan marah.
"Aku tidak ingin pujianmu. Aku hanya ingin kematianmu," jawab Shin Shui dengan tegas.
Sorot mata Dewi Pedang Kembar langsung mengisyaratkan bahwa emosinya sudah memuncak. Dewi Pedang Kembar pun kembali mengeluarkan seluruh kekuatannya seperti ketika pertarungan pertama.
Tapi sekarang jauh lebih besar lagi. Bahkan seluruh tubuhnya sudah diselimuti aura iblis berwarna hitam pekat. Matanya berubah merah. Mungkin sekarang dia lebih pantas disebut iblis daripada Dewi.
"Sepuluh Jurus Ratu Iblis …"
"WUSHH …"
Dewi Pedang Kembar melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Shin Shui. Dia mengeluarkan sebuah jurus pamungkasnya yang didapat dari suaminya, Raja Iblis Merah.
Sepuluh Jurus Ratus Iblis adalah serangkaian jurus yang cukup mengerikan. Karena setiap jurusnya semakin lama akan semakin kuat.
Dewi Pedang Kembar mengeluarkan jurus ini karena sudah terlampau emosi, lagi pula jika bertarung menggunakan jurus lainnya, dia tidak yakin akan menang.
Berbeda dengan sekarang, saat ini dia sudah yakin akan bisa membunuh pemuda biru yang sudah mencelakai anaknya, Pangeran Iblis.
Tapi yang dilawannya kali ini bukanlah pendekar muda sembarangan, sehingga meskipun wanita paruh baya itu hilang dari pandangan, Shin Shui sedikitpun tidak gentar. Bahkan dia berniat untuk menggabungkan jurusnya.
__ADS_1
"Langkah Bayangan Kelam … Tapak Maut … Seribu Pedang Halilintar …"
"WUSHH …"
"DUARR …"
Shin Shui pun turut menghilang dari pandangan semua orang setelah halilintar menyambar satu kali ke bumi, keduanya menghilang entah kemana. Tapi yang jelas, tak lama setelah itu ledakan besar kembali terjadi.
"DUARR …"
Kedua pendekar itu tiba-tiba terlihat lagi dan sekarang sedang bertarung kembali. Dewi Pedang Kembar kaget bukan main, seumur hidupnya baru kali ini saja jurus pamungkasnya bisa digagalkan.
Baru beberapa tarikan nafas saja, Shin Shui kembali berhasil memojokkan Dewi Pedang Kembar. Hal itu tak lain karena sekarang kedua tangannya pun turut andil.
Tangan kanan mmberikan serangan dengan pedang, sementara tangan kiri memberikan serangan tapak yang berbahaya.
Semakin lama wanita paruh baya itu semakin terpojok, beberapa kali dia sudah tersayat-sayat oleh jurus pedang energi yang dilontarkan oleh Shin Shui.
"Arghh …"
"Dan tapak ini mewakili tetua Hong Liong …"
"DUARR …"
"Ahhh …"
Dua kali Jurus Tapak Maut Shin Shui sangat telak menghantam ulu hati dan wajah wanita paruh baya itu.
Tak ayal lagi dia pun terpental jauh kebelakang hingga menabrak pohon dekat benteng yang tumbuh tinggi, sampai-sampai pohon itu pun hancur karena dahsyatnya jurus Shin Shui.
Dewi Pedang Kembar menggeliat sebentar tanpa suara sebelum akhirnya tak bangun lagi. Mati.
Istri dari Raja Iblis Merah itu tewas dengan kondisi yang lebih mengenaskan daripada Wu Chai dan Hong Liong sekalipun. Wajahnya gosong, matanya hampir copot dan dadanya melesak ke dalam.
Dari hidung, mata dan juga mulut Dewi Pedang Kembar mengeluarkan darah cukup banyak. Sungguh malang sekali nasibnya.
__ADS_1
Para tetua sekte Bukit Halilintar yang daritadi melihat pertarungan Shin Shui pun tidak ada yang mengeluarkan suara, bahkan mereka membelalakkan matanya.
Mereka sungguh tidak menyangka bahwa Shin Shui sudah sekuat ini. Bahkan Yashou pun sudah terlampaui cukup jauh olehnya.
Pemuda biru itupun sudah kembali dalam kondisi seperti semula, dia langsung menghampiri mayat Wu Chai dan Hong Liong.
"Tetua Wu, tetua Hong, beristirahatlah dengan tenang. Sakit hati kalian sudah aku balaskan," ucapnya lirih dan tak terasa air mata pun menetes.
Melihat ini, semua tetua pun turut menghampiri Shin Shui yang kini sedang meratapi kepergian tetua sekte Bukit Halilintar itu.
Setelah Shin Shui sudah merasa tenang, akhirnya mayat Wu Chai dan Hong Liong pun dibawa kedalam sekte untuk segera dimakamkan dengan layak. Tak lupa juga dengan mayat-mayat penjaga pintu, mereka juga akan dimakamkan dengan layak.
Para murid yang daritadi cemas kini semuanya menangis ketika melihat mayat Wu Chai dan Hong Liong. Seketika itu juga, orang-orang sekte Bukit Halilintar pun berduka.
Rencananya Wu Chai dan Hong Liong akan dimakamkan dibelakang sekte Bukit Halilintar. Keduanya akan dimakamkan dengan penuh penghormatan.
Tak berapa lama, prosesi pemakaman pun sudah selesai. Semua orang-orang sekte Bukit Halilintar kembali menangis saat melepas pergi dua tetua itu.
Dua tetua yang dikenal sebagai sosok yang baik dan sopan itu akan dikenang oleh semua anggota sekte Bukit Halilintar. Langit pun mendadak mendung dan tak lama rintik air hujan turut membasahi bumi.
Alam seakan bersedih, angin yang berhembus menggoyang pohon-pohon, kini lenyap entah kemana. Tapi yang paling sedih adalah para tetua itu sendiri.
Bagaimana tidak? Pagi tadi Wu Chai dan Hong Liong masih bercanda tawa dengan mereka semua. Tidak ada ciri-ciri bahwa keduanya bakal pergi untuk selamanya.
Terbayanglah semua kenangan yang sudah dilewati bersama. Bayangan senyumannya, bayangan candaannya, dan yang paling mengesankan adalah bayangan ketika keduanya meminta ampun kepada Shin Shui dan ingin bergabung dengannya.
Begitulah umur, kita tidak tahu umur kita sampai kapan. Kita juga tidak tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu, apakah diri kita? Atau orang-orang terkasih kita?
Ajal tidak ada yang bisa menolaknya. Siap tidak siap, ajal tetap akan datang dan takkan pernah salah alamat. Karena itulah, manfaatkan waktumu untuk membuat kenangan bersama orang-orang terkasih.
Hiasi dengan kebahagiaan ketika kau bersamanya. Karena kelak, belum tentu kau dapat melihat senyumannya lagi atau tidak. Jangan sampai ada kata penyesalan dalam hidupmu nanti.
Buatlah orang-orang terkasih dalam hidupmu senang, banggakan mereka. Supaya kelak, jika mereka pergi selamanya maka akan membawa sebuah perasaan bahagia, bukan duka.
Setelah dirasa waktu sudah cukup, maka semua orang-orang sekte Bukit Halilintar pun kembali. Mereka langsung masuk kedalam ruangannya masing-masing. Kejadian pahit ini, sungguh belum bisa dipercaya oleh mereka.
__ADS_1