Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Kedamaian Setelah Perang


__ADS_3

Kedatangan Shin Shui ke istana kekaisaran pun disambut suka cita oleh semua orang yang ada disana. Sorak-sorai riang gembira menggema menyambut kedatangan Shin Shui.


Pemuda biru itu lalu masuk ke ruangan tempat biasa rapat. Semua petinggi sudah berkumpul disana.


Wajah mereka menggambarkan kebahagiaan. Tidak ada rasa sedih. Seolah, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup mereka semua.


Bagaimana tidak? Semua musuh bebuyutan kekaisaran sudah tewas. Dari antek-anteknya hingga pelaku utamanya berhasil dibunuh.


Tentu saja hal ini amat menyenangkan hati siapapun juga. Mereka semua membicarakan berbagai hal yang akan dilakukan ke depannya. Obrolan merekapun mengandung rasa bahagia. Senyum dan tawa selalu terpancar dari bibir masing-masing.


###


Seminggu sudah berlalu, kini para kepala tetua dan pata murid izin untuk pulang ke semektenya masing-masing. Begitu pula dengan Shin Shui sendiri. Dia sudah rindu akan 'rumahnya' itu.


Para kepala tetua sudah pulang lebih dulu. Kaisar Wei An yang bijaksana, memberikan kompensasi yang sesuai. Membuat para kepala tetua senang.


Bahkan kompensasi itu terbilang sangat banyak. Kini giliran Shin Shui dan orang-orangnya saja yang berniat untuk pamit mengundurkan diri.


"Kaisar, terimakasih atas semua kebaikannya. Aku izin untuk pamit dulu, semoga keadaan damai ini berlangsung cukup lama. Aku juga meninggalkan semua kitab pusaka yang didapatkan dari kediaman Raja Iblis Merah."


"Sebaiknya kau pilih saja diantara semua kitab itu mana yang harus dipelajari oleh banyak orang. Aku berharap kau juga membagikan kitab dan semua harta rampasan itu kepada sekte-sekte aliran putih. Jika digunakan dengan tepat, semua kitab itu akan mendatangkan manfaat,"


"Aku hanya membawa Kitab Dewa Iblis saja. Kitab ini terlalu berbahaya untuk dipelajari bagi sembarangan orang. Aku juga memberikan beberapa kitab tanpa tanding untukmu. Mohon kau mau mempelajarinya," kata Shin Shui kepada Kaisar Wei An.


"Ahhh … pahlawan muda, kau sungguh terlalu baik padaku. Jika aku diberikan hidup dua kali pun, rasanya aku tidak akan bisa membalas budi baikmu ini. Semua perintah pahlawan akan aku laksanakan. Dan terimakasih pula atas kitab-kitab yang dikhususkan untukku. Aku akan mengganti kompensasi yang sesuai nanti. Jangan lupa untuk memberikan kabar jika kau akan menikah," kata Kaisar Wei An sedikit bercanda.


"Hahaha … baik kaisar. Kalau begitu, kami pamit dulu. Semuanya, selamat tinggal," kata Shin Shui pamit undur diri sambil melambaikan tangan. Diikuti oleh Yashou dan yang lainnya.

__ADS_1


"Hahhh … pahlawan muda. Kau sungguh panutan semua generasi. Rasanya, jika dihadapanmu aku bukanlah apa-apa. Bahkan jika disuruh untuk memberikan jabatan ini pun, aku rela. Negeriku akan aman jika dipimpin oleh orang sepertimu," kata Kaisar Wei An sambil memandangi kepergian Shin Shui dan yang lainnya.


###


Waktu terus berjalan tiada hentinya. Begitu cepat waktu berlalu. Tak terasa sebulan sudah berlalu semenjak kepulangan Shin Shui dari istana kekaisaran Wei.


Saat ini kondisi di seluruh wilayah kekaisaran Wei aman terkendali. Ekonomi rakyat berjalan normal, kejahatan-kejahatan tidak seperti dulu lagi. Dari seratus persen, mungkin hanya ada lima belas persen kejahatan kecil saja.


Sekte-sekte aliran hitam yang masih tersisa, semuanya melarikan diri ke negara tetangga. Mereka sudah tidak bisa hidup dengan aman di kekaisaran Wei ini.


Kaisar Wei An memperkuat keamanan diseluruh penjuru. Hampir disetiap kota, pasti ada pihak-pihak istana kekaisaran yang berjaga disana dan dijadikan "raja kecil".


Semua rakyat hidup dalam kemakmuran. Semuanya bahagia atas kedamaian ini. Populasi kehidupan menjadi berkembang pesat. Sudah jarang terlihat ada desa kumuh dan para rakyat kelaparan. Semua kehidupan terjamin.


Hal ini tentunya tidak lepas dari pemimpin yang adil dan bijaksana. Juga tak lepas dari peran penting para pendekar pembela kebenaran. Dan yang paling penting, adalah karena sosok pendekar muda bernama Shin Shui yang dikenal orang dengan sebuan Pendekar Halilintar.


Sekte-sekte aliran putih berkembang semakin pesat. Sudah tidak ada lagi sekte kecil yang kekurangan sumber daya. Semuanya sudah maju.


Sekte Bukit Halilintar saat ini berara pada puncak kejayaan. Ribuan generasi muda mendaftar menjadi murid disana.


Di istana kekaisaran Wei, Kaisar Wei An membuat sebuah patung Shin Shui berukuran cukup besar. Ini sebagai tanda penghormatan besar dan rasa terimakasih kaisar kepada pemuda biru itu.


Istana kekaisaran pun sudah berbeda jauh dengan sebelum terjadinya perang besar. Sekarang istana kekaisaran semakin megah.


Selain itu, kini Kaisar Wei An juga sudah menikah dengan puteri dari kekaisaran Tang. Pernikahannya berlangsung beberapa minggu lalu dan dihadiri sekitar tujuh ribuan orang yang datang dari berbagai penjuru.


Baik itu dari kekaisaran Wei, maupun kekaisaran Tang dan negara tetangga lainnya. Pernikahannya digelar tujuh hari berturut-turut, karena itulah banyak orang-orang yang hadir dan ingin melihat calon istri dari kaisar yang mereka cintai itu.

__ADS_1


Apalagi pernikahan ini terbuka untuk umum. Siapapun boleh datang, baik rakyat jelata, ataupun para pedagang.


Tentunya semua keadaan seperti sekarang ini tak lepas dari yang namanya sebuah perjuangan. Perjuangan yang melibatkan segala hal. Perjuangan darah dan air mata. Perjuangannya sangat mengerikan, tapi hasilnya lebih mengerikan lagi.


###


Sekarang waktu menunjukkan pagi hari. Mentari pagi baru menyingsing. Burung-burung berterbangan dari sarangnya untuk menyambut datangnya pagi yang cerah ini.


Udara masih sejuk. Embun-embun dari dedaunan masih menetes jatuh membasahi bumi.


Ditempat biasa, para petinggi sekte Bukit Halilintar sedang menikmati secangkir teh hijau dengan cemilan kue.


Mereka berbincang-bincang santai. Semua tetua hadir. Bahkan semua siluman pun turut hadir. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi seperti ini sebuah hal penting. Karena mengingat semua yang berperan besar di sekte Bukit Halilintar, hadir disana.


"Kepala tetua, apakah kau yakin pernikahanmu nanti tidak akan dirayakan dengan megah? Jika kau mau, kita bisa merayakan pernikahanmu hingga beberapa hari tiada henti," kata Yashou mengawali pembicaraan serius.


"Tidak tetua Yashou. Aku tidak suka berlebihan," kata Shin Shui.


"Tapi, kasihan mereka yang datang dari tempat jauh. Setidaknya, rayakanlah pernikahamu selama tiga hari tiga malam. Ini demi menghargai semua orang yang akan hadir nanti," kata Yashou agak mendesak dan disetujui oleh yang lainnya.


Shin Shui tidak langsung menjawab. Kali ini dia berpikir beberapa saat, lalu melirik kepada Yun Mei. Dia pun menganggukkan kepalanya.


"Hahhh … baiklah. Aku setuju dengan saranmu," ucap Shin Shui.


"Bagus. Kalau begitu, semuanya cepat bergerak dan sebat undangan pernikahan kepala tetua ke seluruh penjuru," perintah Yashou.


Semua tetua bergerak dengan anggotanya sendiri dan jaringannya masing-masing. Mereka akan bekerja cepat dan sungguh-sungguh. Karena ini, akan menjadi momen yang paling bahagia nantinya.

__ADS_1


Sebelumnya Shin Shui memang sudah merencanakan pernikahannya bersama Yun Mei. Yashou pun turut hadir dalam perencanaan pasangan muda itu. Dan waktunya sudah diputuskan, yaitu sekitar dua mingguan lagi.


__ADS_2