
"Salam untuk para senior dari junior ini. Perkenalkan nama junior ini Shin Shui, apakah junior ini boleh mengetahui siapa dan darimana asal senior sekalian?" tanya Shin Shui.
Meskipun dia sudah tahu mereka berasal dari mana, tapi Shin Shui juga tidak bodoh. Dia tidak mau bertindak gegabah saat ini, terlebih ketika merasakan kekuatan mereka yang setidaknya berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga.
Kelompok pendekar itu tidak langsung menjawabnya. Mereka memperhatikan Shin Shui dari atas sampai bawah terlebih dahulu.
"Apakah kau benar pemuda yang berjuluk Pendekar Halilintar atau yang sering dikenal orang pemuda biru?" tanya salah seorang dari mereka.
"Benar senior, itu gelar dan julukan junior. Apakah junior ini melakukan sebuah kesalahan?" ucap Shin Shui tenang.
Mendengar Shin Shui membenarkan ucapan salah satu rekannya, keempat kelompok pendekar itu mulai mengeluarkan aura pembunuh yang kuat.
Tapi meskipun demikian, belum ada dari mereka yang mulai menyerang. "Apakah kau benar pembunuh Dewi Laba-laba?" tanyanya lagi kepada Shin Shui.
Pertanyaan salah satu kelompok pendekar itu membuat Shin Shui menjadi lebih yakin bahwa mereka berasal dari sekte Macan Kumbang. Naluri 'gila'nya mulai muncul ke permukaan.
Shin Shui tersenyum menyeringai, "oh … wanita tua itu. Benar, junior ini yang membunuhnya senior. Bahkan junior membunuhnya lebih dari satu kali, junior ini juga sempat membakar tubuhnya. Jantungnya juga dibakar, junior membakar wanita tua itu sampai gosong, bahkan sedikit mencicipi dagingnya. Tapi rasanya tidak enak … ehehehe" kata Shin Shui sembari tersenyum penuh makna.
Dia sengaja melebih-lebihkan ceritanya karena ingin melihat reaksi sekelompok pendekar itu. Wajah para pendekar tersebut menggambarkan ekspresi yang bervariasi, ada yang gemas, heran, dan juga bergidik ngeri.
'Ternyata bocah ini memang gila. Sayang, padahal dia punya wajah yang tampan padahal. Mungkin karena terlalu tampan hingga bocah ini menjadi gila.' batin salah satu pendekar.
'Berhasil. Kena kau pendekar tua … hahaha,' batin Shin Shui tertawa riang karena rencana untuk menakuti sekelompok pendekar itu membuahkan hasil.
"Jangan membual bocah. Apa kau tidak tahu siapa kami?" ucap salah satu pendekar dengan nada sedikit tinggi.
"Maaf senior. Junior ini tidak mengenali senior semua," jawab Shin Shui singkat.
__ADS_1
"Cihh … kami rekan Dewi Laba-laba. Perkenalkan, kami semua adalah tetua sekte Macan Kumbang," ucap pendekar tersebut yang ternyata adalah teman dari Dewi Laba-laba, Yun Che dan sekaligus tetua dari sekte Macan Kumbang.
"Oh teman nenek tua ya? Hmmm … dugaanku tidak salah ternyata. Kalian pasti kakek-kakek tua kan? Hahahah …" kata Shin Shui. Sifat gilanya sudah benar-benar keluar saat ini.
"Jaga ucapanmu bocah …" salah seorang pendekar berkata dengan nada marah pada Shin Shui.
"Memangnya kenapa? Ucapanku benar bukan? Kalin pasti sudah tua. Emmm … tunggu, tunggu. Kalian bilang tetua sekte Macan Kumbang? Untuk membunuh bocah sepertiku saja sekte Macan Kumbang sampai menyuruh empat tetua? Kenpa tidak sekalian saja kepala tetua kalian, atau bahkan seluruh anggota sekte sekalipun. Cihh … besok sekte kalian harus berganti nama! Jangan Macan Kumbang, lebih baik Macan Ompong … hahahaha …" kata Shin Shui sembari mentertawakan mereka.
Dia sebenarnya sedikit kebingungan kenapa ada banyak sekali orang yang menginginkan dirinya tewas. Terlebih, orang-orang yang mengincar dirinya seperti tak habis-habis, setiap hari selalu saja ada masalah.
"Hahhh … kenapa selalu saja ada masalah. Setiap hari aku harus bertarung dan bertarung. Ternyata tugas guru untuk mendamaikan dunia, khususnya negeri ini memang sangat berat." keluh Shin Shui pelan.
Sedangkan kelompok pendekar yang mengaku para tetua sekte Macan Kumbang, kali ini amarah mereka sudah sampai dipuncak akibat perkataan Shin Shui. Dada mereka terasa panas karena amarahnya sendiri.
"Sekali lagi kau berani berucap seperti barusan … kupastikan kau akan tewas dengan tubuh menjadi beberapa bagian," ucap salah satu tetua. "Cepat minta maaf sekarang juga!".
"Bocah sombong. Kau pikir aku takut dengan gelarmu itu hah?" kata salah seorang dari mereka.
"Apa kau pikir aku juga takut dengan jabatan kalian? Sekte Tengkorak Kegelapan saja bisa aku lenyapkan, bahkan jika aku mau …" Shin Shui memicingkan matanya dengan tajam. "Sekte kalian juga bisa aku hancurkan …"
Shin Shui langsung mengeluarkan hawa pembunuh yang pekat. Dari waktu ke waktu hawa pembunuh pemuda itu semakin kuat karena sering melakukan pertarungan dengan pendekar yang lebih hebat darinya.
"Omong kosong …"
Keempat tetua sekte Macan Kumbang langsung menyerang Shin Shui secara bersamaan. Mereka mengepung Shin Shui, aura pembunuh dari kelima pendekar tersebut mengisi tempat disekitar hutan itu.
Burung-burung yang tadinya hinggap di dahan pohon mulai beterbangan karena merasakan adanya bahaya yang mengintai mereka.
__ADS_1
Shin Shui mulai waspada, dia terus memperhatikan gerak-gerik musuhnya tersebut. Bagaimanapun dia harus bertarung tanpa adanya kesalahan, batin Shin Shui.
Dua dari empat tetua sekte Macan Kumbang menyerang Shin Shui dari arah kiri dan kanan, keduanya menggunakan pedang dan juga tombak. Mereka menyerang pemuda itu dengan amarah dan kebencian.
Shin Shui terus menghindari serangan yang cukup mematikan dari keduanya. Dia belum berniat untuk membalas, sebaliknya, Shin Shui ingin tahu sampai dimana kekuatan musuh yang dia hadapi saat ini.
Beberapa jurus telah berlalu, tapi sampai sejauh ini Shin Shui belum membalas serangan. Bahkan pedang pusaka pun belum dia cabut dari sarungnya.
"Kenapa kau tidak mau membalas kami? Apa kau takut? Ternyata benar, kau hanya besar mulut saja. Jika kau berani, gunakan pedangmu dan hadapi kami." salah satu tetua menantang Shin Shui secara adil dan menyuruh segera mencabut pedangnya.
"Baik … jangan menyesal. Asal kalian tahu saja, pedangku tidak akan kembali ke sarungnya jika belum mendapatkan mangsa." ucap Shin Shui. Dia langsung mencabut Pedang Halilintar yang berada di punggungnya. Cahaya biru terlihat bersinar beberapa saat ketika Shin Shui mencabut pedang pusaka itu.
Kedua tetua itu terus menyerang dengan ganas, gerakan cukup cepat. Tapi dengan sigap Shin Shui bisa menahan setiap serangan yang diberikan oleh lawan. Kedua rekannya yang sedari tadi diam sekarang ikut turun tangan.
Mereka merasa geram karena pemuda yang sedang dihadapi belum menerima luka walaupun sudah dikeroyok oleh dua orang tetua. Saat ini, Shin Shui mulai diserang dari segala arah.
Tak mau mengambil resiko, Shin Shui langsung mengeluarkan jurus pedang yang dia pelajari dari Kitab Halilintar.
"Tarian Pedang Halilintar."
"WUSHH …"
Gerakan Shin Shui semakin cepat dan tajam. Dia bergerak menusuk ke titik vital lawan-lawannya, semakin lama gerakan Shin Shui semakin sulit dibaca dan tidak terlihat oleh mata biasa.
Tak mau kalah, keempat tetua turut mengeluarkan jurus pedang terkuat miliknya masing-masing. Pertarungan jurus pedang terkuat diantara mereka tak dapat terhindarkan, suara beradunya pedang terdengar bersahutan.
"TRANGG …"
__ADS_1
"TRANGG …"