Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Dendam Tiga Tahun Lalu


__ADS_3

Hari mulai pagi. Sang surya mulai memberikab sinarnya kembali ke bumi. Burung-burung berkicau dengan riang menyambut datangnya pagi. Dibawah pohon sakura, dua orang muda mudi baru terbangun dari tidurnya karena merasa ada sebuah sinar yang menyorot ke mata mereka. Dan ternyata itu sinar mentari pagi. Benar, mereka adalah Shin Shui dan Yun Mei.


Tidak ada yang berani membangunkan keduanya. Padahal Yashou pun tahu bahwa Shin Shui tidur dibawah pohon sakura. Tapi orang tua itu tidak berani mengganggu kenikmatan dua muda mudi yang sedang terlelap tersebut.


"Memei, ayo kita kembali. Aku rasa orang-orang sudah menunggu." ajak Shin Shui sembari mengusap kedua matanya yang masih terasa ngantuk.


Yun Mei menganggukkan kepalanya. Pasangan pendekar muda itu mulai berjalan memasuki sekte Bukit Halilintar. Dan benar saja, ketika mereka sudah sampai, terlihat orang-orang disana sudah menjalankan aktivitasnya masing-masing.


Para murid pun sedang melakukan latihan pagi hari. Tapi ketika melihat kepala tetua dan tetua mereka, para murid itu berhenti sejenak. Mereka memberikan hormatnya.


Shin Shui hanya mengangguk. Keduanya berniat untuk kembali ke ruangan masing-masing dan membersihkan diri dahulu sebelumnya menjalankan tugasnya. Setelah selesai, mereka langsung ke tempat dimana ada para tetua sekte Bukit Halilintar.


Yun Mei datang lebih dahulu, lalu tak lama Shin Shui menyusulnya. Ternyata diruangan itu para tetua sudah berkumpul semuanya. Shin Shui dan Yun Mei agak malu juga karena telat datang. Tapi tidak ada yang berani berkata apa-apa. Mereka menyambut keduanya.


"Selamat pagi kepala tetua," ucap para tetua serempak ketika melihat Shin Shui masuk ke ruangan itu.


"Selamat pagi kembali." jawab Shin Shui. Pemuda biru itu lalu duduk dikursi yang sudah disediakan.


Para petinggi sekte Bukit Halilintar tersebut saat ini sedang berdiskusi ringan. Mereka mulai sama-sama menjalankan tugasnya masing-masing. Suasana pagi hari itu dibarengi dengan secangkir teh, sungguh nikmat sekali rasanya.


"Tetua Hong, segera kirimkan para murid sesuai apa yang kau katakan semalam," perintah Shin Shui disela-sela diskusi itu.


"Baik kepala tetua." tetua Hong Liong lalu pergi keluar untuk menentukan siapa saja murid yang akan ditugaskan dalam hal ini.

__ADS_1


###


Ditempat lain, enam orang pendekar kini sedang berdiskusi. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi kelihatannya sangat serius karena disana ada salahsatu bawahan Lin Jun yang kemarin menyusup.


"Apakah yang kau bicarakan itu benar?" tanya salahseorang kepada bawahan Lin Jun.


"Tentu saja, aku benar-benar melihatnya bahwa kepala tetua Lin kemarin ditangkap oleh orang-orang itu. Tapi kalau keadaannya sekarang aku tidak mengetahui pasti. Mungkin kepala tetua Lin sudah terbunuh oleh Pendekar Belalang Sembah," jawab bawahan Lin Jun.


"Hemmm … aku dengar kepala tetua sekte itu adalah si 'bocah gila', apakah benar?" tanyanya lagi.


"Menurut kabar yang aku dengar sepertinya begitu,"


"Hemmm … nanti siang kita kesana. Aku ingin menuntut balas tentang kematian para kepala tetua dan rekan-rekan aliansi sekte Lembah Beracun. Sekarang dengan kekuatanku yang sudah mencapai Pendekar Dewa tahap empat, aku yakin bisa mengalahkannya selama Pendekar Belalang Sembah tidak membantu," kata salahseorang diantara mereka dengan nada marah.


Mereka ingin menuntut balas kepada Shin Shui karena kepala tetua sekte dan rekan-rekan mereka tewas. Sehingga nasib kesemua sekte itu terbengkalai, bahkan sebagian ada yang bubar. Termasuk sekte Lembah Iblis.


Orang-orang yang tersisa dari sekte itu lebih memilih untuk hidup sendiri dengan cara merampok dan sejenisnya. Bahkan sebagian dari mereka lebih memilih untuk bergabung dengan sekte lain.


Keenamnya setuju, mereka ingin membalaskan dendam para atasannya. Tidak peduli dengan posisi Shin Shui, toh kekuatan mereka sekarang ini sudah terbilang tinggi karena hadirnya sekte Sumber Daya. Mereka sangat yakin bisa menang jika melakukan pertarungan bersama Shin Shui.


###


Matahari sudah tepat diatas kepala. Keenam pendekar itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekte Bukit Awan untuk membalaskan dendam.

__ADS_1


Kejadian penyerangan itu memang sudah lama, tepatnya sudah tiga tahun lalu. Dimana ketika Shin Shui pertama kali menginjakkan kaki di dunia Persilatan. Tapi apa mau dikata?


Ketika nafsu sudah menguasai dirimu, maka masalah yang sudah berlalu pun bisa muncul kembali. Manusia memang tidak bisa menghilangkan hawa nafsu yang ada pada diri. Tapi setidaknya manusia bisa melawan dan menaklukkan nafsu itu.


Karena nafsu ibarat pisau, jika kita bisa memegang pisau maka pisau itu akan bermanfaat. Tapi jika kita tidak bisa memegang pisau, maka pisau itu tentu bisa melukai kita sendiri. Begitu pun nafsu. Nafsu itu hanyalah alat, maka manfaatkanlah. Jangan sampai kita yang malah diperalat oleh nafsu.


Keenam pendekar sudah melesat dengan cepat. Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh yang cukup hebat. Bahkan gerakannya sangat cepat bagaikan kilat. Jarak yang harus mereka tempuh untuk menuju sekte Bukit Halilintar paling hanya dua jam. Karena kebetulan mereka sedang berada di desa perbatasan.


Masing-masing dari mereka mengenakan pakaian serta penutup wajah berwarna hitam. Sebilah pedang masing-masing tersarung di punggung keenam pendekar itu. Hanya bawahan Lin Jun yang terlihat berbeda, dia memakai pakaian sekte Macan Kumbang dengan senjata dua buah trisula yang tersimpan rapih di bagian belakang bawah pinggang.


Mereka menuju ke sekte Bukit Halilintar membawa sebuah kepercayaan tinggi. Percaya bahwa mereka akan menang. Padahal, pemuda yang akan mereka hadapi pun kini sudah jauh berbeda dari tiga tahun lalu.


Kini keenam pendekar itu sudah sampai didepan gerbang masuk sekte Bukit Halilintar. Gerbang itu dijaga oleh empat orang Pendekar Langit dan Surgawi yang berjumlah masing-masing dua orang.


Keenam pendekar tadi tidsk langsung menyerang. Mereka memilih untuk masuk ke dalam dengan baik-baik. Tentu saja mereka berlaku demikian tak lain karena takut akan menyinggung Yashou si Pendekar Belalang Sembah.


"Selamat siang tuan-tuan, ada yang bisa kami bantu? Sebelumnya bisa tunjukkan kartu identitas tuan-tuan sekalian?" salahseorang penjaga gerbang itu menyambut mereka dengan sopan.


"Kami memiliki urusan penting dengan kepala tetua. Ahh … kami lupa mebawanya, apakah jika tidak ada kartu identitas tidak diperbolehkan masuk?" tanya salahsatu pendekar. Nadanya masih terbilang tenang supaya tidak mencurigakan.


Tapi belum sempat penjaga itu menjawab, tiba-tiba salahsatu dari keenam pendekar langsung menotok para penjaga itu hingga pingsan.


"Ayo kita masuk." ajak salahsatu pendekar. Segera saja mereka memasuki sekte Bukit Halilintar dengan melesat bagai angin.

__ADS_1


__ADS_2