Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Pendekar Rantai Hitam


__ADS_3

Shin Shui kembali duduk ditempat sebelumnya, meskipun sempat diancam oleh seorang pendekar yang memiliki gelar, pemuda biru itu sama sekali tidak panik. Bahkan dia masih terlihat tenang seperti sebelumnya.


"Baiklau para hadirin sekalian. Acara pelelangan sekte Sumber Daya sudah selesai. Aku … Mei Yin, mewakili semua anggota dan tetua sekte Sumber Daya mengucapkan banyak terimakasih kepada hadirin dan senior semua karena telah berpartisipasi. Sampai jumpa di pelelangan selanjutnya." ucap Mei Yin mengakhiri acara pelelangan.


Setelah Mei Yin berucap demikian, orang-orang disana tidak langsung membubarkan diri. Mereka langsung membuka lapak dan menjajalkan barang yang mereka punya.


Lebih dari setengah pengunjung dan para pendekar yang datang saat ini sedang menjual apa yang mereka miliki dan mungkin menarik bagi orang lain.


Karena tidak ada barang ataupun hal lainnya yang membuat Shin Shui tertarik, akhirnya dia pergi meninggalkan tempat acara pelelangan tadi. Kalung Halilintar yang dia beli tadi, saat ini sudah melingkar di lehernya.


Shin Shui berjalan perlahan dari dalam tempat pelelangan menuju ke luar, dia berniat untuk melanjutkan perjalanan kembali setelah mengembalikan siluman Singa Hitam ke tempat asalnya.


Ternyata bukan hanya Shin Shui yang langsung pulang dari acara itu, ada juga beberapa pendekar yang langsung pulang dengan alasan lainnya. Termasuk pria tua yang mengaku sebagai Pendekar Rantai Hitam.


Shin Shui sedikit curiga terhadap Pendekar Rantai Hitam itu, sebab sedari tadi Shin Shui melihat gerak-gerik Pendekar Rantai Hitam yang terus memperhatikan dirinya. Dugaan Shin Shui benar terjadi, Pendekar Rantai Hitam berlari dan menghentikan langkah kaki Shin Shui.


"Maaf senior, maksud senior apa? Kenapa senior menghentikan langkaj junior ini?" tanya Shim Shui sopan.


"Tidak usah banyak alasan. Cepat serahkan Kalung Kristal Halilintar! Seharusnya kalung itu menjadi milikku. Tapi kau berani merebutnya," kata Pendekar Rantai Hitam sedikit marah kepada Shin Shui.

__ADS_1


"Maaf senior, junior tidak bisa memberikan kalung ini kepada senior. Lagi pula, junior tidak merasa merebutnya dari senior." jawab Shin Shui tenang dan sedikit senyuman.


"Tidak usah berbasa-basi lagi bocah. Jika kau tidak memberikan kalung itu maka …" Pendekar Rantai Hitam langsung mengeluarkan aura pembunuh yang kuat.


Bukan hanya Shin Shui saja yang merasakannya, orang-orang yang berada pada jarak dua puluh meter darinya juga merasakan hal yang sama.


Akibatnya, mereka langsung menuju lokasi darimana aura pembunuh yang kuat itu berasal. Bahkan, Pendekar Kipas Maut pun turut mendatangi tempat itu.


"Pendekar tua ini memang kuat. Tapi pemuda itu sangat tenang walau berada dalam tekanan aura pembunuh. Aku yakin pemuda biru itu memiliki sisi lain dari sifat tenangnya." gumam Pendekar Kipas Maut sembari memperhatikan Shin Shui diiringi sedikit senyuman.


Orang-orang yang saat ini sudah berkumpul mulai panik, mereka sedikit iba terhadap pemuda yang tak lain adalah Shim Shui. Hal ini terjadi karena Pendekar Rantai Hitam terkenal dengan jurus rantai yang mematikan dan jurus terlarangnya.


Lain halnya dengan orang-orang, Shin Shui masih tetap tenang, bahkan tersenyum lembut dan menjawab omongan Tien Bai. "Maka apa senior?" ucapnya diiringi senyuman, tapi senyumannya kali ini berbeda, sifat 'gila' Shin Shui mulai muncul.


"Maka aku akan melakukan jalur pendekar supaya kau memberikan kalung itu padaku," ucap Tien Bai si Pendekar Rantai Hitam. Kali ini dia mengeluarkan aura pembunuh lebih kuat lagi.


Melihat pria tua dihadapannya mengeluarkan aura pembunuh yang lebih kuat, Shin Shui sedikit tertekan. Pemuda biru itu memutuskan untuk mengeluarkan aura pembunuh seperti yang dilakukan oleh Pendekar Rantai Hitam tersebut.


"Baiklah, maafkan jika junior ini berlaku tidak sopan…"

__ADS_1


"WUSHH …"


Aura berwarna hitam pekat dan biru keluar dari tubuhnya lalu segera menyatu dan membuat kerikil yang berada disekitarnya beterbangan.


Shin Shui langsung mengeluarkan aura pembunuh yang lebih kuat, meskipun pengalaman bertarung ataupun pengalaman membunuhnya tidak sebanyak Pendekar Rantai Hitam.


Hal ini karena beberapa waktu ke belakang Shin Shui selalu membunuh pendekar yang tingkatannya berada di atas dirinya sendiri, alasan inilah yang membuat aura pembunuh Shin Shui menjadi sangat pekat dan lebih kuat.


Semua yang menyaksikan kejadian ini tersentak kaget tidak percaya, termasuk Tien Bai si Pendekar Rantai Hitam. 'Pemuda ini …' batinnya. Dia sedikit gentar sekarang, tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Tidak mungkin Pendekar Rantai Hitam menarik kata-kata lagi, pikirnya.


"Mari kita bermain-main, jangan sungkan padaku. Aku tidak suka berbasa-basi dengan manusia sepertimu. Aku pastikan hari ini adalah hari terakhirmu. 'Setinggi-tingginya pohon, pasti akan ada pohon yang lebih tinggi lagi'." kata Shin Shui, kilatan biru mulai keluar dari bola matanya.


"HIYAA …"


Pendekar Rantai Hitam langsung berlari menyerang Shin Shui, dia masih menggunakan tangan kosong. Adu pukulan mulai terjadi diantara mereka.


Pendekar Rantai Hitam terus memukul Shin Shui, dengan sigap Shin Shui menahannya. Tangan kiri Pendekar Rantai Hitam mencengkram bahu kiri Shin Shui, lalu dia berniat memukul dada pemuda itu.


Dengan cepat Shin Shui memutarkan tubuhnya. Dia langsung membalasnya dengan sebuah tendangan yang mengarah ke dada Tien Bai. "Ahhh …" pria tua itu mengeluh pelan. Dadanya terasa sulit untuk bernafas.

__ADS_1


__ADS_2