
Shin Shui dan para tamu kehormatan lainnya sudah duduk di tempatnya masing-masing. Mereka mengambil tempat duduk yang sama seperti kemarin.
Terlihat para penonton sudah memenuhi tempat arena pertandingan. Penonton hari ini lebih banyak daripada hari kemarin, karena mengingat hari ini adalah pertarungan yang mereka tunggu-tunggu.
Para murid dari berbagai sekte sudah memasuki arena pertandingan. Seperti biasa, mereka akan dikumpulkan terlebih dahulu untuk sekedar menyapa penonton.
Saat ini para murid jenius sudah duduk berjejer rapi sembari menunggu wasit mengumumkan bahwa kompetisi kekaisaran akan segera dilanjutkan. Tempat duduk mereka dipisahkan sesuai masing-masing tingkatan sekte yang mereka wakili.
Di bangku tamu kehormatan …
Raut wajah Shin Shui terlihat berbeda dari hari kemarin. Saat ini pemuda yang dianggap pahlawan oleh kekaisaran itu merasakan sesuatu yang menurutnya ganjil.
"Hemmm … kenapa aku seperti merasakan sesuatu yang tidak beres ya. Perasaanku menjadi tidak enak." gumam Shin Shui perlahan sembari memicingkan matanya dan memandangi seluruh bagian tempat penonton.
"Aku juga merasakan hal yang sama Shui'er. Berhati-hatilah dan tetap waspada. Aku akan ikut memperhatikan dari sini," kata Cun Fei sang jelmaan naga emas lewat pikiran Shin Shui.
__ADS_1
"Aishh … ternyata senior juga merasakannya. Baik senor, aku akan selalu waspada. Jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, aku harap senior membantuku," balas Shin Shui kepada Cun Fei lewat alam pikirnya. "Tentu saja Shui'er. Itu sudah menjadi kewajibanku." jawab Cun Fei.
Wasit mulai memasuki arena pertandingan dan akan segera mengumumkan bahwa kompetisi kekaisaran akan segera dimulai kembali. Tapi sebelum itu terjadi, tiba-tiba …
"SRING … WUSHH …"
Pedang Naga Emas milik Shin Shui mendadak melesat cepat melewati tempat duduk para murid sekte kelas atas. Melihat hal itu, orang-orang disana kaget bukan main. Bahkan kaisar dan tamu kehormatan, termasuk para murid itu pun sama terkejutnya. Mereka semua langsung berdiri tegang.
Apa yang pahlawan muda itu lakukan? Apa dia berusaha membunuh murid jenius? Apa dia sudah gila? Berbagai pertanyaan negatif muncul di pikiran orang-orang itu.
"Ada apa pahlawan muda?" Kaisar Wei An pertama kali bereaksi setelah melihat apa yang dilakukan Shin Shui. Sebab kaisar muda itu tahu, apapun yang dilakukan pahlawan muda pasti ada alasan, pikirnya.
"Ada tamu tidak diundang." jawab Shin Shui singkat.
Pedang Naga Emas sudah berada kembali di genggaman tangannya. Shin Shui melempar pedang itu ke arah penonton. Pedang itu melesat dengan sangat cepat, tiba-tiba …
__ADS_1
"Ahhh …"
Suara teriakan terdengar di barisan penonton. Orang-orang disana langsung ketakutan melihat salah seorang penonton sudah tidak bernyawa dengan pedang menancap di dadanya.
Shin Shui lalu melesat ke barisan penonton dan mengambil jasad orang yang sudah tertusuk oleh Pedang Naga Emas miliknya. Setelah itu, Shin Shui lalu kembali ke tempatnya sembari membawa jasad itu.
"Ada apa sebenarnya pahlawan muda?" tanya seorang kepala tetua kepada Shin Shui mewakili rasa penasaran tetua lainnya.
"Ada penyusup yang mengincar nyawa para murid. Ini … aku menemukan enam buah jarum beracun dan membawa pelakunya. Tapi aku yakin dia tidak sendiri," kata Shin Shui sembari memberikan enam buah jarum yang dimaksud dan seorang jasad pria yang kurang lebih terlihat seperti usia 70 tahun.
Shin Shui lalu memeriksa jasadnya, pria tua itu memakai dua buah pakaian. Yang dipakai diluar berupa pakai yang biasa dipakai warga. Betapa terkejutnya Shin Shui setelah membuka pakaian yang asli dari jasad itu dan menemukan lambang tengkorak.
"Tidak salah lagi. Ini adalah lambang sekte Tengkorak Kegelapan. Kaisar, lanjutkan saja kompetisi ini. Aku akan mengejar penyusup yang lainnya, perketat penjagaan." kata Shin Shui.
Kaisar tidak berani membantah setelah melihat ekspresi Shin Shui yang terlihat seperti memendam sebuah dendam kesumat. Mata pahlawan muda itu menjadi merah, aura pembunuh mulai keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
Shin Shui langsung melesat untuk mengejar penyusup yang lainnya sebelum kaisar angkat bicara. Dendam yang dia pendam selama ini mendadak muncul ke permukaan lagi.