
Serangan terkahir yang akan mengantarkan Shin Shui bertemu dengan Raja Akhirat sudah meluncur. Raja Iblis Merah berniat untuk mencabut nyawa Shin Shui dengan tangannya sendiri.
Ditangan kananya sudah terkumpul energi besar hingga terlihat seperti naga yang melingkari tangannya itu.
"Anak muda, sebelum kau mati, apakah ada keinginanmu yang terakhir? Katakan, siapa tahu bisa menyenangkan hatiku … hahaha …" Raja Iblis Merah berkata dengan lantang sambil memandangi Shin Shui yang sudah dijung tombak.
"Tidak ada. Aku sudah merasa bahagia bisa tewas dalam medan perang seperti ini. Setidaknya, namaku akan dikenang sebagai seorang pahlawan," kata Shin Shui sambil sesekali memuntahkan darah karena dia memaksakan untuk bicara.
"Bagus. Kau memang harus bangga tewas ditangan Raja Iblis Merah … hahaha. Sekarang, terimalah kematianmu anak muda yang luar biasa. Aku salut padamu … selamat jalan …" kata Raja Iblis Merah dengan tulus.
Memang, dia sebenarnya salut kepada Shin Shui. Pada usia yang masih muda, tapi Shin Shui bisa membuatnya terluka parah. Baru kali ini dia menemukan dalam sepanjang sejarah hidupnya, bahkan anaknya sendiri pun tidak seperti Shin Shui.
Tangan kanannya sudah ditarik ke belakang. Aura hitam ditangannya semakin tebal dan mengerikan. Semua orang yang melihat ini menjerit kembali.
Isak tangis dari mereka sudah terdengar bersahutan. Jeritan dari siluman peliharaan Shin Shui pun sudah menggema hingga membuat telinga sakit.
Betapa sedihnya mereka, orang yang selama ini selalu baik, selalu ramah, selalu rendah hati dan tidak sombong akan menemui akhir hidupnya. Tidak ada gang tidak menangis. Semuanya menangis.
Belum pasti meninggal pun sudah menangis, apalagi kalau sudah pasti? Begitulah hidup.
__ADS_1
Manusia yang menanam benih-benih kebaikan selama hidupnya, maka akan selalu dikenang sepanjang nyawa dikandung badan dan orang-orang berharap supaya orang itu panjang umur.
Tapi manusia yang menanam benih-benih keburukan selama hidupnya, mereka akan segera dilupakan. Bahkan semua orang berharap supaya kematian datang dengan cepat menjemputnya.
Orang yang hebat bukan mereka yang sukses, orang yang luar biasa bukan mereka yang kaya akan harta. Tapi orang yang hebat dan luar biasa adalah mereka yang bermanfaat selama hidupnya. Mereka yang bisa membuat orang bahagia. Merekalah manusia yang sudah menjadi manusia.
"HIYAA …"
Raja Iblis Merah sudah melancarkan pukulannya mengarah kepada dada Shin Shui. Pemuda biru itu hanya terpejam dengan senyuman ketika nyawanya akan melayang. Tidak ada rasa takut sedikitpun.
Siapa sangka, tepat ketika pukulan Raja Iblis Merah berada sekitar satu jengkal lagi dari dada Shin Shui, mendadak iblis itu terpental hingga dua tombak.
Tak lama sebuah cahaya putih turun tepat didepan Shin Shui. Cahayanya menyilaukan mata semua orang hingga beberapa saat lamanya.
Mereka tiba-tiba saja merasakan adanya hawa yang membawa perdamaian. Hawa yang menghangatkan dan membuat nyaman jiwa. Seolah-olah mereka bukan berada ditempat perang, melainkan berada ditempat yang begitu menenangkan jiwa.
Ternyata, setelah seluruh cahaya itu menghilang, nampaklah kini seseorang yang terlihat masih muda. Padahal umurnya sudah sangat tua.
Tubuhnya masih kekar dan tegap. Rambut panjangnya dibiarkan merumbai-rumbai diterpa angin. Wajahnya selalu tersenyum, senyumannya itu mampu membuat siapapun terpana dan merasakan kebahagiaan.
__ADS_1
Orang itu melirik ke arah semua tetua dan kepala tetua yang menangisi Shin Shui tadi. Semua orang terkejut, terlebih mereka yang sudah tua. Yang paling terkejut adalah Yashou, dia bagaikan mimpi.
Shin Shui yang merasa ada keanehan mencoba untuk membuka matanya, dia merasa bahwa tadi Raja Iblis Merah sudah mengayunkan pukulannya. Tapi kenapa tidak sampai-sampai? Mungkin begitu pikiran pemuda biru itu.
"Gu-guru? Ini … ini dirimu? Benarkah?" kata Shin Shui memaksakan bicara ketika mengetahui siapa yang ada dihadapannya.
Gurunya, ya gurunya, Lao Yi. Dia sangat kenal dan masih sangat ingat bagaimana bentuk tubuh gurunya itu. Meskipun dia sudah tidak bertemu belasan tahun, tapi dia masih mengingatnya.
Meskipun penampilannya kini sangat jauh berbeda, tapi Shin Shui sangat yakin bahwa itu memanglah gurunya.
Dan memang tidak salah. Orang yang dimaksud oleh Shin Shui memang gurunya, Lao Yi sang Pendekar Guntur. Sang legenda kekaisaran Wei.
Ditengah keterkejutan Shin Shui, Lao Yi hanya mengangguk mengiyakan bahwa memang dia gurunya sendiri. Setelah itu, Lao Yi lalu berjalan dengan santai ke arah Raja Iblis Merah yang daritadi terkejut.
"Kenapa? Kau kaget sahabatku? Jangan kaget, ini memang aku. Lao Yi, orang yang dulu pernah bertarung denganmu di masa lalu. Aku datang kesini untuk menolong muridku dan untuk menyelesaikan urusanku denganmu. Jangan kau libatkan muridku, kita selesaikan urusan kita pribadi pada masa lalu itu," kata Lao Yi dengan santai sambil melemparkan senyuman.
"Ka-kau … ba-bagaimana bisa? Bu-bukankah kau sudah mencapai tahap Pendear Keabadian? Dan di-dia muridmu?" tanya Raja Iblis Merah sedikit terbata-bata karena saking tidak percayanya.
"Benar, aku sudah mencapai tahap Pendekar Keabadian. Dan dia memang muridku, kenapa? Kau tidak menyangka? Sudahlah, kita selesaikan saja urusan waktu itu," tutur Lao Yi si Pendekar Guntur.
__ADS_1
"Baik, jila itu maumu. Mari kita selesaikan urusan kita. Jika memang takdirku harus mati ditanganmu, aku sungguh merasa terhormat. Dan aku sungguh akan merasa bahagia, lagi pula aku memang sudah bosan dengan semua ini. Aku melakukan ini semua bahkan demi anakku. Sekarang karena kau datang, aku yakin tidak bisa mengalahkanmu karena kekuatanku kini berada dibawahmu. Tapi tak mengapa, aku akan mengeluarkan seluruh kekuatanku tanpa sungkan. Kau pun jangan sungkan-sungkan, beri aku waktu sebentar untuk memulihkan tenagaku…" kata Raja Iblis Merah kepada Lao Yi.
"Baik. Silahkan sahabatku, aku juga tidak akan sungkan lagi," kata Lao Yi dengan tenang.