
Komplotan perampok Iblis Kembar itu berlari ke hutan, jumlahnya kurang lebih sekitar lima orang saja. Mereka terlihat membawa banyak harta hasil curian dan membawa seorang gadis muda yang cantik.
Shin Shui dan Yun Mei hanya melesat dengan kecepatan sedang, keduanya sengaja melakukan hal tersebut karena ingin melihat dimana markas kelompok perampok Iblis Kembar itu.
Setelah berlari sekitar dua puluh menit, akhirnya kelima perampok itu berhenti disebuah bangunan yang ada ditengah hutan. Menurut pengamatan Shin Shui, bangunan itu sengaja dibuat oleh mereka demi menjaga keselamatan dari orang-orang yang mengejar mereka. Terlebih karena posisinya tepat berada ditengah sebuah hutan yang cukup menyeramkan.
Bangunan itu memiliki ukuran yang lumayan besar, usianya terlihat sudah cukup tua. Tapi meskipun begitu, bangunan tua itu masih bisa bertahan jika dilanda badai sekalipun karena pondasinya sangat kokoh.
Kelima komplotan perampok mulai memasuki bangun tua tersebut, mereka masih belum menyadari bahwa ada dua pasang mata yang sedang mengintai dari jarak cukup jauh.
"Ayo kita mendekat kesana, aku ingin tahu apa yang akan mereka lakukan." Shin Shui mengajak Yun Mei untuk mengawasi perampok itu dari jarak yang lebih dekat.
Yun Mei menganggukkan kepalanya, pemuda dan gadis itu segera melesat untuk mengamati situasi dari jarak yang lebih dekat lagi. Shin Shui dan Yun Mei mendarat tepat diatas tengah-tengah atap bangunan.
Meskipun Shin Shui bisa membunuh perampokan tersebut dengan mudah, tapi pemuda itu tetap diam dan tidak ingin gegabah. Shin Shui memilih untuk menguasai keadaan terlebih dahulu.
"Lapor ketua Mata Satu, kami berhasil merampok harta cukup banyak kali ini. Tidak lupa kami juga membawa gadis cantik untuk ketua Iblis Kembar," kata salah seorang perampok tadi melaporkan hasil rampokannya kepada seorang ketua.
"Hahaha … bagus … bagus, ketua Iblis Kembar pasti senang dengan hasil hari ini. Kelompok lain juga mendapatkan hasil yang tidak kalah dari kalian. Nanti malam kita akan pergi ke markas utama dan menyerahkan semua hasil yang kita peroleh," jawab ketua yang berjuluk Mata Satu.
Dia dijuliki demikian karena memang hanya mempunyai satu mata saja, sedangkan yang satunya lagi ditutupi layaknya bajak laut. Rambutnya yang panjang sebahu dan jambang yang tidak terurus membuat dirinya terlihat lebih menyeramkan.
Shun Shui masih memperhatikan dari atas atap bangunan, pemuda itu melihat setidaknya didalam sana ada kurang lebih dua puluh perampok.
Kedua puluh perampok itu merupakan Pendekar Bumi tahap dua, sedangkan ketua Mata Satu sendiri merupakan Pendekar Dewa tahap satu.
Shin Shui mulai geram saat menyaksikan seorang gadis yang akan di perkosa oleh ketua Mata Satu, dengan segera pemuda itu turun dan menghancurkan atap bangunan tua tersebut. Yun Mei segera mengikutinya setelah Shin Shui menghancurkan atap.
Orang-orang yang ada disana kaget bukan main saat mengetahui ada seorang pemuda dengan pakaian serba biru yang berani menghancurkan markasnya. Terlebih mereka lebih kaget saat ada seorang gadis cantik mengikuti di belakangnya.
__ADS_1
"Siapa kalian? Berani sekali kalian menghancurkan markas kami," kata salah seorang perampok.
Para perampok tersebut sangat geram dengan apa yang dilakukan Shin Shui. Terlebih karena Shin Shui telah mengagalkan rencana ketua mereka untuk menikmati tubuh seorang gadis cantik.
"Aku? Aku adalah malaikat yang akan mencabut nyawa kalian," kata Shin Shui.
Pemuda itu langsung naik darah, dia segera mengeluarkan aura pembunuh yang sangat kuat sehingga bisa menekan ketua Mata Satu sekalipun.
"Dia benar-benar kuat," gumam Yun Mei perlahan saat tekanan aura pembunuh Shin Shui.
"Yun Mei, apa kau sanggup menghadapi semut ini?" tanya Shin Shui kepada Yun Mei, tapi pandangannya tetap terfokus ke depan.
"Ya … aku sanggup. Kau hadapi saja ketuanya, biarkan aku yang mengurus mereka." jawab Yun Mei.
Keduanya lalu membagi tugas sesuai dengan kesepakatan. Yun Mei segera menyerang komplotan perampok itu dengan ganas, dia mengeluarkan jurus tingkat tinggi miliknya.
'Dia benar-benar seorang pendekar. Pantas saja aku tidak mengetahuinya, gadis itu ternyata tidak menggunakan senjata saat bertarung ya, hmmm …' batin Shim Shui sembari memperhatikan Yun Mei yang sedang bertarung.
"Takut mati? Hahaha … apa kau yakin berkata seperti itu? Kau pikir aku takut kepada Pendekar Dewa tahap satu sepertimu? Hahaha … bahkan aku bisa membunuhmu hanya dengan satu jurus," jawab Shin Shui diiringi suara tawa.
'Bocah ini bisa mengetahui level pelatihanku, apakah dia berada diatasku? Tidak mungkin, dia pasti hanya kebetulan.' batin ketua Mata Satu.
Dia cukup kaget sebenarnya, terlebih saat Shin Shui bisa mengetahui level pelatihannya. Sebab yang dia tahu, orang yang bisa melihat level pelatihan biasanya memiliki tingkat pelatihan yang jauh lebih tinggi.
Tapi meskipun begitu, ketua Mata Satu tetap tidak percaya pada Shin Shui, dia justru kesal karena merasa direndahkan oleh seorang pemuda.
"Buktikan omong kosongmu bocah …"
"HIYAA …"
__ADS_1
Ketua Mata Satu berlari menyerang Shin Shui dengan sebuah golok besar, tapi pemuda itu tidak takut. Dia malah tetap diam tanpa bergeser sedikitpun.
Golok itu sudah semakin dekat dengan Shin Shui, tapi tepat sebelum mengenai lehernya, Shin Shui segera mengapit dan mematahkan golok ketua Mata Satu tersebut.
"KRAKKK … CLANGG …" patah.
Golok ketua Mata Satu dipatahkan Shin Shui hanya dengan dua jari tangannya saja. Ketua Mata Satu kaget bukan main, tapi sebelum bertindak lebih jauh, Shin Shui segera berbalik menyerangnya.
"Pukulan Halilintar …"
"WUSHH … DUARR …"
"Ahhh …" mati.
Ketua Mata Satu tewas dengan dada yang hancur akibat pukulan Shin Shui, pemuda itu benar-benar membunuh seorang Pendekar Dewa tahap satu hanya dengan satu jurus.
Berbarengan dengan itu, Yun Mei pun sudah berhasil mengalahkan semua perampok, semua yang dia bunuh mendapatkan sebuah luka pukulan di perutnya, hanya ada satu orang yang tersisa dan itupun dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
Yun Mei sengaja menyisakannya supaya mendapatkan informasi dimana markas utama perampok Iblis Kembar.
"Wah kau hebat juga Yun Mei, aku tidak menyangka kau setangguh itu." kata Shin Shui memuji Yun Mei.
Gadis itu tidak menjawab, dia hanya melemparkan senyuman manis yang membuat Shin Shui mendadak gugup seketika.
Novel Sasindigo adalah novel perdana Dhie Kaviar yang ekslusif di "dunia orange", penulis Novel Petualangan Zhu Yue.
Ketidak sempurnaan dalam novel² sebelumnya dilampiaskan dalam novel Sasindigo dengan sub judul Nila, Sastra, Moksa.
__ADS_1
Cuz, buruan🤣 dijamin lebih nendang🌜