
"Baiklah kalau begitu. Aku akan ikut bersamamu sambil membantu menyelamatkan ayahmu Kwei Moi," kata Shin Shui dengan senangnya karena kini sudah melihat gambaran terang untuk ke tempat tujuan utamanya.
"Baiklah. Ehhh … apa barusan yang kau bilang itu benar?" tanya Kwei Moi yang mendadak penasaran karena perkataan Shin Shui yang menyatakan akan membantunya.
"Tentu saja benar. Lagi pula arah tujuan kita sama, aku memiliki tujuan ke gunung San-ong yang merupakan perbatasan Timur itu. Jadi, dengan senang hati aku akan membantumu," kata Shin Shui meyakinkan wanita itu.
"Apakah aku tidak salah dengar? Haaa … makasih Shin Shui," kata Kwei Moi dengan senangnya, sampai-sampai dia memegangi erat-erat tangan Shin Shui.
Shin Shui hanya tersenyum memandang wanita itu lalu melirik ke tangan kanannya yang kini sedang dipegangi oleh Kwei Moi.
"Ehhh … emmm … maaf, aku tidak sengaja. Tapi kalau kau akan membantuku, ini bukanlah hal yang mudah. Dan aku tidak memiliki apa-apa untuk membalas jasamu," tuturnya yang agak malu-malu karena kejadian barusan.
"Kau ini kenapa? Aku tidak berharap imbalan apapun darimu. Aku membantu karena sesama manusia harus saling tolong menolong, seperti yang aku bilang tadi. Lagi pula, membasmi kejahatan memang sudah kewajiban bagiku seperti apa yang diamanatkan oleh guru," ucap Shin Shui sambil tersenyum lembut ke wanita cantik tersebut.
"Emmm … begitu ya. Baiklah, terimakasih Shin Shui. Semoga aku bisa membalas semua kebaikanmu suatu hari nanti," ucapnya sambil membungkuk hormat.
Entah kenapa, ada perasan aneh dihati pendekar wanita itu. Jantungnya mendadak berdebar jika memandang wajah Shin Shui.
Tiba-tiba saja dia pun membalas senyuman Shin Shui dengan lembut. Bibir mungilnya begitu indah saat tersenyum, pipinya mendadak merah seperti tomat.
Tatapan dan bola matanya yang hitam bulat, sungguh seperti bisa membius siapapun yang melihatnya. Rasanya, dengan tiba-tiba saja pendekar wanita itu mendadak lebih cantik daripada tadi. Ah sudahlah, rasanya dia memang mirip bidadari.
"Perjalanan ke kotamu memakan waktu beberapa hari bukan? Kalau kau tidak keberatan, mari kita lanjutkan perjalanan sambil mencari-cari tempat makan," ajak Shin Shui yang sedikit gugup saat memandangi wanita itu karena tersenyum dan memandangnya dengan cara seperti barusan.
__ADS_1
"Ahhh … kau benar. Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan lagi," balas Kwei Moi.
Kedua pendekar muda itu langsung berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dan beranjak dari tempat itu untuk meneruskan perjalanan lagi.
Hanya beberapa saat saja mereka sudah keluar dari hutan tadi. Kini keduanya sudah tiba disebuah desa yang entah apa namanya. Yang jelas keadaan disana terbilang cukup ramai.
Tak perlu lama untuk mencari sebuah tempat makan karena memang banyak para warga yang berprofesi sebagai pedagang dan lain sebagainya.
Setelah menemukan tempat makan yang dirasa cocok, Shin Shui dan Kwei Moi pun lalu masuk kesana dan langsung memesan menu makanan.
Keadaan di tempat makan itu pun cukup ramai ternyata, banyak para pendekar dan para pedagang yang makan disana. Keduanya pun lalu memesan menu makanan.
Tak perlu lama, pesanan mereka sudah tiba. Bau harum yang begitu menggoda rasanya tak mampu membuat Shin Shui bertahan lebih lama.
Setelah selesai menyantap makanan, kini keduanya sedang menikmati seguci arak yang harum wangi. Arak itu memang arak terbaik karena Shin Shui memang sengaja memesannya.
Shin Shui dan Kwei Moi berbincang santai sambil menikmati arak terbaik tersebut. Keduanya membicarakan masalah dalam dunia persilatan dan lain sebagainya. Yah … biasalah, bicara apa saja yang penting memecahkan keheningan supaya terlihat lebih dekat lagi.
Setelah selesai, Shin Shui pun hendak membayar ke kasir. Tapi sebelum dia dia beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba ada seorang pendekar yang menghampiri dirinya.
"Ah … tuan muda, bolehkah jika kau pesankan arak untukku? Aku ingin pesan arak tapi perbekalanku tidak cukup," ucap pendekar itu yang sudah agak tua dengan kumis baplang dan sedikit gendut.
Shin Shui awalnya heran, padahal sama sekali dia tidak mengenal orang itu. Tapi karena dia tidak berpikir panjang, pemuda biru itupun mengiyakannya lalu berjalan ke kasir untuk membayar dan memesankan arak untuk orang aneh tadi.
__ADS_1
Kasir pun mengerti, dia segera memanggil pelayan lain dan memberikan arak pesanannya kepada Shin Shui karena memang dia yang meminta.
Shin Shui pun lalu menghampiri dimana orang aneh tadi duduk dengan seorang temannya. Dia lalu memberikan arak yang kini dipegangnya.
"Terimakasih tuan muda. Kau memang kaya sekali," ucapnya sambil tertawa.
Tapi di sisi lain, tatapan mata kedua orang itu menjadi sedikit aneh dan seperti mengartikan sesuatu. Terlebih rekannya. Dia memandang Shin Shui dari atas sampai bawah dengan tatapan dingin lalu tersenyum menyeringai.
Sepertinya mereka ada niat buruk kepada Shin Shui. Apalagi setelah menyadari bahwa pakaian yang dipakai pemuda biru itu memang terbilang pakaian orang kaya.
Memang tidak salah apa yang kedua orang itu curigakan, karena pada kenyataannya pun Shin Shui memiliki banyak harta pada Cincin Ruangnya. Tapi yang salah adalah siapa orang yang akan mereka mangsa jika memang keduanya ada niat buruk.
"Tidak perlu sungkan paman. Selamat menikmati arak terbaik itu, aku pamit undur diri untuk meneruskan perjalanan lagi," kata Shin Shui.
"Kenapa kau tidak ikut minum? Memangnya kemana arah tujuanmu?" tanyanya.
"Ah tidak, terimakasih. Aku akan pergi ke arah utara," jawab Shin Shui dengan jujur lalu pergi dari situ dan keluar, tak lupa juga dia mengajak Kwei Moi yang daritadi sudah menunggu.
"Hei, apakah kau tahu siapa pemuda tadi?" tanya rekan si orangtua gendut dan berkumis baplang, sedangkan dia sendiri bertubuh tinggi dan agak kurus dengan luka codet pada pipi kirinya.
"Tidak, tapi aku yakin dia orang kaya. Buktinya dia tanpa banyak bicara membelikan arak terbaik untuk kita," jawab si gendut.
"Hahaha … kau benar. Kita menemukan mangsa yang empuk kali ini. Memang, aku pun menyangka bahwa dia adalah orang kaya. Terlebih karena pakaian yang dia pakai," timpal si tinggi kurus.
__ADS_1