Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Pendekar Bertopeng Vs Tetua Sekte Bukit Halilintar


__ADS_3

Orang-orang yang ada disana tentu saja kaget mendengar perkataan pendekar bertopeng itu. Hati mereka terus bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok pendekar bertopeng tersebut. Jika dilihat dari zubahnya, itu merupakan zubah zaman dahulu. Tapi dari suaranya, jelas menggambarkan bahwa dia masih terbilang muda.


"Maaf pendekar, apakah kami membuat kesalahan kepada pendekar? Maksud dari tantangan pendekar ini apa? Kami belum mengerti," kata Yashou merendah.


Tentu saja meskipun pendekar tua itu yakin bisa melawannya, tapi dia tidak mau gegabah. Apalagi dia belum mengetahui siapa dan sejauh mana kekuatan pendekar bertopeng yang kini dihadapannya.


"Aku hanya ingin mengetahui sampai dimana kemampuannya. Bukankah kau sendiri yang bicara menerima siapapun yang ingin melakukan pertandingan persahabatan?" tanya pendekar bertopeng tersebut.


"Benar pendekar, baiklah kalau begitu. Siapa yang ingin kau tantang terlebih dahulu?" tanya Yashou.


"Aku ingin menantang ketiga tetua sekaligus. Setelah itu tiga lainnya, lalu aku juga ingin melawanmu. Apakah bisa?" tanya pendekar bertopeng itu.


Orang-orang yang menyaksikan kejadian ini tentu saja merasa geram. Mereka ingin angkat bicara tapi tidak berani, terlebih karena mereka menghormati Yashou.


"Baiklah, jika itu keinginan pendekar. Aku terima tantanganmu," kata Yashou.


Tanpa basa-basi lagi, Yashou segera memanggil ketiga muridnya sendiri untuk pertama menghadapi pendekar bertopeng.


"Lu Xiang Chuan, Lin Zong He, Yiu Jiefang. Kemarilah, kalian mendapat giliran pertama untuk menghadapi pendekar bertopeng ini," ucap Yahsou kepada ketiga muridnya.


"Baik guru." jawab mereka serempak.


Mendengar dipanggil gurunya. Ketiga murid Yashou itu segera melompat ke arena pertandingan. Pakaiannya yang terbilang mewah menjadi perhatian tersendiri bagi kalangan orang-orang yang hadir disana.


Apalagi ketika melihat Yiu Jiefang, mata para lelaki mendadak tidak bisa berkedip. Sebagian bahkan ada yang sampai mengelap air liur yang menetes dari mulutnya ketika terus melihat wajah cantik Yiu Ziefang.


Ketiga murid Pendekar Belalang Sembah tersebut kini sudah berhadapan dengan pendekar bertopeng itu. Mereka sudah bersiap untuk melakukan pertarungan.


"Mari kita mulai." kata pendekar bertopeng itu. Lalu dia mulai mengambil sikap kuda-kuda.

__ADS_1


Ketiga murid Yashou menyerang secara bersamaan menggunakan senjata masing-masing. Mereka dibagi tiga, yang satu menyerang dari tengah, satu lagi kanan, dan satu lagi kiri.


Ketiganya mulai menyerang menggunakan jurus pedang yang dimiliki. Serangannya cukup kuat, bahkan tak jarang setiap serangannya menghasilkan deru angin yang cukup kencang.


Di sisi lain, pendekar bertopeng itu hanya menghindar dan terus menghindar. Dia belum membalas atas serangan dari tiga murid Pendekar Belalang Sembah itu.


Tapi ketiga murid Yashou tidak peduli dengan hal itu. Mereka terus menyerang dengan ganas. Gerakan pedang dari ketiganya membuat orang-orang yang hadir terkagum.


Seiring berjalannya waktu, karena kerja sama ketiganya cukup baik, mereka akhirnya berhasil memberikan sebuah tebasan yang cukup kuat kepada punggung pendekar bertopeng.


Tapi yang terjadi berikutnya sangat membuat mereka terkejut. Bukannya terluka, bahkan sayatan pedang itu tidak membuat zubah perangnya tergores. Yang ada malah sebaliknya, pedang yang digunakan salahsatu murid Yashou patah menjadi dua bagian.


Tidak ada yang tidak terkejut atas kejadian ini. Bahkan Yashou sendiri pun terkejut.


"Siapa dia sebenarnya? Bahkan zubah perangnya saja lebih keras daripada baja." gumam Yashou.


Belum sempat terjawab tentang siapa pendekar bertopeng tersebut, kini orang-orang disana kembali dihantui pertanyaan besar, sampai dimana kemampuan pendekar itu?


"Cukup. Aku rasa pertandingan persahabatan ini sudah cukup pendekar, mohon kau mau mengerti," kata Yashou.


"Baiklah. Sekarang aku ingin melawan tetua yang lainnya," ucap pendekar itu sembari memandangi ketiga tetua sekte Bukit Halilintar yang tak lain adalah Yun Mei, Wu Chi, dan juga Hong Liong.


"Baik. Mei'er, Wu Chi, Hong Liong. Kemarilah!" kata Yashou memanggil tiga tetua sekte Bukit Halilintar.


"Baik senior."


Ketiganya langsung melompat ke arena pertandingan. Kini mereka sudah berada dihadapan pendekar bertopeng. Ada rasa gentar juga di hati ketiga tetua tersebut. Hal ini terjadi karena mereka sudah melihat pertarungan sebelumnya.


Tapi apa boleh buat? Setidaknya mereka akan membuktikan kepada orang-orang yang hadir disana bahwa sekte Bukit Halilintar memang sudah pantas dan tentunya lulus seleksi.

__ADS_1


"Perkenalkan, aku Yun Mei."


"Aku Wu Chi."


"Dan aku Hong Liong."


Ketiga tetua itu memperkenalkan dirinya masing-masing kepada pendekar bertopeng. Mereka sebenarnya tidak yakin bisa mengalahkan pendekar bertopeng tersebut. Tapi meskipun begitu, setidaknya mereka sudah membuktikan kepada orang-orang yang hadir tentang bagaimana kekuatan sekte Bukit Halilintar.


"Aku pendekar bertopeng. Mari kita memulai pertarungan ini.


Setelah mendapatkan aba-aba bahwa pertarungan persahabatan sudah akan dimulai. Mereka langsung menyerang dengan menggunakan senjata pusaka yang dimiliki masing-masing dari ketiganya.


Ketiganya mulai menyerang pendekar bertopeng. Seperti sebelumnya, para tetua itu melakukan kerja sama untuk menyerang dan memojokkan musuhnya tersebut.


Bedanya adalah kalau tadi pendekar bertopeng diserang dari tiga arah. Maka saat ini mereka melakukan kerja sama untuk menyerang pendekar itu dari arah depan.


Tapi Meskipun begitu. Kerja sama ketiga tetua itu sudah cukup baik. Dimana satu menyerang, satu jaga-jaga dan satu lagi untuk memecah konsentrasi lawan.


Strategi ketiga tetua itu bisa dibilang lumayan. Bahkan orang-orang yang hadir pun cukup terpukau dibuatnya. Karena kerja sama yang stabil, akhirnya mereka sedikit demi sedikit bisa memojokan sang pendekar bertopeng.


Yun mei yang mendapat giliran menyerang ingin menebaskan pedangnya di wajah pendekar bertopeng itu supaya tahu wajah siapa dibalik topeng. Tapi sebelum itu terjadi, pendekar bertopeng menghentakkan kakinya cukup keras sehingga membuat arena pertandingan seperti diguncang gempa yang cukup besar.


Pendekar bertopeng berniat untuk memberikan serangan balasan menggunakan hentakkan tenaga dalamnya yang kini sudah terkumpul di telapak tangan. Tapi lagi-lagi Yashou segera menghentikan pertarungannya.


"Cukup pendekar. Sekarang giliranku yang akan melawanmu," kata Yashou dengan sedikit mengeluarkan hawa pembunuh.


Bagaimanapun juga dia mulai merasa kesal karena pendekar itu belum dapat dikalahkan. Memang, pertandingan ini hanyalah menggunakan setengah tenaga dalam saja supaya tidak menimbulkan efek fatal. Bahkan hanya menggunakan ilmu silat biasa tanpa jurus yang mengerikan.


Tapi meskipun begitu, tetap saja pertarungan ini cukup mendebarkan. Bisa dibayangkan jika melawan tiga tetua saja masih bisa bertahan, apa jadinya jika pertarungan ini menggunakan semua jurus. Mungkin tempat itu bisa hancur oleh mereka.

__ADS_1


Kini orang-orang dilanda berbagai perasaan. Disisi lain mereka senang karena bisa melihat Yashou yang merupakan salahsatu legenda akan bertarung. Tapi disisi lain mereka juga khawatir. Khawatir jika pendekar bertopeng itu akan mengeluarkan kekuatan aslinya.


__ADS_2