Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sayap Dewa Menghancurkan Kegelapan


__ADS_3

Nafsu siapa? Nafsu si Aku tadi. Berapa banyak si Aku yang tidak bisa melawan hawa nafsu sehingga pada akhirnya dia dikuasi nafsunya sendiri? Adakah cara untuk melawan nafsu yang ada pada diri si Aku? Tentu saja ada, jika si Aku punya niatan untuk melawan nafsu itu.


Kalau tidak ada niatan bagaimana bisa untuk melawan nafsunya sendiri. Nafsu pada diri sendiri maka hanya bisa dilawan oleh si Aku itu sendiri. Jika nafsu tidak dilawan, maka nafsu tidak akan tunduk, yang ada nafsu itu malah semakin menjadi.


Seperti halnya sang tetua sekte Siluman, sekarang pun nafsunya sudah semakin menjadi saat selama dia melangkah perlahan ke arah Yun Mei, gadis itu tidak bisa berdiri lagi. Bahkan rasanya untuk bergerak pun susah.


Kini jarak tetua itu sudah semakin dekatnya, dia sudah siap mencicipi tubuh ramping padat tetua dari sekte Bukit Halilintar itu. Tapi sebelum dia dapat menyentuh tubuh Yun Mei, tiba-tiba saja ada angin kencang yang datang menerpa tetua sekte Siluman tersebut.


Bahkan angin itu membawa hawa mengerikan sekaligus dibarengi suara gemuruh halilintar. Yun Mei sendiri pun kebingungan, tapi setelah dia melihat ke atas, gadis cantik akhirnya faham.


Ternyata diatasnya ada seekor burung phoenix berwarna biru yang sedang mengepakkan sayapnya dengan tatapan mata begitu tajam. Benar, burung itu tak lain adalah milik Shin Shui yang dari tadi terbang mengelilingi diatas setelah Yun Mei melakukan pertarungan.


Yun Mei dan tetua sekte Siluman itu sama-sama kaget ketika menyadari bahwa seekor burung yang nampak seperti burung biasa ternyata menyimpan kekuayan dahsyat.


"Burung sialan. Akan aku habisi juga kau …" kata tetua itu dengan marahnya karena saking kesal kesempatan emas untuk mencicipi tubuh sang gadis diganggu.


Dia segera memberikan tebasan-tebasan pedang jarak jauh yang mengeluarkan sinar kuning terang dan deru angin. Tapi sayangnya dia belum menyadari bahwa burung yang menyebabkan dirinya terpental bukanlah burung biasa.


Dengan sigap burung pheonix biru menghindari serangan itu dan bergerak semakin cepat. Sama seperti Shin Shui, burung itu pun kini seluruh tubuhnya sudah diselimuti halilintar sehingga tampak lebih mengerikan.


Semakin banyak serangan yang diberikan tetua itu, burung phoenix biru pun semakin cepat dan semakin aneh gerakannya. Dia terus mengelilingi sang tetua.


Hingga pada suatu ketika burung phoenix biru mundur ke belakang lalu mengepakkan sayap dengan kencangnya. Al hasil deru angin yang lebih besar dari pertama pun mendadak muncul lalu menyerang sang tetua.


"Ughhh …"


Tetua itu terlempar sedemikian jauhnya hingga langsung menabrak tembok benteng pembatas. Bahkan tembok itu terlihat mengalami retakan besar. Tetua itu pun langsung muntah darah, dadanya terasa begitu sakit dan sesak.


Dia mencoba untuk bangkit lalu menyerang kembali dengan gerakan yang cepat. Tapi sebelum dia berhasil mendekat ke burung phoenix biru, dengan tiba-tiba burung itu melesat sangat cepat ke ayahnya lalu membentangkan sayapnya lebar-lebar. Dan …


"Ahhh …" mati.


Tetua sekte Siluman itu tewas dengan tubuh terpotong tepat pada bagian pinggangnya. Tetua itu tewas dengan mengenaskan.

__ADS_1


Sementara itu, Shin Shui pun sudah semakin terdesak oleh serangan ketiga lawannya. Bahkan beberapa kali dia terkena serangan sehingga memuntahkan darah kehitaman.


Percikan kembang api setiap keempat senjata pusaka itu beradu menjadi pemandangan mengerikan tersendiri. Shin Shui terus dipaksa bertahan karena serangan dari tiga sisi memang merepotkan.


Tepat ketika dia merasa semakin terdesak, tiba-tiba kalungnya menyala semakin terang begitupun dengan Zirah Perang Halilintarnya.


Tentu saja ketiga petinggi itu mundur karena takut terjadi apa-apa. Tak lama kemudian cahaya terang itu kembali lenyap dan digantikan dengan tubuh Shin Shui yang diselimuti halilintar lebih besar.


"Kalian yang memaksaku untuk melakukan ini," kata Shin Shui dengan suara menggelar disertai halilintar.


Setelah berkata demikian, tiba-tiba sepasang sayap halilintar miliknya menjadi lebih besar dan lebih besar lagi.


Bahkan arena pertarungan mereka pun sampai tertutup oleh sayap halilintar tersebut, begitu pun dengan Shin Shui sendiri.


"Sayap Halilintar Menutupi Langit …"


"WUSHH …"


Dengan tiba-tiba cahaya biru terang melesat terbang ke atas dengan sangat cepat. Sehingga tidak ada yang menyadari bahwa cahaya biru yang mereka lihat barusan adalah pemuda yang kini menjadi lawan mereka, yaitu Shin Shui.


"Kemana perginya bocah itu?" tanya kepala tetua Tiauw Pang.


Tidak ada yang menjawab atas pertanyaan Tiauw Pang itu, semuanya hanya saling pandang satu sama lainnya.


"Kalian mencariku? Hahaha … aku disini bodoh," kata Shin Shui dengan lantangnya. Suara halilintar sampai sekarang pun tetap terdengar begitu bergemuruh dan semakin menyeramkan.


Ketiga petinggi itu langsung menengadahkan kepalanya ke atas tepat ke sumber suara. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat Shin Shui yang sudah melakukan persiapan untuk menyerangnya.


"Sayap Dewa Menghancurkan Kegelapan …"


"WUSHH …"


"DUARR …"

__ADS_1


Pemuda biru itu terbang ke atas semakin tinggi lalu turun menukik dengan tajamnya dan diteruskan dengan menyerang ketiga petinggi sekte Siluman.


"WUSHH …"


Hanya beberapa tarikan nafas saja Shin Shin sudah dibawah dan melaju dengan sangat cepatnya. Sayap Halilintar yang lebarnya hingga dua puluh tombak itu membentang dengan gagahnya.


"Ahhh …"


"Ahhh …"


Ketiga petinggi itu terpental ke belakang begitu cepatnya bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya hingga menabrak bangunan utama. Bahkan bangunan itu pun langsung rubuh sebagian akibat kuatnya serangan Shin Shui.


Kedua tetua sekte Siluman langsung tewas seketika dengan tubuh yang tidak utuh. Sedangkan Tiauw Pang yang menjabat sebagai kepala tetua itu masih sekarat.


Tapi dengan segera Shin Shui menyerang kembali dengan kepakan sayapnya. Hanya sekali kepakan, kepala tetua itu terpental kembali hingga menabrak bangunan utama dengan sangat telak lalu tewas seketika.


Setelah mengetahui ketiga lawannya sudah tewas, Shin Shui langsung kembali kepada keadaan normalnya. Sepasang sayap halilintarnya perlahan lenyap, begitu pun dengan kilatan halilintar yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Hahhh … akhirnya aku menang. Sepertinya aku memang harus menaikkan kembali pelatihanku karena nanti bakal banyak manusia iblis yang aku hadapi dan tentunya lebih kuat daripada mereka," kata Shin Shui sambil menjelaskan nafas panjang.


Sekarang tetua sekte Bukit Halilintar itu mencoba untuk menenangkan dirinya sesaat. Setelah tenang, dia menengok ke arah dimana Yun Mei bertarung.


Betapa kagetnya Shin Shui ketika melihat Yun Mei tergeletak tak berdaya, buru-buru dia melesat ke arah Yun Mei untuk memeriksa keadaannya.


"Memei, apa yang terjadi? Kau tidak papa kan? Memei …" kata Shin Shui ketika sudah tiba ditempat dimana Yun Mei tergeletak lemah tak berdaya. Pemuda biru itu mulai panik, wajahnya sedikit pucat saat melihat Yun Mei menutup matanya.


###


Mohon maaf jika belum sempurna dan kata-katanya seperti zaman dahulu. Karena memang author membuat novel itu ingin mudah dimengerti layaknya penulis hebat zaman dahulu.


Sehingga pembaca pun bisa merasa nyaman, dan untuk kata-kata yang terselip didalamnya. Maaf, bukan maksud untuk menggurui, tapi author ingin supaya selain membaca novel, tapi ada manfaat lainnya.


Kalau ada kata-kata yang mirip Alm. Kho Ping Hoo, itu memang sengaja, kenapa? Supaya penulis luar biasa itu tidak dilupakan dan dengan harapan, semoga karena sering membaca novelnya beliau, author bisa sepertinya meskipun dengan kekurangan yang masih banyak. Minta doanya ya🙏semoga kalau novel ini sudah tamat bisa buat novel seperti Alm. Kho Ping Hoo🙏

__ADS_1


Untuk novel Cakra Buana, pasti bakal up lagi, mugkin nanti malam. Hanya saja kalau malming agak telat mohon maaf, karena membuat dua novel sekaligus terlebih nuansa berbeda bukanlah hal mudah. Mohon dimengerti ya😁🙏


Salam Manis☕


__ADS_2