Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Perang Besar II: Hemmm … Hanya Tikus Kecil


__ADS_3

Perang besar antara aliansi tiga sekte besar aliran hitam melawan aliansi besar aliran putih semakin berjalan lama semakin menegangkan. Waktu terasa jalan begitu cepat.


Para pasukan dari kedua belah pihak yang menjadi korban sudah berjumlah ribuan. Bau amis sudah tercium dimana-mana, mayat-mayat manusia semakin berserakan dan terinjak-injak.


Semua pemimpin berjuang dengan keras untuk membantai siapapun yang menghalangi mereka. Seperti saat ini, Yun Mei, tetua dari sekte Bukit Halilintar terus bergerak membantai siapapun yang menghalangi pergerakannya.


Dia mengayunkan Pedang Naga Emas dengan semangat yang membara. Aura merah muda yang menyelimuti seluruh tubuhnya menjadikan dia lebih berwibawa.


Wanita itu terus bergerak kesana-kemari sambil mengayunkan pedang pusaka itu tiada hentinya.


"Tarian Dewi Naga …"


"WUSHH …"


Tetua sekte Bukit Halilintar itu mengeluarkan jurus kombinasi hasil latihannya kemarin. Gerakannya yang indah seperti menari membuat pasukan musuh terpukau.


Tapi siapa sangka, setiap kali pedang terayun dan dirinya bergerak, minimal lima nyawa pasukan musuh tewas dengan leher hampir putus. Dia terus bergerak tanpa henti hingga akhirnya menemui lawan yang sebanding dengannya.


"Mengesankan, seorang pendekar wanita yang sangat tangguh dan gagah berani. Akulah lawan yang tepat bagimu bocah," kata seorang pemimpin wanita dari pasukan musuh.


Pemimpin wanita itu kira-kira umurnya sudah hampir enam puluh tahun, rambutnya sebagian sudah putih. Dia memegang tongkat hitam berkepala ular.


Menurut penglihatan Yun Mei, pemimpin wanita itu kira-kira sudah berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap lima. Memang dibawahnya, tapi bukanlah suatu hal mudah untuk bisa mengalahkannya.


"Nenek tua yang cari mati. Tidak usah banyak bicara, tahan seranganku …" kata Yun Mei lalu langsung maju untuk menyerang.


Serangan Yun Mei begitu cepat dan mengarah kepada dada lawan, tapi lawan dengan tenang menahan serangan itu. Kedua senjata beradu untuk beberapa saat hingga keduanya terpental.


Yun Mei terhuyung dua langkah, sedangkan pemimpin wanita itu hampir tiga langkah. Membuktikan bahwa wanita muda itu berada diatasnya sedikit.


Tanpa banyak cakap, pemimpin wanita itu lalu maju menyerang Yun Mei lebih dahulu. Tongkatnya dia putar-putar hingga nampak sinar hitam.


Yun Mei tak mau kalah, dia pun lalu mengeluarkan jurus pedangnya sehingga dua sinar merah muda dan hitam kini beradu.


Gulungan kedua sinat tersebut mengurung kedua pendekar wanita itu. Keduanya sama-sama mengerahkan kepandaian mereka, belasan jurus berlalu. Tapi belum ada yang terlihat kewalahan.


Karena waktu yang singkat dan tidak bisa bermain-main lagi seperti pertarungan biasanya, maka saat ini kedua tetua langsung mengeluarkan jurus terkuat yang masing-masing mereka miliki. Hanya ini cara satu-satunya untuk membuat pertarungan cepat selesai.


"Amarah Dewi Pedang … Tarian Naga Dibawah Pohon Bunga Sakura …"


"WUSHH …"


Yun Mei melesai secepat kilat sehingga terlihat seperti sinar yang berkelebat. Dia mengeluarkan langsung jurus pamungkas.

__ADS_1


"Tongkat Hitam Pembelah Malam …"


"WUSHH …"


Pemimpin wanita itu pun melesat untuk menyambut serangan lawan. Kedua jurus itu bertemu ditengah-tengah hingga menimbulkan ledakan dahsyat.


"DUARR …"


Tanah disekitar mereka bergetar. Para pasukan yang dekat dengan pertarungan terpental ke segala arah. Kedua pendekar wanita itu kembali adu serangan.


Serangan keduanya lebih ganas dan lebih berbahaya daripada tadi. Tongkat dan pedang sudah tak terlihat utuh, kedua pusaka itu lebih mirip sekelebat sinar yang menyambar karena saking cepat gerakannya.


Yun Mei menyerang lawan sambil terus memutarinya, sehingga pemimpin wanita itu dibuat pusing karena lawan terus berputar tiada henti.


Pertarungan keduanya sudah mencapai dua puluh delapan jurus, dan tepat ketika jurus ke dua puluh sembilan, Yun Mei berhasil menggoreskan Pedang Naga Emas ke leher pemimpin wanita itu.


"Ahhh …"


Dia memegangi lehernya yang kini berlumuran darah sebelum akhirnya ambruk ke tanah. Mati.


Pertandingan yang harusnya memakan waktu lama, kini jadi lebih singkat karena keduanya langsung mengeluarkan jurus pamungkas.


Tapi meskipun Yun Mei mendapat kemenangan, tak urung juga seluruh tubuhnya menerima pukulan-pukulan tongkat hitam itu. Sehingga sekujur tubuhnya lebam dan sedikit terluka dalam.


Sehingga satu-persatu tokoh-tokoh dari kedua kubu pun saling berjatuhan. Semua tetua sama seperti Yun Mei, yaitu bertarung dengan langsung mengeluarkan jurus pamungkas yang mereka miliki.


Shin Shui jauh lebih hebat lagi, pemuda biru itu bagaikan seekor harimau yang terluka. Siapapun yang menghalangi jalannya, maka dipastikan akan tewas meregang nyawa.


Seperti sekarang ini, dia sudah dikepung oleh empat tetua atau pemimpin musuh. Empat tetua itu setidaknya berada pada tahapan Pendekar Dewa tahap empat akhir. Sedikit lagi mencapai tahap lima.


Jika yang dikepung bukan Shin Shui, mungkin akan merasa gentar karena pasti pertarungan untuk menjadi pemenang pun butuh waktu lama.


Tapi lain lagi ceritanya jika yang dikepung Pendekar Halilintar, bukannya takut, dia malah mandang remeh musuh-musuhnya.


"Hemmm … hanya tikus kecil. Pergilah dan cari lawan yang setara sebelum aku berubah pikiran," kata Shin Shui sambil tertawa mengejek kepada tetua itu.


"Bocah sombong. Yang harusnya bicara begitu justru kami, menyerahlah sebelum kami kirim kau ke neraka," kata salahsatu diantara mereka.


"Hemmm … 'manusia adalah makhluk yang paling tidak tahu diri'. Jika kalian benar bisa mengirimku ke neraka, maka aku akan merasa bangga dan mati dengan tersenyum," ucap Shin Shui memancing emosi musuh.


"Keparat. Jangan salahkan kami kalai kepalamu terlepas. Itu semua akibat kesombonganmu,"


"Hahaha … mari kita buktikan saja. Disini kita untuk bertarung, bukan berdebat seperti ibu-ibu kampung," katanya sambil tertawa dingin.

__ADS_1


Tentu keempat tetua itu sangat marah mendengar ejekan Shin Shui. Keempatnya lalu menghimpun tenaga dalam yang disalurkan ke seluruh tubuh lalu dikumpulkan pada satu titik.


Keempat tetua benar-benar akan menyerang Shin Shui dengan jurus pamungkas. Aura iblis sudah terkumpul mengelilingi keempatnya dan siap untuk menyerang Shin Shui.


"Rasakan ini bocah sombong. Terimalah kematianmu …"


"WUSHH …"


Tiba-tiba setelah berkata demikian, empat buah jurus berbahaya menyerang dengan kecepatan tinggi ke arah Shin Shui.


"Cihhh … hanya jurus anak kecil," ejek Shin Shui.


Lalu pemuda itu pun siap menerima serangan yang datang itu. Dia masih berdiri tenang-tenang saja, tak lama kemudian empat jurus tersebut sudah menghantam tempat Shin Shui berdiri dan mengenai tubuhnya dengan telak.


"DUARR …"


Debu yang sudah mengepul, kini mengepul lebih tinggi dan lebih tebal lagi. Mereka semua sudah mengira bahwa Shin Shui tewas, tapi siapa sangka, yang terjadi selanjutnya justru membuat empat tetua itu terbengong.


Tiba-tiba dari kepulan debu terlihat ada seseorang berdiri dengan santai, bahkan nampak senyuman mengejek.


"Langlah Kilat Bayangan… Tebasan Pedang Halilintar…"


"WUSHH …"


Shin Shui menggabungkan dua buah jurus dari dua buah kitab. Tiba-tiba pemuda biru itu menghilang dari pandangan, tahu-tahu satu-persatu kepala keempat tetua itu menggelinding sendiri.


"Ahhh …"


"Ahhh …"


Keempatnya berteriak keras berbarengan dengan lepasnya kepala mereka. Mati.


Shin Shui memandangi keempat mayat itu sambil mengejek. Dia sama sekali tidak terluka akibat jurus pamungkas lawan tadi. Hal ini tak lain karena dia sudah mengaktifkan kekuatan Zirah Perang Halilintar dengan sempurna.


Sehingga dia bisa kebal tehadap serangan yang diberikan oleh musuh yang tahapannya berbeda lebih rendah dua tingkat darinya.


Semua pasukan yang menyaksikan hal ini tentu ketakutan. Tapi semuanya terlambat, karena Shin Shui sudah kembali begerak untuk membantai semua musuhnya.


###


Pembaca yang baik, bantuin naikin bintang bisa? Soalnya bintang turun terue, gatau siapa yang turunin:-(


Semoga terhibur🙏

__ADS_1


__ADS_2