
Saat ini Shin Shui sudah tiba di kota Bunga Perak. Kota yang berdekatan dengan ibukota kekaisaran Wei. Hari sudah berganti malam, jadi dia berniat untuk melanjutkan perjalanan besok pagi.
Dia akan pergi ke Restoran Siluman yang juga sebelumnya pernah Shin Shui singgahi. Pemuda itu ingin mengisi perut sekaligus memesan kamar untuknya.
Saat ini Shin Shui sudah tiba di Restoran Siluman, seperti sebelumnya, dia memesan Sup Kelinci Merah. Sup Kelinci Merah adalah makanan yang juga banyak digemari oleh pendekar.
Setelah Sup Kelinci Merah pesanannya telah diantarkan oleh pelayan, Shin Shui segera memakannya mumpung masih hangat. Pemuda itu terlihat sangat lahap sekali saat memakan sup itu.
"Ahhh … kenyang sekali. Tidak ada yang berubah rasanya dari Sup Kelinci Merah, yang ada malah bertambah nikmat saja. Sungguh, jika aku disuruh harus memakan sup ini setiap hari, tanpa berfikir panjang aku akan menyetujuinya. Rasanya … aku tidak akan merasa bosan." gumamnya sendiri sembari mengeluarkan sedikit senyuman saat 'jiwa rakus' pemuda itu keluar.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap Sup Kelinci Merah, Shin Shui langsung berniat untuk beristirahat karena kelelahan. Badanya masih sedikit pegal karena afek dari pertarungan dengan Dewi Laba-laba, padahal sudah dibantu dengan Pil Bulan Purnama dan beberapa sumber daya, pikirnya.
Akhirnya pemuda itu tidur tidak pada posisi yang tepat. Shin Shui tidur tengkurap dengan posisi bokong agak nungging sedikit tinggi. Mungkin semua orang tak percaya bahwa ada seorang pendekar yang bisa tertidur dengan posisi seperti pemuda itu, tapi begitulah kenyataannya.
Mentari pagi sudah terlihat, suara-suara burung dan teriakan para pedagang mulai terdengar. Shin Shui telah bangun dari tidur 'konyol'nya. Dia berencana akan melanjutkan perjalanannya saat sudah selesai sarapan.
"Pelayan … aku pesan Bubur Ayam Kuning seperti sebelumnya." kata Shin Shui kepada seorang pelayan.
Setelah sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Bubur Ayam Kuning pesanan Shin Shui sudah siap. Harumnya rempah-rempah membuat siapapun terasa mendadak lapar. "Silahkan dinikmati tuan muda." kata pelayan itu sembari memberikan Bubur Ayam Kuning kepada Shin Shui.
__ADS_1
"Terimakasih … ini untukmu." kata Shin Shui sembari memberikan beberapa keping emas kepada pelayan itu seperti sebelumnya.
"Ah … tuan muda terlalu baik." pelayan itu sedikit tidak enak saat Shin Shui memberikan beberapa keping emas. Tapi karena pemuda itu memaksa, akhirnya pelayanan tersebut mau menerimanya. "Terimkasih tuan muda, semoga panjang umur." kata pelayan itu sembari memberi hormat.
Shin Shui mulai menyantap Bubur Ayam Kuning, rasa gurih dan lezat benar-benar memanjakan lidah pemuda itu. Setelah selesai menyantap Bubur Ayam Kuning, Shin Shui lalu pergi ke kasir untuk membayar berapa jumlah biaya menginap dan menyantap makanan.
Saat ini dia sudah berada diluar Restoran Siluman, Shin Shui langsung melesat untuk melakukan perjalanannya kembali. Kali ini dia memilih untuk berlari dengan kecepatan sedang. Karena saat ini sudah tidak ada hal yang bisa mengganggunya, jadi tidak ada salahnya kan untuk menikmati pemandangan indah, pikirnya.
Pemuda itu berlari dengan kecepatan sedang. Dia tidak ingin terbang seperti sebelumnya ketika dia meninggalkan istana. Rasanya, berlari lebih menarik daripada terbang, pikir Shin Shui.
__ADS_1
Saat ini dia sudah hampir sampai di ibukota kekaisaran, karena sepanjang jalan tidak ada halangan apapun, hal ini membuat dirinya cepat sampai disana.
Suasana disana benar-benar berbeda daripada sebelumnya. Sekarang banyak sekali orang-orang yang menjajalkan dagangannya di sepanjang jalan. Dahulu yang seperti kota mati, sekarang telah berubah menjadi kota yang benar-benar hidup, pikirnya.