Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Selamat Menyaksikan Pertunjukan Yang Menarik


__ADS_3

Semua orang yang ada disana termasuk rombongan pendekar dan Keluarga Liu kaget bukan main ketika melihat perubahan alam yang secara mendadak tersebut. Baginya fenomena ini benar-benar tidak masuk akal.


Tapi apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur, mereka tidak mungkin lagi bisa lari sekarang. Jadi mau tidak mau rombongan pendekar itu maju menyerang Shin Shi secara bersamaan.


Shin Shui sudah siap sedari tadi, pemuda itu tidak mau berlama-lama, dia segera menggunakan jurus Tubuh Halilintar. Seluruh tubuhnya Shin Shui kini diselimuti halilintar.


"Senior, selamat menyaksikan pertunjukan yang menarik ini. Dan kalian para manusia tidak bermoral, selamat menyaksikan kekejaman Pendekar Halilintar dalam menghancurkan kejahatan diatas dunia," ucap Shin Shui dengan suara mengintimidasi musuh.


Suaranya bagaikan ucapan dewa, setiap dia berkata akan terdengar gemuruh halilintar. Seolah halilintar itu dikendalikan oleh Shin Shui. Pemuda itu tidak mau membuang waktu saat musuh sudah hampir dekat dengannya, dia langsung mengeluarkan jurus halilintar tingkat tinggi.


"Tornado Halilintar …"


"Pusaran Badai Halilintar …"


"DUARR … DUARR … DUARR …"


Suara halilintar menggelegar menyambar bumi, langit bertambah hitam kelam. Angin yang membawa hawa kematian mulai terasa, semua orang bergidik ngeri ketika mengetahui kekuatan Pendekar Halilintar yang sesungguhnya.


Tidak ada yang tidak ketakutan, bahkan para musuh pun merasa bahwa ketakutan sudah benar-benar menghantui mereka. Hanya beberapa waktu saja, para Pendekar Bumi mulai tewas satu-persatu.


"Ahhh …"


"Aaahhh …" 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35. Mati.


Para Pendekar Bumi langsung tewas dengan tubuh gosong menjadi arang karena keganasan jurus Pendekar Halilintar. Memang, perbedaan antara Pendekar Bumi dan Pendekar Dewa sangat sangat terpaut jauh.


Tapi bukan berarti mudah jika melakukan pembantaian mengerikan seperti ini. Apalagi hanya dengan menggunakan dua jurus saja. Biasanya yang bisa melakukan hal seperti ini adalah mereka yang sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap lima.

__ADS_1


Sedangkan Shin Shui? Dia bahkan masih berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan, tapi dengan bantuan Kitab Halilintar dan Pedang Halilintar kekuatannya bisa setara dengan mereka Pendekar Dewa tahap lima.


Rombongan pendekar yang dibawa oleh Liu Wu Zen dan Liu Kay Chen kini hanya tersisa tujuh belas orang saja, termasuk mereka berdua.


Kesemuanya baru sadar bahwa mereka sudah membangunkan monster yang tertidur, badai dan pusaran yang dikeluarkan Shin Shui tadi kini telah lenyap setelah targetnya tewas.


Pemandangan sekarang sudah jauh berbeda dengan sebelumnya, tadi hanya berupa lapangan luas saja, tapi sekarang? Sekarang lapangan itu dipenuhi oleh mayat yang gosong.


"Kenapa kalian terdiam? Tadi kalian bilang akan membunuhku bukan?" Shin Shui angkat bicara setelah musuhnya terdiam karena ketakutan.


"Bedebah … kita serang pemuda itu secara bersamaan," kata Liu Kay Chen.


Mereka semua langsung menyerang dalam bayang-bayang ketakutan, senjata pusaka mereka mulai dikeluarkan. Shin Shui tak mau kalah, dia langsung menyuruh Cun Fei untuk keluar menjadi seekor naga emas, sedangkan dirinya berniat untuk mengeluarkan Pedang Halilintar.


"ROARRR …"


Shin Shui lalu membagi tugas dengan Cun Fei, dia menyuruh naga emas itu untuk melawan tiga Pendekar Dewa dan Pendekar Bumi yang tersisa. Sedangkan Shin Shui memilih bertarung melawan dua Pendekar Dewa dan ayah beserta anaknya, Liu Wu Zen dan Liu Kay Chen.


Pertarungan sudah terjadi kali ini, suara beradunya pedang memercikkan kembang api dan menimbulkan suara yang nyaring ditelinga. Shin Shui langsung menggunakan Tarian Pedang Halilintar untuk melawan keempat pendekar tersebut.


Keempat musuhnya pun kini telah mengeluarkan jurus-jurus pedang yang mereka miliki. Naas … jurus pedang mereka masih jauh dibawah Shin Shui.


Hanya dengan beberapa menit saja, Shin Shui sudah berhasil memberikan luka di punggung Liu Kay Chen. Orang tua itu menjerit keras karena sayatan pedang yang diberikan Shin Shui menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


Shin Shui terus menyerang tanpa henti, gerakannya semakin cepat dan semakin cepat lagi. Para Pendekar Dewa itu sangat terkejut melihat kelihaian Shin Shui dalam bermain pedang.


Bahkan Liu Wu Zen pun merasakan hal yang sama, mereka mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak. Nafas mereka memburu tidak karuan, keringat sudah membahasi tubuhnya masing-masing.

__ADS_1


"Anak ini seperti tidak merasakan kelelahan sama sekali, padahal dia sudah mengeluarkan tenaga dalam dengan jumlah besar, siapa dia sebenarnya?" gumam salahsatu Pendekar Dewa penasaran dengan Shin Shui.


"Kenapa kalian diam? Baiklah, jika begitu biarkan aku yang menyerang lebih dulu," kata Shin Shui berinisiatif untuk menyerang lawanya lebih dahulu.


"Langkah Kilat … Tarian Pedang Halilintar …"


"WUSHH …"


Shin Shui mendadak hilang dari pandangan mereka. Selang berapa menit pemuda itu mendadak muncul dibelakang Liu Kay Chen, tanpa basa-basi lagi Shin Shui langsung menebaskan pedangnya ke arah kepala. Liu Kay Chen yang masih dalam keadaan terkejut tidak dapat menghindar lagi, hingga akhirnya … "ahhh …" mati.


Liu Kay Chen Akhirnya tewas dengan kepala tidak berada pada tempatnya. Liu Wu Zen sangat marah ketika ayahnya terbunuh didepan mata, dengan segera dia menyerang Shin Shui.


Anak dari keluarga Liu itu menyerang tidak beraturan, hanya dengan memiringkan badannya saja Shin Shui bisa menghindari serangan itu.


Shin Shuu mulai geram, dia kini berbalik menyerang Liu Wu Zen, karena perbedaan kekuatan mereka terpaut sangat jauh, hanya dengan beberapa gerakan saja Shin Shui bisa menembus pertahanan Liu Wu Zen.


"Ahhh …" mati.


Liu Wu Zen tewas ditangan Shin Shui dengan jantung pecah. Kedua ayah dan anak yang merupakan dalang dari penyerangan ini telah tewas mengenaskan.


Di sisi lain pun Cun Fei berhasil membunuh lawannya tanpa sisa, mereka semua tewas dengan tubuh yang tidak utuh.


Kini yang tersisa hanyalah dua Pendekar Dewa yang menjadi lawan Shin Shui. Itupun dalam keadaan ketakutan, mereka kini kehilangan arah ketika pemimpin mereka tewas.


Shin Shui berniat untuk menyerang mereka kembali, tapi sebelum serangannya mencapai sasaran, kedua Pendekar Dewa itu tiba-tiba bertekuk lutut dan meminta ampunan pemuda biru itu.


"Ampun pendekar muda, tolong ampuni kami. Kami hanya disuruh saja, kami tidak mempunyai masalah dengan pendekar muda sebelumnya," ucap salahsatu dari mereka.

__ADS_1


"Hemmm …" Shin Shui memicingkan matanya dengan tajam. Pemuda itu memperhatikan kedua Pendekar Dewa tersebut untuk melihat apakah niat meminta ampunnya sungguhan atau hanya siasat belaka.


__ADS_2