Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Sepasang Ular Pemangsa Menuntut Balas


__ADS_3

"Tidak perlu sungkan, sudah sepantasnya bagi sesama manusia untuk tolong menolong dan saling membantu," jawab Shin Shui dengan senyuman.


Cukup lama juga para warga itu merayakan hal ini. Hingga beberapa saat kemudian Shin Shui memutuskan untuk kembali ke kedai makan sebelumnya.


Kedai yang kakek tua tadinya sepi, kini mulai dipadati kembali oleh pengunjung. Tapi sebenarnya pengunjung lain bukan untuk berniat makan, melainkan untuk mencoba berbicara lebih jauh dengan pemuda yang menjadi pahlawan desa Teratai Merah.


Meskipun kebanyakan para pengunjung lebih memesan arak, tapi setidaknya lebih baik daripada tidak ada pengunjung sama sekali.


Melihat antusias para warga yang ingin bicara dan mengenalnya lebih jauh, Shin Shui pun melayani mereka dengan sabar. Sehingga para warga pun semakin kagum terhadap pemuda biru tersebut.


###


Baiklah, kita tengok dulu para perampok yang tadi berhasil dikalahkan oleh jagoan kita, Shin Shui.


Setelah pergelangan tangan kanan kedua pemimpin itu dipatahkan oleh Shin Shui, pada akhirnya mereka hanya bisa mengendarai kudanya dengan tangan kiri saja. Sambil menahan rasa sakit dan ngilu, kedua pemimpin itu masing-masing dalam hatinya saling memaki kepada Shin Shui.


Baru kali ini saja rasanya, dimana kelompok Perampok Ular Hitam bisa dipermalukan sedemikian mudahnya. Apalagi oleh seorang pendekar yang masih muda.


Beberapa kali kedua pemimpin itu hampir jatuh dari kudanya karena kurang keseimbangan, tapi dengan memaksakan diri, akhirnya mereka bisa mengendalikan kuda meskipun hanya berjalan saja.


Sedangkan para anak buahnya sudah sangat ketinggalan jauh dari pemimpin mereka karena hanya jalan kaki saja. Kesemua anak buah itu merasa kapok dan ingin berhenti dari pekerjaan ini pada akhirnya.


Akhirnya setelah kurang lebih setengah jam kemudian, kedua ketua perampok sudah tiba di markas utamanya dimana kepala Perampok Ular Hitam berdiam.


Setelah turun dari kuda, keduanya langsung lari masuk ke ruangan pimpinan mereka dan berniat untuk melaporkan semua kejadian yang baru saja mereka alami.


"Kenapa kalian? Apa yang sudah terjadi?" kata kepala perampok wanita kaget setelah melihat kedua anak buahnya datang dengan wajah pucat.


"Kami … kami dihajar oleh seorang pendekar muda ketua," jawab si Pendekar Golok Merah.


"Memalukan, kenapa kalian bisa kalah? Hanya melawan seorang bocah saja kalian tidak becus," bentak kepala perampok pria.


"Di-dia sungguh hebat ketua, bahkan pendekar muda itu bisa mematahkan golok dengan mudahnya. Bahkan dia melawan kami berdua pun tanpa menggunakan senjata, dia sungguh kuat,"

__ADS_1


"Hemmm … siapa dua sehingga berani mencari masalah dengan Sepasang Ular Pemangsa?" tanya si wanita.


"Kami tidak tahu ketua. Tapi yang jelas dia juga bilang akan menghancurkan seluruh Perampok Ular Hitam bahkan sampai ke akarnya," ucapnya.


"Keparat!!! Sekarang dimana pemuda sombong itu? Biar aku turun tangan sendiri," kata kepala perampok pria.


"Di desa Teratai Merah,"


"Kami akan kesana, sekarang kalian obati saja dulu tangan kalian. Setelah itu baru menyusul kesana," kata si wanita memberi perintah.


Keduanya lalu berniat untuk pergi ke desa Teratai Merah untuk memberikan perhitungan tak lain kepada Shin Shui. Kedua kepala Perampok Ular Hitam itu pergi menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Sehingga tak perlu lama mereka sudah jauh dari markasnya.


Karena desa Teratai Merah termasuk wilayah jajahan mereka, sehingga tak perlu lama kedua kepala perampok sudah tiba disana.


"Siapa yang sudah berani melawan Perampok Ular Hitam? Kalau ada nyali, harap pelakunya keluar!!!" kepala perampok pria berkata dengan marah.


Karena dia menggunakan tenaga dalam saat bicara, sehingga suaranya mampu terdengar ke tempat kedai makan yang kini Shin Shui dan para warga ada disana.


Tentu saja para warga yang tadi merasa lega dan bahagia kini kembali diliputi rasa ketakutan.


"Tenang saja, aku akan melawan mereka. Kalian diam saja dan jangan ikut campur," kata Shin Shui.


"Apakah semua penduduk sini tuli? Apa perlu aku menghancurkan desa ini dulu supaya pahlawan kesiangannya keluar?"


"Siapa kalian?" kata Shin Shui yang tiba-tiba saja sudah berada dihadapan kedua kepala perampok itu. Sehingga keduanya sedikit kaget.


"Siapa kau?" tanyanya.


"Aishh … barusan kalian sendiri memanggil orang yang sudah berani kepada Perampok Ular Hitam, ini aku orangnya. Ada apa?" kata Shin Shui dengan tenang.


"Jangan becanda kau bocah," ucap si pria.


"Apakah aku terlihat bercanda? Tanya saja kepada anak buah kalian yang lengannya sudah aku patahkan," kata Shin Shui.

__ADS_1


Entah suatu kebetulan atau apa, tepat setelah Shin Shui berucap demikian, kedua ketua perampok tadi pun tiba ditempat tersebut.


"Apa benar pemuda ini pelakunya?"


"Be-benar ketua," ucapnya dengan rasa takut saat melirik wajah Shin Shui yang sudah menatapnya dingin.


"Kalian mendengarnya bukan? Memang akulah orangnya. Sekarang, kalian mau apa?" tantang Shin Shui.


"Tentunya aku ingin nyawamu …"


Kedua kepala perampok menyerang Shin Shui dengan tiba-tiba. Untung Shin Shui sudah memperkirakan hal ini, sehingga diam-diam dia juga sudah bersiap jika ada serangan dadakan yang datang.


Gerakan kedua pimpinan itu demikian cepatnya, sehingga tahu-tahu kedua tangan dan kaki sudah hampir mengenai tubuh Shin Shui. Untung saja dia cepat berkelit ke samping kiri.


Harus dia akui bahwa kepandaian Sepasang Ular Memangsa ini lumayan juga. Apalagi keduanya mencapai tahapan Pendekar Dewa tahap empat.


Tak harus menunggu lama, kini pertarungan sengit sudah terjadi. Shin Shui terus dihujani pukulan dan tendangan dari kedua lawannya. Setiap pukulannya seperti mengandung racun, sebab saat hampir mengenai tubuh pemuda biru itu, dia merasakan adanya bau tak sedap mirip racun tingkat tinggi.


Meskipun Shin Shui sudah kebal terhadap racun, tapi jika diserang secara terus-menerus tentu saja cukup merepotkan juga. Sehingga kini dia mulai membalas setiap serangan yant diberikan Sepasang Ular Pemangsa itu.


Gerakan Shin Shui tentunya lebih cepat dari keduanya, sehingga ketiga pendekar itu kini sudah lenyap bersama gulungan sinar dari masing-masing serangan.


Puluhan jurus sudah dilewati oleh ketiga pendekar itu, tapi hingga saat ini belum ada yang terluka. Melihat hal ini, Shin Shui meras gemas juga. Sehingga dia mulai menambah kecepatan serangannya.


Pukulan dan tendangan yang diberikan Shin Shui mengandung tenaga dalam yang kuat, sehingga membuat kedua pimpinan Perampok Ular Hitam cukup kewalahan. Tepat ketika tujuh puluh jurus, Shin Shui beradu tangan dengan pimpinan pria, dan betapa terkejutnya pimpinan itu saat tangannya mati rasa setelah beradu dengan tangan Shin Shui.


Tapi meskipun begitu, mereka tidak mau mengalah. Sepasang Ular Pemangsa mengubah gerakannya menjadi lebih ganas. Kedua pimpinan perampok itu mulai mengeluarkan gerakan silat yang selama ini mereka andalkan, yaitu "Sepasang Ular Mematuk Mangsa".


Gerakannya sangat gesit, bahkan keduanya benar-benar mirip layaknya ular yang akan memangsa buruan. Tangannya menjadi lebih kuat dari sebelumnya, karena melihat lawan sudah serius, Shin Shui pun tak mau kalah.


Pemuda biru itu lalu mengeluarkan jurus-jurus silat dari Kitab Halilintar, hingga beberapa saat kemudian dia berhasil memberikan sebuah serangan tapak kepada kedua pimpinan itu.


"Ughhh …"

__ADS_1


"Ughhh …" keduanya terpental dan mengeluh perlahan saat merasakan dadanya seperti pecah.


__ADS_2