
Shin Shui lalu mengusut darahnya yang keluar di sudut bibir. Kemudia dia berjalan perlahan ke arah lima pendekar yang kina sedang duduk bersender ke pohon sambil memegangi dadanya masing-masing.
Terlihat baju mereka sedikit rusak dan bolong, bahkan dadanya menghitam. Mungkin ini efek energi halilintar yang dikeluarkan oleh Shin Shui, dan mereka tidak kuat untuk menahan serangannya.
"Bagaimana? Mau mencoba lagi? Aku bilang juga apa, bukan aku yang sombong. Kalian lah yang terlalu lemah … hahaha," ucap Shin Shui tertawa mengejek.
Sifat 'gila'nya memang sudah sedarah sedaging. Jadi sangat sulit untuk menghilangkan sifat itu. Terlebih memang inilah ciri khasnya, yaitu doyan memancing emosi lawannya.
"Uhukkk …"
Satu dari lima pendekar muntah darah kehitaman dengan jumlah cukup banyak.
"Tutup mulutmu bocah. Ini hanyalah kebetulan saja, biarkan guru kami yang akan membalasmu," ucap salahsatu pendekar.
"Hahaha … mau tewas pun kau masih saja menyombongkan diru. Sungguh tidak tahu malu," kata Shin Shui.
"Kauuu …"
"Hahaha … tenang saja, aku tidak akan membunuh kalian."
"Tapi akulah yang akan membunuh kalian semua manusia iblis," kata pendekar wanita yang kini sedang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Aishh … nona, baru saja aku berniat berkata demikian," ucap pemuda biru itu sambil tersenyum.
"Terimakasih pendekar, biar tanganku sendiri yang membunuh mereka," katanya.
Belum sempat kelima pendekar tadi berkata, tiba-tiba dengan gerakan sangat cepat, pendekar wanita itu sudah tiba dihadapan kelimanya lalu mencabut pedang dan menebas leher kelima pendekar.
Seperti sebelumnya, kelima pendekar itu pun tewas dengan luka goresan di leher yang hampir memutuskannya.
Kini tamatlah sudah riwayat ketujuh pendekar yang mengeroyok seorang pendekar wanita. Sekarang yang ada disana hanyalah Shin Shui dan pendekar wanita itu sendiri.
Setelah pertarungan selesai, secara tiba-tiba burung phoenix biru pun datang kembali kepada tuannya dan langsung bertengger di pundak Shin Shui.
"Tidak perlu berterimakasih nona. Sudah sepantasnya kita saling tolong menolong. Namaku Shin Shui, kau sendiri?" tanyanya.
"Ahhh … nama yang bagus. Namaku Kwei Moi," jawab pendekar wanita yang mengaku bernama Kwei Moi.
"Baiklah, salam kenal Kwei Moi. Maaf, kalau tidak keberatan … apakah aku boleh tahu masalah apa yang menimpamu? Sehingga ketujuh pendekar tadi begitu nafsu untuk membunuhmu," tanya Shin Shui yang penasaran.
Kwei Moi tidak langsung menjawab, dia terlihat berfikir dahulu. Mungkin masalah yang pendekar wanita itu hadapi cukup rumit, pikir Shin Shui.
"Hahhh …" Kwei Moi menghela nafas terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, aku berasal dari kota Qin-Dong, jarak dari sini kesana kira-kira sekitar lima mil jauhnya. Letak kota itu berdekatan dengan gunung Es, sebuah gunung yang selalu menyebarkan hawa dingin. Singkat cerita, disana berdiri sebuah perguruan yang kini amat terkenal dengan kekejaman dan pemaksaannya karena memang perguruan itu beraliran hitam. Namanya Perguruan Tapak Es, karena pendiri perguruan itu atau lebih tepatnya guru dari ketujuh pendekar yang kita bunuh barusan sangat kuat, jadi tidak ada yang berani mencari masalah dengan Perguruan Tapak Es meskipun tindak-tanduknya tidak manusiawi."
"Dimana pendiri sekaligus guru besarnya yang berjuluk Dewa Es Sesat sangat gemar memeras rakyat bahkan para pejabat pun mereka peras. Selain itu, dia juga gemar memaksa para wanita untuk menjadi istrinya, tidak peduli wanita itu bersedia atau tidak, yang jelas dia akan berusaha mendapatkannya dengan segala cara."
"Salahsatu korbannya adalah aku sendiri. Beberapa waktu lalu aku dipaksa untuk menjadi istrinya, tapi tentu saja aku tidak mau. Pada akhirnya dia mengutus beberapa muridnya yang memiliki kemampuan tinggi untuk memaksaku supaya mau menjadi istri Dewa Es Sesat itu"
"Bahkan mereka tidak hanya memaksaku untuk menjadi istrinya saja, mereka juga menyandera ayahku supaya aku mau. Tapi ayah menyuruhku untuk melarikan diri, dan dia ditawan disana sampai aku datang menjemput ayah. Pada akhirnya sampailah aku disini dan bertarung dengan mereka, untung saja kau menolongku. Jika tidak, entah bagaimana nasibku," kata Kwei Moi menjelaskan masalah yang menimpanya kepada Shin Shui.
Ternyata memang benar dugaan Shin Shui, pendekar wanita yang tak lain adalah Kwei Moi itu memang sedang dalam masalah yang rumit.
"Lalu, sekarang apa yang ingin kau lakukan Kwei Moi?" tanya Shin Shui.
"Sebenarnya aku ingin menyelamatkan ayah, karena aku yakin ayah masih hidup. Tapi aku bingung, dengan kekuatanku saat ini yang baru mencapai Pendekar Dewa tahap empat, tentunya itu tidaklah cukup sama sekali," kata gadis cantik itu sambil memperlihatkan kesedihan.
"Hemmm … sebelumnya aku mau bertanya, apakau kau tahu tentang gunung San-ong yang terletak di Timur perbatasan?" tanya Shin Shui.
"Ahhh … bukankah yang kau maksud itu perbatasan kekaisaran Wei dengan kekaisaran Sung?"
"Benar. Apakah kau mengetahuinya?" tanya Shin Shui yang langsung antusias.
"Tentu saja aku tahu. Dari kota kelahiranku jarak kesana paling hanya membutuhkan waktu dua minggu saja," kata Kwei Moi menjelaskan.
__ADS_1