Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Tiga Tahun di Gunung Siluman


__ADS_3

Waktu terus bergulir, detik berganti menit, menit berganti jam. Hari berganti minggu, lalu berganti bulan, hingga akhirnya berganti tahun. Tak terasa tiga tahun sudah Shin Shui meninggalkan Bukit Awan, itu artinya dia juga sudah tiga tahun tinggal di Gunung Siluman.


Sekarang kondisi pemuda biru itu sudah jauh berbeda. Ototnya sudah jelas terlihat, wajahnya menjadi lebih tampan, kekuatannya pun bertambah dengan cepat, hanya dalam tiga tahun dia sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir.


Padahal jika pendekar biasa, mereka akan membutuhkan waktu setidaknya tiga kali lebih lama hanya untuk menembus satu level tingkatan ke tingkatan berikutnya. Sumber daya yang diberikan gurunya dulu memang sangat berguna untu Shin Shui.


Terlebih Pil Legendaris. Pil Legendaris adalah pil pada masa lalu yang pernah diceritakan Lao Yi kepada Shin Shui. Pil itu sangat berguna untuk meningkatkan level pelatihan seorang pendekar dengan singkat.


Dimana setiap satu pil bisa membantu mereka para Pendekar Dewa untuk menembus tingkatan selanjutnya. Inilah salahsatu rahasia kenapa Lao Yi bisa mencapai Pendekar Dewa tahap tujuh dengan singkat.


Tapi tidak semua pendekar bisa mengkonsumsi Pil Legendaris, hal ini terjadi karena efek yang ditimbulkan pil tersebut sangatlah berbahaya. Jika seseorang yang mengkonsumsinya tidak bisa menahan energi yang masuk, maka dia bisa dipastikan tewas seketika.


Ditambah pil ini tidak dimiliki setiap para pendekar, menurut Lao Yi, hanya mereka para pendekar yang bergelimang harta saja yang mampu memiliki Pil Legendaris. Bagaimana tidak, satu pil saja seharga 400.000 keping emas. Tentu saja siapapun akan berfikir dua kali untuk membelinya bukan? Apalagi tidak ada jaminan bahwa seseorang bisa tahan terhadap energi dari pil tersebut.


Dibalik cepatnya Pil Legendaris untuk menembus tingkatan selanjutnya, ada efek samping yang begitu mengerikan. Apapun sesuatu yang dilakukan pasti akan ada resiko. Semakin besar kau melakukan sesuatu, maka semakin besar juga resiko yang akan didapat.


Saat ini, Shin Shui berniat untuk menuju goa yang dulu pernah disebutkan Cun Fei, dimana goa tersebut menjadi tempat berdiamnya siluman peliharaan legenda terkuat pada zaman dahulu.


Karena pemuda biru itu tidak mengetahui letak pasti goa tersebut, maka dia berniat untuk menanyakan hal itu kepada Cun Fei. Shin Shui langsung menyuruh jelmaan naga emas itu keluar dari sarangnya.

__ADS_1


"Senior, dimana letaknya goa yang dulu kau maksud? Aku ingin kesana sekarang," kata Shin Shui ketika Cun Fei sudah berada didepannya.


"Kalau aku tidak salah, goa tersebut terletak di ujung hutan sebelah utara Gunung Siluman. Jika disana kau melihat ada tumpukkan batu yang hampir tertutup oleh tumbuhan, maka itulah pintu masuk goa," kata Cun Fei memberitahu dimana letak goa yang dimaksud.


"Baiklah, aku akan kesana sekarang. Terimakasih senior, sekarang kau boleh kembali lagi. Biarkan aku berusaha sendiri untuk mendapatkan zirah itu," kata Shin Shui.


"Baik Shui'er. Eh tu-tunggu, kenapa aku merasa tertekan ketika didekatmu? Sekarang kau berada pada tahapan berapa?" tanya Cun Fei.


Jelmaan naga emas itu merasa aneh sekarang, sebab dia belum pernah sebelumnya merasa tertekan ketika berada didekat Shin Shui. Jika saat ini dia merasa tertekan, maka berarti …?


"Hehehe … aku sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir," kata Shin Shui bangga.


"Aku serius senior. Aku tidak bercanda," ujar Shin Shui dengan wajah serius.


'Shui'er ini benar-benar seperti gurunya, senior Lao Yi. Guru dan murid sepertinya sama-sama bukan manusia, mereka lebih pantas disebut titisan para dewa.' batin Cun Fei.


"Kau sungguh membuatku terkejut Shui'er. Aku yakin, jika kau sudah memiliki Zirah Perang Halilintar, maka pendekar yang bisa mengalahkanmu di kekaisaran Wei dapat dihitung jari," kata Cun Fei dengan bangga.


"Senior terlalu berlebihan memujiku. Aku akan berangkat sekarang senior," kata Shin Shui.

__ADS_1


Dengan segara jelmaan naga emas itu kembali masuk ke tempat asalnya. Kini yang tersisa disana hanyalah Shin Shui sendiri dan tentunya suara-suara siluman penghuni hutan tersebut.


###


Ditempat lain …


Tepat beberapa minggu lalu, proses pembuatan sekte di Bukit Awan sudah selesai. Kini perguruan itu sudah berubah menjadi sekte kelas menengah. Mungkin beberapa tahun lagi akan menjadi sekte kelas atas.


Sekte yang dibuat Yashou sangatlah megah, bangunannya berwarna biru, benteng yang mewah mengelilingi tempat itu. Setiap ornamen terbuat dari batu giok yang sangat indah.


Bahkan penampilan sekte seperti ini lebih layak disebut sekte kelas atas, bukan lagi menengah. Tapi Yashou menolak untuk mengakuinya, bagaimanapun juga sekte itu baru selesai dibuat. Belum ada kontribusi besar yang sudah mereka berikan dalam dunia persilatan di kekaisaran Wei.


Yang mengalami banyak perubahan fisik ataupun level pelatihan bukan hanya Shin Shui, tapi gadis cantik bernama Yun Mei pun tidak beda jauh dengan pemuda biru.


Sekarang dia sudah tumbuh menjadi gadis yang lebih cantik dan dewasa. Bentuk tubuhnya yang terlihat sempurna seolah tidak mencerminkan bahwa gadis itu adalah pendekar tingkat tinggi.


Sekarang Yun Mei sudah berhasil menguasi seluruh jurus yang tercantum dalam Kitab Tarian Dewi Pedang, level pelatihannya pun sudah mencapai Pendekar Dewa tahap tiga.


Kualitas sumber daya zaman dahulu dan sekarang sangatlah terpaut jauh, hal inilah yang menjdi alasan kenapa orang-orang disana bisa meningkatkan level pelatihan beberapa kali lebih cepat bagi para pendekar biasa.

__ADS_1


Semua para senior disana saat ini minimal sudah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap tiga akhir, sedangkan Yashou sendiri tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Dia hanya berhasil menembus satu tingkatan pelatihannya, menjadi Pendekar Dewa tahap tujuh awal saja. Tapi meskipun begitu, pendekar tua itu mungkin masuk dalam dua puluh besar pendekar terkuat di kekaisaran Wei.


__ADS_2