Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Dewi Pedang Kembar Menuntut Balas


__ADS_3

"Hahaha … ternyata kalian berdua masih mengenaliku juga," kata wanita paruh baya itu yang ternyata bergelar Dewi Pedang Kembar.


Hong Liong dan Wu Chai masih terbelalak matanya karena seorang wanita yang kini ada dihadapan mereka. Tentu keduanya mengenal siapa itu Dewi Pedang Kembar.


Dewi Pedang Kembar dulunya adalah seorang kepala perampok besar yang ditakuti di penjuru bagian Selatan. Sepak terjangnya dalam merampas hak orang lain begitu kejam.


Entah sudah berapa banyak nyawa penduduk dan nyawa pendekar yang tewas dibunuh dengan kedua pedang kembar yang menjadi pusakanya.


Tapi semenjak menjadi istri Raja Iblis Merah ketika kurang lebih dua puluh dua tahun lalu, tiba-tiba saja dia hilang dari dunia persilatan. Mungkin karena dilarang oleh Raja Iblis Merah sendiri.


Dan karena pernikahan itu, dia mendapat satu orang anak laki-laki, yaitu Pangeran Iblis. Meskipun umur Raja Iblis Merah dan Dewi Pedang Kembar sangat jauh, tapi itu bukanlah suatu halangan bagi keduanya.


Yang namanya cinta, umur bukanlah masalah. Dewi Pedang Kembar terkenal dengan kecantikannya sehingga Raja Iblis Merah terpincut padanya.


Sedangkan Raja Iblis Merah terkenal dengan kesaktian dan juga hartanya yang berlimpah. Tentu saja Dewi Pedang Kembar tidak menolaknya. Karena kebetulan pria itu memiliki wajah yang masih cukup gagah.


"Tidak kusangka kau berani menginjakkan kaki sendiri kesini. Sudah puluhan tahun kau hilang dari dunia persilatan, dan sekarang muncul kembali hendak menuntut balas," kata Wu Chai menyindir.


"Hahaha … jangan kau pikir bahwa aku masih sama seperti yang dulu. Aku sudah berbeda, dan kekuatanku pun semakin bertambah setelah menikah dengan Raja Iblis Merah. Aku sengaja hilang dari dunia persilatan karena sudah tidak ada gunanya aku merampok seperti dulu. Tapi ketika anakku terluka parah, tentu aku tidak bisa tinggal diam saja," ucapnya dengan suara sedikit ditekan. Bayangan menyedihkan kondisi anaknya terbayang kembali.


"Hal itu memang sudah aku duga. Tentu setelah menikah kau hidup bergelimang harta. Tentang anakmu, rasanya dia memang pantas menerimanya karena akibat dia sendiri," ucap Wu Chai.


"Tutup mulutmu!!! Sungguh, aku tak menyangka bahwa orang seperti kalian ternyata bisa berpindah jalan. Menyedihkan," ejek Dewi Pedang Kembar.


"Kau … cepat pergi sebelum kami menghajarmu," bentak Hong Liong.


"Aku tidak akan pergi sebelum orang yang melukai anakku mendapatkan balasan yang sama. Hemmm … kau pikir aku takut? Memangnya kalian siapa sehingga berani berkata demikian terhadapku," kata Dewi Pedang Kembar dengan nada mengandung tantangan.


"Kau yang memaksa kami," kata Wu Chai singkat.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi keduanya langsung menyerang Dewi Pedang Kembar dengan tangan kosong. Wanita paruh baya yang sudah memperkirakan hal tersebut, maka bisa dengan mudah menghindari dua serangan yang datang sekaligus.


Pertarungan dua melawan satu pun tak bisa dihindari lagi. Ketiganya kini mulai bertarung dengan jurus-jurus yang mereka miliki.


Wu Chai dan Hong Liong segera menggiring Dewi Pedang Kembar menuju ke luar gerbang. Mereka tidak ingin merusak sektenya sendiri.


Wu Chai dan Hong Liong sudah menurunkan tangan besi kepada wanita paruh baya itu. Serangan dari kedua tetua itu mengandung tenaga dalam tinggi.


Menyadari hal ini, maka Dewi Pedang Kembar pun tak mau main-main lagi. Dia pun turut mengeluarkan separuh tenaga dalamnya untuk menangkis serangan.


Desiran angin tajam turut mewarnai pertarungan ketiganya. Debu-debu mengepul tinggi meliputi arena pertarungan.


Meskipun diserang oleh dua tetua sekaligus, tapi Dewi Pedang Kembar tidak merasa kesulitan karena kemampuannya berada diatas Wu Chai dan Hong Liong sendiri.


Saat ini Dewi Pedang Kembar berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir, sepertiga langkah lagi dia bakal menembus tingkatan baru.


Kini dua tetua dari sekte Bukit Halilintar yang mendapat giliran menyerang. Keduanya sudah memberikan jurus silat tingkat tinggi mereka dan menyerang dengan ganas.


Wu Chai menyerang bagian leher dari depan sebelah kiri, sedangkan Hong Liong menyerang ke bagian perut. Kedua serangan itu sangatlah cepat dan berbahaya.


Tapi dengan sigap Dewi Pedang Kembar menahan serangan mereka. Tangan kanan dan kirinya terus diayunkan keatas dan kebawah mengikuti gerakan tangan lawan.


Dua puluh jurus sudah berlalu, tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda siapa yang akan menang dari pertarungan tersebut.


Cukup lama Dewi Pedang Kembar berada dalam posisi bertahan, sehingga suatu ketika dia melompat mundur lalu kembali melesat untuk menyerang.


Serangan yang diberikan oleh Dewi Pedang Kembar sangatlah cepat dan mematikan. Dia terus mengingat bagian jantung, dua tangannya membentuk cakar yang tajam.


Hembusan angin tajam menerpa ketika dia memberikan serangan tersebut. Sebelum cakarannya menyentuh tubuh lawan, maka akan ada hembusan angin yang tajam mengenai keduanya.

__ADS_1


Dari sini daja bisa ditebak bahwa wanita paruh baya itu mempunyai tenaga dalam yang tinggi. Wu Chai dan Hong Liong terus dihujani pukulan dan tendangan.


Sehingga ketika berada dalam jurus keempat puluh, keduanya benar-benar dalam kondisi terdesak. Tanpa membuang waktu, Dewi Pedang Kembar lalu menyerang ke arah bagian dada keduanya.


"Ughhh …"


"Ahhh …"


Wu Chai dan Hong Liong terpundur lima langkah ke belakang dengan dada yang sakit serta sulit untuk bernafas. Ujung mulut kedua tetua itu mengeluarkan sedikit darah kental.


"Hahaha … hanya dengan kemampuan kalian yang lemah ini berniat untuk membunuhku? Sungguh sangat tidak tahu diri," kata Dewi Pedang Kembar sambil mengejek.


"Sombong!!!"


"SRINGG …"


Kedua tetua itu mengeluarkan sebilah pedang pusaka mereka secara bersamaan.


"Cepat kau cabut pedangmu. Aku tidak ingin membunuh musuh tanpa memegang senjata," kata Hong Liong dengan marah.


Sebenarnya kedua tetua tersebut sangat kaget dengan kekuatan Dewi Pedang Kembar yang sekarang. Tapi sekarang tidak ada waktu lagi untuk membicarakan hal tersebut.


Yang mereka pikirkan saat ini adalah bagaimana cara mengalahkan wanita paruh baya itu. Dibunuh, atau berhasil membunuh. Itu kuncinya bagi Wu Chai dan Hong Liong.


"Bagus, punya juga ternyata. Jangan salahkan aku jika Pedang Kembarku ini berhasil melepaskan nyawa dari tubuh kalian," kata Dewi Pedang Kembar sambil mencabut kedua pedangnya yang memiliki gagang berwarna merah.


Wu Chai dan Hong Liong kini sudah kembali menyerang. Permainan pedang dua tetua itu sungguh lincah dah sulit diikuti gerakannya. Empat senjata pusaka pun sudah beradu. Percikan kembang api serta suara yang nyaring mulai terdengar. Terpaan angin semakin tajam dan semakin besar.


Ketiganya kembali sudah bertarung sengit, sinar pedang dari ketiganya mulai menggulung. Pertarungan sengit pun terjadi lagi. Tapi diluar dugaan, semakin lama Wu Chai dan Hong Liong mulai kerepotan menghadapi Dewi Pedang Kembar.

__ADS_1


__ADS_2