
Jarak Shin Shui dengan harimau biru dan singa merah itu sekitar tiga tombak jauhnya. Tapi hanya sekali lompat dan terkam saja, kedua raja hutan itu sudah bisa menjangkau Shin Shui.
Dan tepat ketika keduanya hampir mengenai sasaran mereka, tiba-tiba tubuh dua raja hutan itu terpental kembali seperti ada yang mendorong.
Kedua raja hutan itu kaget, mereka mundur perlahan-lahan, matanya menatap lebih tajam. Sesekali keduanya juga memperlihatkan taringnya yang tajam.
"Siluman tak tahu diri. Kau pikir bisa dengan mudah melukai tuan kami, langkahi mayat kami dulu, jika kalah, baru kau boleh menyentuhnya," kata San ong dengan gagah yang kini sudah didepan Shin Shui bersama Ong san.
"Tuan muda diam saja, biarkan dua siluman ini kami yang hadapi," kata Ong san.
"Benar tuan muda, tuan muda berdiri dan jadi penonton saja," ucap San ong yang menyetujui ucapan saudaranya itu.
"Aishh … kalian ini. Baiklah, baiklah, aku akan menjadi penonton bersama phoenix biru," kata Shin Shui sambil mengambil jarak.
Kini para siluman sudah saling berhadapan. Bahkan keempat siluman itu seperti memiliki kesamaan, yaitu sama-sama dua bersaudara.
Deru angin kencang tiba-tiba menerpa tempat tersebut. Debu-debu mengepul dan daun-daun kering beterbangan, ada juga sebagian ranting pohon yang patah karena tidak sanggup menahan terjangan angin itu.
Hawa pembunuh dan aura kematian semakin terasa ketika harimau biru dan singa merah itu marah. Keduanya menatap San ong dan Ong san dengan penuh kebencian.
Dua siluman kera bersaudara itupun tak mau kalah. Keduanya membalas tatapan yang diberikan oleh harimau biru dan singa merah. Tatapan kemarahan saling beradu.
Masing-masing dari siluman itu memperlihatkan bagian tubuh yang mereka banggakan, seperti contohnya taring yang tajam. Sepertinya pertarungan antara penguasa gunung dan raja hutan akan segera terjadi.
Harimau biru dan singa merah kembali menerkam dengan kecepatan yang lebih tinggi ke arah dua siluman saudara tersebut.
Gerakannya sangat lincah. Cepat, tentunya mematikan. Cakar-cakar mereka sudah sedemikian tajamnya. Tapi di sisi lain, San ong dan Ong san pun sudah siap.
Bulu keduanya sudah berdiri sejak tadi. Tangan dua siluman kera itu sudah diselimuti energi berwarna merah api yang menyala-nyala.
"***ROARR …"
"ROARR*** …"
Siluman harimau biru dan singa merah mengaum sambil berniat mencakar wajah musuhnya. Tapi dengan mudah dua siluman kera bersaudara itu menghindari serangan tersebut.
Dua raja hutan nampak kesal, mereka kembali menerkam sambil sesekali mencoba untuk memberikan gigitan. Lagi-lagi San ong dan Ong san bisa menghindari serangan mereka.
__ADS_1
Beberapa saat lamanya dua raja hutan itu mencoba menyerang dengan berbagai cara, tapi tetap saja tidak bisa melukai. Jangankan melukai, menyentuh bulu dua siluman kera itu saja belum sanggup.
San ong dan Ong san geram. Mereka berdua mulai membalas serangan-serangan yang diberikan oleh dua raja hutan tersebut.
San ong mendapatkan lawan singa merah, keduanya sudah saling serang. Jurus pukulan dan cakaran mulai mereka perlihatkan. Pertarungan keduanya terlihat seimbang. Sebab mereka sesekali terkena serangan lawan.
Singa merah mencakar menyamping. Dengan mudah San ong melompat mundur ke belakang lalu memukul bagian rahang singa merah itu hingga terpental beberapa tombak.
Singa merah sangat marah, dia mengaum kembali. Tapi auman kali ini lebih mengerikan. Sebab bukan hanya mengakibatkan debu mengepul saja, tapi pohon-pohon yang tidak terlalu besar pun roboh akibat deru angin yang diciptakannya.
Kini tubuh singa merah mulai diselimuti aurs berwarna merah darah. Semuanya merah, apalagi bola matanya. Tapi San ong tidak gentar.
Justru siluman kera itu pun juga mengeluarkan kekuatannya secara penuh.
"Arghh …"
Aura berwarna jingga yang lebih besar bagaikan api membara menyelimuti seluruh tubuhnya. Dua taringnya menjadi lebih panjang, begitupun dengan kuku tangan dan kakinya.
"WUSHH …"
Keduanya melesat secara bersamaan. Kecepatan mereka cukup tinggi, hingga tahu-tahu keduanya sudah bertemu ditengah-tengah.
"ROARR …"
"Arghh …"
Ledakan cukup keras ketika dua siluman itu beradu dengan jurusnya masing-masing. San ong terpental dua tombak ke belakang. Sedangkan singa merah terpental hingga empat tombak.
Tak berhentilah sampai disitu, San ong kembali maju menyerang saat melihat singa merah yang menjadi musuhnya sudah terluka dalam.
"Pukulan Penguasa …"
"WUSHH …"
Tangan kanan siluman kera itu membesar hingga dengan telak memukul wajah singa merah.
"ROARR …"
__ADS_1
Singa itu terpental kembali hingga menabrak beberapa pohon sampai tumbang. Dia mengaum-ngaum perahan sebelum akhirnya diam tak bergerak lagi. Mati.
Di sisi lain, Ong san pun sedang bertarung dengan sengit. Pertarungan keduanya sudah lebih dari dua puluh jurus. Tapi masih terlihat seimbang.
Harimau biru marah, siluman itu mengeluarkan kekuatannya hingga tubuhnya tersebut diselimuti aura berwarna biru kehitaman.
Tak mau kalah oleh saudaranya, Ong san pun mengeluarkan kekuatannya yang tak kalah mengerikan. Seluruh tubuhnya dipenuhi aura jingga yang semakin pekat.
Tatapan matanya bagaikan mata monster. Bulu di seluruh tubuhnya berdiri dan menjadi keras serta runcing, aura kematian sudah mengalir deras keluar dari tubuhnya. Dia sudah siap untuk menerima serangan yang akan diberikan oleh lawan.
Harimau biru sudah mengambil ancang-ancang untuk melakukan sebuah serangan. Amarahnya semakin meluap seperti lahar, ketika dia mengetahui bahwa saudaranya telah tewas dengan kondisi mengenaskan.
"ROARR …"
Harimau biru mengaum lebih keras beberapa kali lipat. Dua buah gelombang energi biru kehitaman membentuk pusaran sudah melesat menyerang Ong san.
Tapi siluman kera itu masih terlihat tenang. Bahkan tersenyum. Lebih tepatnya senyum yang menyeramkan.
"Dua Tangan Menahan Gunung …"
"WUSHH …"
Ong san membuka suara untuk mengeluarkan jurusnya. Kedua tangannya membesar, bahkan lebih besar daripada pukulan San ong tadi.
Dua jurus siluman beradu. Pohon-pohon yang masih kecil tercabut dari akarnya hingga beterbangan. Gelombang angin yang tercipta pun menyapu arena pertandingan.
Tak berhenti sampai disitu, Ong san pun tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi hingga beberapa tarikan nafas saja sudah berada didepan harimau biru itu.
Raja hutan tersebut kaget ketika melihat tiba-tiba musuhnya sudah ada dihadapan, tapi sayangnya dia terlambat untuk mengelak serangan.
Mau tidak mau dia harus menahan sebuah tendangan yang diselimuti api menerpa tubuhnya. Harimau biru itu terpental hingga menabrak sebuah pohon yang ukurannya sangat besar, kira-kira dua ukuran lingkaran tangan orang dewasa.
Pohon itu pun tumbang menimpa pepohonan lain. Bersamaan dengan itu, harimau birupun tewas dengan luka gosong pada perutnya.
Pertarungan telah selesai. Dua penguasa gunung perbatasan itu sudah kembali dalam bentuk normal. Mereka lalu menghampiri Shin Shui dan phoenix biru yang melihatnya dengan kagum.
"Hebat, hebat. Kalian berdua ternyata bisa jadi sekuat ini dalam dalam waktu singkat," kata Shin Shui memuji keduanya.
__ADS_1
"Ahhh … semua ini berkat kemurahan tuan muda yang selalu memberikan makan enak dan sumber daya kepada kami," jawab Ong san sambil memberi hormat.