
"Sombong!!!" salahsatu dari ketujuh pendekar itu membentak Shin Shui saking kesalnya.
Sebenarnya mereka juga cukup kaget bahwa serangan senjata rahasia berupa jarum perak bisa dipatahkan oleh seorang pendekar muda. Karena sebelumnya memang cara ini sangat manjur bagi menyerang lawan secara diam-diam dan tiba-tiba.
Naas, kali ini ketujuh pendekar tersebut mengalami nasib yang sial. Seorang pendekar muda yang tadinya dianggap lemah justru membuktikan bahwa dia sebaliknya.
"Hahaha … bukan aku yang sombong, tapi kalianlah yang terlalu lemah," ejek Shin Shui.
"Tutup mulutmu bocah ingusan!!!"
Setelah berkata demikian, mereka kembali menyerang dan melanjutkan pertarungan yang beberapa saat terhenti. Tapi sekarang berbeda dengan yang tadi.
Jika tadi wanita itu diserang oleh tujuh orang sekaligus, sekarang dia hanya diserang oleh dua pendekar saja. Sedangkan yang lima lagi menyerang Shin Shui secara bersamaan.
Mereka mengepung pemuda biru itu, senjata-senjata berupa golok dan pedang sudah mereka keluarkan. Kelima pendekar itu seperti sudah tak sabar ingin mencincang tubuh Shin Shui.
"Phoenix biru, kau pergilah dulu. Biar aku yang menghadapi semua ini," kata Shin Shui kepada phoenix birunya sambil bersiap-siap.
__ADS_1
Tak berselang lama, kelima pendekar langsung menyerang Shin Shui dengan brutal. Mereka menyerang secara bersamaan dari segala sisi. Sehingga membuat Shin Shui terkepung ditengah-tengah.
Tapi meskipun begitu, pemuda biru itu tidak merasa kesulitan sama sekali. Kelima pendekar aliran hitam itu sudah menyerang. Sabetan golok dan pedang bersinar menyilaukan mata karena terkena sinar matahari.
Kelima pendekar itu menyerang menggunakan kecepatan tinggi, jadi Shin Shui pun harus bergerak cepat untuk menghindari setiap serangan yang datang dan berbahaya itu.
Puluhan jurus sudah berlalu, tapi belum ada satu sabetan baik golok maupun pedang yang berhasil melukai Shin Shui. Tentu saja, karena pendekar muda itu bukanlah pendekar biasa. Andai saja mereka tau siapa pendekar muda yang kini sedang mereka lawan.
Karena bosan berada dalam posisi bertahan, Shin Shui pun melompat ke belakang lalu mengeluarkan Pedang Halilintar miliknya. Pedang yang mengeluarkan kilatan biru halilintar sudah berada digenggaman, kilatan itu terlihat memberikan kesan tersendiri.
"Mari kita mulai pertarungan yang sesungguhnya," kata Shin Shui sambil mencabut Pedang Halilintar dari sarungnya.
Tiba-tiba Shin Shui berlari menyerang mereka dengan sangat cepat. Sehingga hanya beberapa tarikan nafas saja pemuda biru itu sudah ada didepan kelima pendekar dan langsung memberikan serangan-serangan mematikan dengan pedangnya.
Shin Shui menyerang dengan memutar-mutarkan pedang dan tubuhnya ke segala arah. Sehingga kelima pendekar itu mendapatkan serangan Shin Shui dan berada dalam posisi bertahan.
Merasa kewalahan jika menghadapi pendekar muda itu sendirian, tiba-tiba kelima pendekar yang tadinya berpencar itu kini bersatu kembali di tengah-tengah.
__ADS_1
Sepertinya mereka akan mengganti strategi serangannya. Tapi Shin Shui tidak memikirkan hal itu, dia terus kembali menyerang dengan gerakan yang lebih cepat daripada sebelumnya.
Kilatan-kilatan halilintar mulai menyala semakin besar. Kelima pendekar itu terkejut saat senjata mereka beradu dengan pedang musuh. Pasalnya karena mereka semua merasakan tangannya mati rasa dan langsung lumpuh beberapa saat.
Ini menandakan bahwa pendekar muda yang menjadi lawannya kini memiliki kepandaian yang bahkan jauh lebih tinggi dari mereka. Tapi karena sudah keburu nafsu, kelima pendekar tersebut sudah tidak lagi memikirkan hal itu.
Mereka hanya yakin jika menyerang dengan kompak dan bersama, maka kemenangan bisa mereka raih. Kelimanya kembali menyerang bersamaan, hingga sekali lagi senjata kelima pendekar tersebut beradu dengan Pedang Halilintar milik Shin Shui.
"TRANGG …"
"WUSHHH …"
Deru angin menyapu daun-daun kering yang ada disekitar hutan. Percikan kembang api dan suara nyaring kembali terdengar memekakkan telinga.
Shin Shui lalu mementalkan kelima senjata lawan yang kini beradu dengan Pedang Halilintarnya. Dan lagi-lagi kelima pendekar tersebut merasakan betapa tangannya mati rasa untuk yang kedua kali.
Kali ini mereka sadar, pemuda yang mereka lawan ini benar-benar bukan pemuda biasa.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, pendekar wanita yang dibantu oleh Shin Shui sedang berhadapan dengan dua orang pendekar. Pertarungan mereka pun tak kalah serunya, meskipun diserang dua orang pendekar sekaligus, wanita itu tidak terlihat kewalahan sama sekali.
Bahkan pendekar wanita yang cantik itu pun sanggup mengimbangi gerakan kedua lawannya dengan lemah gemulai. Gerakannya yang teratur dan lembut, membuat dia seakan-akan sedang menari ditaman bunga.