
Berbarengan dengan kondisi di kekaisaran, Lao Yi saat ini sedang membopong Shin Shui. Pemuda biru itu sudah pingsan ketika dia baru membawanya pergi.
Sepertinya Shin Shui sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit yang terus menghujani tubuhnya. Meskipun dalam keadaan pingsan, tetap saja darah dari keluar mulutnya.
Karena itulah, posisi Shin Shui diubah. Kini wajahnya memandang ke bawah, supaya darahnya termuntahkan dan tidak tertelan. Dengan kecepatan yang sangat cepat, beberapa saat kemudian Lao Yi sudah tiba disebuah goa tempatnya bersemayam dahulu.
Sebuah goa yang berada di Hutan Larangan. Hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari kekaisaran Wei. Lao Yi lalu masuk ke goa tersebut.
Ternyata kondisi disana tidak banyak berubah, kecuali rumput ilalang yang semakin meninggi dan beberapa tumbuhan rambat semakin memenuhi tubuh goa. Didalam goa pun tidak banyak berubah kecuali banyak tumbuh lumut hijau dan juga sudah dijadikan sarang oleh burung walet dan kelelawar.
Lao Yi masuk semakin dalam hingga dia menemukan pintu ke dimensi lain. Pendekar legenda itu akan membawa Shin Shui ke tempat Hutan Kematian. Dihutan itulah dahulu Shin Shui berlatih.
Hutan yang begitu penuh dengan kenangan bagi guru dan murid itu. Hutan yang mengubah seluruh nasib Shin Shui dari yang lemah hingga seperti sekarang ini.
Lao Yi sudah berada di Hutan Kematian. Ternyata keadaan disana juga tidak jauh berbeda. Kecuali banyaknya pohon yang semakin menjulang tinggi dan banyak pohon-pohon muda yang baru tumbuh.
Di air terjun tempat Shin Shui bertapa dulu, kini sudah dipenuhi oleh lumut. Disekitarnya sudah dipenuhi daun-daun kering yang berserakan. Begitu juga ditempat Lao Yi dulu menunggu Shin Shui dari tapanya, batu tempatnya duduk sudah berdebu dan semakin menua saja warnanya.
__ADS_1
Sejenak Lap Yi memandangi keadaan Hutan Kematian sambil membayangkan masa lalunya bersama Shin Shui. Terasa indah, namun juga terasa sedih. Sedih karena tidak bisa kembali ke masa itu.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan tempat paling bersejarah dalam hidupku ini. Ditempat inilah aku bertahan hidup, ditempat ini pula aku menemukan penerusku," gumam Lao Yi sambil membayangkan kejadian dulu.
Masa lalu memang bukan untuk dilupakan. Karena sampai kapanpun juga, kita tidak akan pernah bisa melupakan masa lalu.
Sekeras apapun masa lalumu, sepahit apapun masa lalumu, kau tidak akan pernah bisa melupakannya. Orang pintar adalah mereka yang bisa mengambil pelajaran dari masa lalunya.
Dan orang bodoh adalah mereka yang tidak bisa mengambil pelajaran dari masa lalunya. Masa lalu itu untuk dijadikan pelajaran, dijadikan sebuah contoh. Bukan untuk dijadikan kesedihan dan berniat dilupakan. Masa lalu akan lupa ketika nyawamu tiada. Bahkan mungkin masa lalu akan selalu teringat jika kau tiada sekalipun.
Jika masa lalumu buruk, jadilah baik dimasa depanmu. Jika masa lalumu baik, maka jadilah lebih baik daripada masa lalumu. Salahsatu kunci hidup adalah mau belajar dan mau mengambil pelajaran.
Meskipun sekarang dalam kondisi terluka berat dan wajahnya pucat. Tapi itu semua tidak menutupi kegagahan dan ketampanan Shin Shui. Wibawa seorang pemimpin besar bisa terlihat oleh Lao Yi dalam diri muridnya itu.
Betapa bangganya seorang guru yang melihat muridnya berhasil. Dan betapa sedihnya ketika guru melihat muridnya gagal. Guru akan bahagia ketika muridnya jadi 'orang'. Sebaliknya, guru akan sangat berduka ketika muridnya gagal untuk menjadi 'orang'.
Setelah 'puas' memandangi muridnya tersebut, Lao Yi mulai mengobati Shin Shui dengan cara menyalurkan tenaga sejatinya. Kedua telapak tangannya didekatkan ke dada Shin Shui.
__ADS_1
Ada dua buah energi berwarna biru keluar dari telapak tangan Lao Yi dan perlahan memasuki tubuh Shin Shui lalu menjalar.
Angin yang tadi berhembus hingga membuat pohon-pohon bergoyang tiba-tiba hilang. Burung yang berkicau merdu tiba-tiba lenyap. Alam seakan diam. Alam seakan berduka melihat kondisi Shin Shui yang sangat mengkhawatirkan.
Cukup lama Lao Yi menyalurkan tenaga sejatinya itu. Karena meskipun dia sudah mencapai tahap Pendekar Keabadian, pastinya berbeda dengan Tuhan. Dia masihlah manusia, manusia yang menjadi 'dewa'. Tapi jelas bukan Tuhan.
Setelah beberapa saat lamanya menyalurkan tenaga sejati, barulah Shin Shui mulai bisa menggerakan kepalanya dan mulutnya seperti hendak bicara. Tapi matanya masih terpejam.
Setelah dirasa cukup menyalurkan tenaga sejati, barulah Lao Yi mulai membetulkan urat syaraf dan juga pusat inti tenaga dalam Shin Shui yang hancur.
Butuh waktu cukup lama baginya, karena membenarkan pusat inti tenaga dalam yang sudah hancur tidaklah mudah. Bahkan mungkin bagi orang lain mustahil. Tapi untungnya hal itu tidak berlaku bagi Lao Yi. Setidaknya dia bisa membuat lebih baik.
Perlahan tapi pasti, 'kerusakan' pada tubuh Shin Shui berangsur membaik dan berjalan normal. Barulah ketika semuanya berjalan kembali, pemuda biru itu mulai bisa membuka mata dan menggerakkan tubuhnya meskipun masih dalam kondisi lemah.
"Ahhh … syukurlah kau sudah sadar Shui'er," kata Lao Yi dengan wajah gembira.
"Gu-guru. Dimana aku, dan bagaimana keadaan istana kekaisaran? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Shin Shui lemah.
__ADS_1
"Kau berada di Hutan Kematian Shui'er. Tenanglah, mereka semua baik-baik saja," jawab Lao Yi sambil tersenyum.
'Bahkan dalam keadaan seperti inipun dia masih memikirkan orang lain,' batin Lao Yi kembali diselimuti rasa bangga pada muridnya itu.