Legend Of Lightning Warriors

Legend Of Lightning Warriors
Eksekusi Mati


__ADS_3

Waktu terus berlalu begitu cepat. Dua hari sudah berlalu. Kini Shin Shui dan Kwei Moi sudah memasuki kota Qin-Dong. Ternyata kota itu lebih besar daripada sebelumnya.


Seperti yang dikatakan para pendekar dua hari lalu ketika disebuah restoran. Kota Qin-Dong ini ternyata memang damai.


Orang-orang hidup dala ekonomi yang berkecukupan. Para pedagang berjejer sepanjang jalan yang mereka lewati. Para pedagang besar baik dari dalam maupun luar kota berkumpul di kota ini.


Mereka menjajalkan dagangannya masing-masing. Para pelancong pun banyak yang berdatangan dari berbagai penjuru kota. Karena memang kota Qin-Dong ini memiliki keindahan yang bukan main.


Harus Shin Shui akui bahwa pemandangan di kota ini lebih indah daripada Bukit Halilintar sekalipun. Gunung-gunung mengelilingi beberapa kota disana.


Hamparan padang rumput dan sungai terbentang luas nan indah. Binatang-binatang ternak riang gembira ketika dibawa ke padang rumput oleh majikannya untuk makan.


Shin Shui dan Kwei Moi terus berlari untuk menuju ke Perguruan Tapak Es. Kedua pendekar yang gemar menikmati keindahan itu, kini sudah tak peduli dengan indahnya pemandangan kota Qin-Dong.


Keduanya terus berlari tanpa berhenti karena tak lain karena waktu yang ditentukan untuk mengeksekusi ayah Kwei Moi telah tiba.


Saat ini hari sudah siang. Dan tepat ketika matahari sudah diatas kepala, maka eksekusi mati dengan cara dipenggal kepala akan dilakukan.


Mengingat ini, hati Kwei Moi menjadi sangat cemas. Entah sudah berapa kali Pendekar Wanita itu meneteskan air mata tanpa sepengetahuan Shin Shui.

__ADS_1


Karena bagaimana pun juga, dia hanyalah seorang wanita yang lemah. Apalagi menyangkut hati. Dia tidak akan bisa menutupi kelemahannya jika tentang hati.


Yahh … hati. Hati adalah sesuatu yang sangat rapuh. Hati adalah sesuatu seperti ranting, sangat mudah sekali untuk dipatahkan.


Tidak ada yang bisa kuat jika bicara hati. Semua orang akan merasa lemah jika membahas hati. Siapapun orang itu. Yang terlihat kuat hatinya bukanlah kuat secara nyata. Tetapi mereka menguatkan. Merasa kuat karena ada alasan-alasan lain. Orang yang kuat pada bagian fisik, belum tentu kuat pada bagian hati. Pasti.


Sampai kapanpun hati tetaplah rapuh. Hati bisa kuat jika orang itu sudah memiliki pondasi yang kokoh. Pondasi yang tahan dengan segala goncangan. Renungi. Maka kau akan menemukan dibalik kata ini. Dibalik sebuah kata, selalu terdapat rahasia.


Tak terasa karena terus berlari tanpa henti, Shin Shui dan Kwei Moi pun sudah hampir tiba ke tempat tujuannya. Jaraknya memang masih jauh, tapi ciri khas dari tempat itu sudah terlihat.


Tepat, ciri khas itu tak lain adalah gunung Es. Sebuah gunung yang selalu memancarkan hawa dingin. Seperti yang dijelaskan Kwei Moi.


Jarak gunung Es dan kedua pendekar muda itu saat ini tak kurang satu kilometer jauhnya. Tapi karena gunung itu sangat tinggi, maka bisa terlihat jelas dari jarak yang jauh.


Tak berselang lama kemudian, akhrinya Shin Shun dan Kwei Moi sudah tiba di Perguruan Tapak Es. Sebuah perguruan yang ternyata cukup besar. Bahkan bisa dibilang luasnya hampir sama dengan sebuah sekte kelas menengah.


Keduanya langsung saja menuju kesana. Ternyata memang benar, disana sudah berkumpul banyak orang yang hadir. Baik dari kalangan pendekar, maupun kalangan biasa.


Karena saat ini akan ada sebuah eksekusi, maka gerbang Perguruan Tapak Es pun dibuka untuk umum. Shin Shui dan Kwei Moi segera masuk kesana.

__ADS_1


Lapangan Perguan Tapak Es begitu luas. Tapi kini sudah dipenuhi banyak orang. Didepan perguruan ada sebuah mimbar yang cukup besar. Selain itu, disana juga sudah berdiri seorang pria tua yang dalam keadaan tangan dan kaki dibelenggu dengan sebuah rantai besar.


Ironis. Hanya kata itu yang pantas terucap untuk pria tua tersebut. Bagaimana tidak? Pria tua itu bahkan mungkin tak pantas disebut lagi manusia.


Tubuhnya kurus kering dan hanya dibalut kulit. Rambutnya kusut. Matanya sayu. Luka goresan sudah tergambar diseluruh tubuhnya.


Dari pancaran matanya, sepertinya pria tua yang tak lain adalah ayah Kwei Moi sudah tidak memiliki harapan lagi untuk hidup.


Melihat ini, Kwei Moi tak kuasa lagi untuk menahan air matanya yang ingin segera keluar. Tiba-tiba dia menangis, tapi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Sedangkan Shin Shui sendiri merasa amat geram melihat orang-orang Perguruan Tapak Es yang memang tidak berprikemanusiaan. Bukan hanya dia sebenarnya, orang-orang yang hadir pun merasakan hal yang sama.


Bahkan mungkin jika mereka tidak diancam, maka sungguh orang-orang itu takkan mau menghadiri acara keji ini. Hanya saja beberapa waktu lalu pihak Perguruan Tapak Es mengumumkan bahwa jika sampai ada yang tidak menghadiri acara eksekusi, maka orang itu akan bernasib sama.


Sungguh terlewat batas memang. Seolah perguruan mereka yang paling kuat. Di kota Qin-Dong mungkin benar. Tapi tidak di kota lainnya. Rasanya, tanpa disadari Dewa Es Sesat sudah menginginkan kematian.


"Hadirin sekalian, sekarang saat untuk eksekusi mati dengan cara dipenggal kepala sudah tiba. Jadikan pertunjukan ini sebagai pelajaran untuk kalian semua. Bahwa siapapun yang berani menentang Perguruan Tapak Es, maka nasibnya akan sama dengan pria tua ini."


"Selain itu juga, pertunjukan ini akan membuktikan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan perguruan kami di kota ini. Maka karena alasan itu, harap warga penduduk menuruti apa kata maha guru Dewa Es Sesat. Tidak ada yang boleh membantahnya. Kami baik, asalkan kalian menurut. Kami berlaku kejam kepada mereka yang tidak tahu rasa bersyukur," kata seorang algojo dengan lantang. Cara bicaranya sengaja dilebihkan supaya orang-orang yang hadir tidak terlalu berpikiran buruk kepada Perguran Tapak Es.

__ADS_1


Pedang sudah dipegang. Pedang itu berbentuk bulan sabit. Pria tua yang merupakan ayah Kwei Moi disered ke depan mimbar yang letaknya berdekatan dengan orang-orang yang hadir.


Hal ini dilakukannya secara sengaja, supaya setiap orang bisa melihat bagaimana sebuah kepala terlepas dari tempatnya dengan jelas.


__ADS_2