
Tidak ada yang berani mengejar ataupun menghentikannya. Semua orang masih terpaku bagaikan patung. Mereka semua yang ada disitu masih belum percaya akan apa yang barusan dilihat oleh mata kepalanya sendiri.
Apakah barusan itu nyata? Atau … hanya sebuah ilusi? Jika dibilang ilusi, tapi memang terasa sangat nyata. Apakah orang yang menolongnya bukanlah manusia? Sehingga bisa dengan mudahnya membunuh, bahkan tanpa bergerak sama sekali.
Berbagai pertanyaan mulai mengelilingi pikiran semua orang-orang sekte itu. Tapi mereka tidak berani bertanya akan hal itu, mereka bukanlah orang bodoh yang berani lancang bicara.
Ternyata bukan hanya orang-orang yang dibantu Shin Shui saja yang terpaku, bahkan pemuda biru itu sendiri pun tak beda jauh dengan mereka.
Dia sendiri masih belum percaya akan apa yang barusan dia lakukan. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa jurus yang belum dikuasai sempurna ternyata bisa dia gunakan dengan baik.
Cukup lama mereka semua terpaku tanpa ada seorang pun yang berani angkat suara. Hingga akhirnya kepala tetua dari sekte Daun Hijau menghampiri Shin Shui sambil memegangi lukanya.
"Terimakasih atas bantuanmu pendekar. Boleh kami mengetahui siapakah nama pendekar?" tanya si kepala tetua sambil memberi hormat dan diikuti murid lainnya.
Shin Shui pun kaget mendengar ada yang bertanya padanya. Buru-buru dia menyadarkan diri dari lamunannya lalu menengok ke asal sumber suara.
"Ahhh … sama-sama, maaf kalau aku lancang untuk ikut campur masalah kalian. Aku hanya tidak suka melihat pendekar melakukan kecurangan dalam sebuah pertarungan. Apalagi aku mendengar bahwa kalian segolongan denganku. Namaku Shin Shui, aku berasal dari sekte Bukit Halilintar," kata Shin Shui sambil tersenyum lalu balas menghormat.
Seketika semua orang yang ada disana tersentak ketika mendengar darimana Shin Shui berasal. Mereka lalu tertegun kembali, seperti mengingat-ingat sesuatu.
__ADS_1
"Ahhh … apakah aku bicara dengan Pendekar Halilintar?" tanya kepala tetua sekte sedikit terkejut.
"Begitulah guru memberikan nama itu padaku, apakah kepala tetua kenal padaku?" Shin Shui balik bertanya karena sedikit heran. Bagaimana dirinya bisa terkenal hingga jauh kesini?
Seketika mereka pun kembali memberikan hormat. Bahkan lebih mendalam lagi, tapi buru-buru Shin Shui menahannya. Dia tidak gila hormat.
"Mari kita bicara didalam saja pendekar," ajaknya. Lalu mereka pun masuk ke sebuah bangunan kuno. Tempat berdirinya sekte Daun Hijau.
"Kita lanjutkan pembicaraan tadi pendekar. Tentu saja kami tahu kepada pendekar. Karena siapapun, pasti sudah mendengar tentang seorang pendekar muda yang sepak terjangnya menggemparkan dunia persilatan kekaisaran Wei. Dan dia dikenal dengan julukan Pendekar Halilintar. Karena itulah, ketika tadi kau menyebut asal darimana, kami menanyakan hal ini. Sebuah penghormatan bagi kami karena bisa bertemu dengan pendekar tersohor sepertimu," kata kepala tetua itu diruangannya.
Ruangan itu tidak terlalu besar. Hanya saja memiliki beberapa lukisan indah, ada empat buah kursi dan satu meja bundar. Mungkin ini biasa digunakan untuk ruang pertemuan.
Ditengah meja juga ada satu guci arak yang wangi. Gelasnya terbuat dari batu giok berwarna hijau bercampur putih.
"Kepala tetua, maaf, apakah aku boleh mengetahui masalah apa sehingga bisa ribut dengan orang yang berpakaian sama. Bahkan aku dengar juga penyerang tadi berasal dari sini. Apakah betul? Tapi jika ini merupakan masalah internal, aku tidak memaksa. Tapi sebelumnya, boleh aku mengetahui namamu?" kata Shin Shui.
"Ahhh … aku lupa. Bahkan sampai-sampai tidak memperkenalkan diri, maafkan aku yang bodoh ini pendekar. Kau bisa menyebutku Pek Ji,"
"Untuk masalah itu … hahhh …" kepala tetua yang mengaku bernama Pek Ji itu menghela nafas sebelum bicara lebih lanjut.
__ADS_1
"Penyerang tadi sebenarnya memang orang-orang sekte Daun Hijau juga tadinya. Bahkan yang tadi menyerang merupakan seorang tetua. Sebelumnya sekte Daun Hijau dipimpin oleh Ji Yeon selama kurang lebih satu tahun,"
"Ji Yeon sendiri pengganti dari pemimpin sebelumnya yang gugur dalam sebuah pertarungan. Ji Yeon baru memimpin sekte ini selama kurang lebih satu tahun. Tapi sayangnya, dia memiliki sifat bertolak belakang dengan para pemimpin sebelumnya,"
"Sekte Daun Hijau sendiri beraliran putih. Tapi ketika dibawah pimpinan Ji Yeon itu, nama sekte kami menjadi tercoreng. Entah sudah berapa banyak kejahatan yang sudah dilakukan oleh anak buahnya. Sehingga suatu ketika, hampir dari semua anggota sekte yang memiliki hati bersih, mengadakan usul untuk menurunkan paksa Ji Yeon sebelum tergelincir lebih jauh,"
"Dan setelah berjuang mati-matian, akhirnya dia bisa diturunkan juga meskipun harus melewati pertarungan terlebih dahulu. Tapi setelah turun jabatan, dia pergi bersama para pengikutnya. Lalu mereka mulai melalukan kejahatan-kejahatan mengatasnamakan sekte Daun Hijau. Dengan tujuan supaya nama sekte ini hancur dan dikira sudah berpindah haluan," kata Pek Ji menjelaskan permasalahan yang sedang dihadapi sektenya.
"Hemmm … manusia memang selalu berambisi. Ternyata cukup rumit juga masalah yang dihadapi sekte ini. Lalu, apakah sekarang jabatan sekte sudah semuanya terisi?"
"Belum. Yang ada malah para tetua dibunuh secara diam-diam oleh mereka. Ji Yeon terkenal sebagai ahli sihir, juga ahli racun, karena ketika muda dia sering mengembara. Karena itulah beberapa tetua sudah berhasil dia bunuh, yang lainnya ada yang masih keracunan. Sedangkan sisanya yang masih normal, aku sendiri. Jadi kekuatan sekte kami sangat lemah sekali," ucapnya dengan nada memelas.
"Benar-benar masalah yang rumit. Aku turut prihatin atas kejadian ini kepala tetua," kata Shin Shui.
"Terimakasih pendekar. Maaf, jika aku berani berkata lancang. Ada sebuah permintaan dariku, apakah pendekar bisa menurutinya?"
"Hemmm … apa itu?" tanya Shin Shui dengan seksama.
"Bisakah pendekar membantu kami untuk menghadapi Ji Yeon dan pasukannya? Aku yakin mereka akan kembali menyerang besok malam. Jika mengandalkan kekuatan kami saja, aku yakin takkan berhasil. Meskipun anggota kami lumayan banyak, tapi semua itu tidak ada apa-apanya dimata Ji Yeon," kata Pek Ji. Suaranya mengandung nada kesedihan, dan wajahnya memancarkan kekhawatiran.
__ADS_1
###
Satu lagi nanti yah🙏